Senin, 17 Desember 2018

Lebak Menuju Kabupaten Ramah Anak

Saat mendengarkan nama-nama siswa berprestasi yang dicapai dalam berbagai cabang lomba, baik olah raga, karya ilmiah, kriya anyam, pidato sampai seni yang hampir semuanya mewakili Provinsi Banten kepentas Nasional bahkan Internasional saat Rapat Paripurna Istimewa HUT Kabupaten Lebak ke-189 yang lalu, sambil memejamkan mata, seolah saya terlempar kemasa 23 tahun yang lalu, saat saya masih di bangku sekolah, mengenakan pakaian Pramuka menyampaikan presentasi dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah tingkat SMA se-Jawa Barat, saat itu saya meraih Juara 1 mewakili Kabupaten Lebak, membawa piala besar Gubernur Jawa Barat ke Lebak.

Terkejut, bangga, bahagia…ternyata urang Lebak bisa oge berprestasi. Untuk anak seusia saya saat itu, juara merupakan hal langka, sayangnya sepi apresiasi, tak ada bonus (haha), hanya diumumkan di hari senin saat upacara bendera. Bangga saya berbalas kecut…terlalu berharap ternyata berbahaya. Sebenarnya hal yang cukup wajar jika siswa berprestasi mendapatkan apresiasi, karena akan memberi motivasi berlipat, apatah lagi di usia muda memiliki prestasi dan mengharumkan nama daerah, dalam berbagai lomba, tentunya akan memunculkan inspirasi untuk generasi selanjutnya.

Saya yakin, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dalam hal ini Bupati Lebak sudah cukup memperhatikan dan memberi apresiasi kepada siswa siswi berprestasi yang telah mengharumkan nama Lebak, dan tentunya juga memberi ruang kepada mereka untuk terus berlatih dengan para pelatih terbaik dan fasilitas yang memadai, untuk mendukung agar prestasi mereka menjadi yang terbaik. Pemenuhan hak anak oleh pemerintah daerah hari-hari ini memang hal yang cukup membanggakan bagi kita, termasuk Pemkab Lebak tentunya.

Bahkan komitmen Pemkab Lebak dalam melindungi hak-hak anak mendapatkan apresiasi dari pemerintah pusat beberapa waktu yang lalu. Pada peringatan Hari Anak Nasional 2017, Kabupaten Lebak ditetapkan sebagai Kabupaten Layak Anak (KLA) oleh pemerintah pusat, karena Kabupaten Lebak sudah memiliki 525 poin sebagai kabupaten layak anak.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Lebak mengatakan, penetapan Lebak sebagai kota/ kabupaten layak anak merupakan hasil kerja keras dan kerja sama dari semua organisasi perangkat daerah (OPD) yang ada di Kabupaten Lebak, dan komitmen Bupati Lebak yang terus mendukung serta mendorong program-program yang menunjang tercapainya kota layak anak.Prestasi ini, menurut saya harus menjadi motivasi bagi seluruh elemen masyarakat untuk konsisten menjaga serta melakukan perlindungan terhadap anak, serta memberikan apresiasi atas prestasi anak.

Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait, saat menghadiri Seminar Nasional di Lebak, mengungkapkan, untuk mempersiapkan dan membangun sumberdaya manusia yang tangguh dan bebas dari segala bentuk kekerasan, perlakuan salah, eksploitasi, dan penelantaran terhadap anak, diperlukan komitmen dan kemauan politik pemerintah (politicall will) serta masyarakat untuk mewujudkan Kabupaten Lebak sebagai kota menuju layak anak.

Diperlukanlangkah-langkah progresif dan terukur, di antaranya seperti membangun dan mempersiapkan proses belajar dan mengajar di sekolah ramah anak. Termasuk layanan kesehatan yang ramah anak serta mengubah cara pandang, persepsi serta paradigama pola pengasuhan keluarga dan masyarakat yang serba otoriter menjadi pola pengasuhan yang dialogis dan partisipatif dalam kehidupan masyarakat.Untuk membangun dan mempersiapkan anak yang berkualitas di masa depan, anak-anak harus ditempatkan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat sebagai manusia berharkat dan bermartabat yang dianugerahkan dan diamanahkan oleh Allah untuk wajib dijaga dan dilindungi.

Disamping itu, pemerintah atas dukungan legislatif harus mempersiapkan infrastruktur dan produk-produk hukum yang berbasis pada kepentingan terbaik anak. Karena anak adalah “investasi” masa depan bagi suatu keluarga dan tentunya bagi suatu bangsa. Mereka adalah calon pemimpin bangsa ini di masa yang akan datang. Oleh karena itu, perlu penanganan yang serius dan terintegrasi secara menyeluruh agar anak-anak ini tumbuh menjadi pribadi yang sehat lahir batin serta mampu menghadapi tantangan zaman yang semakin berat ini.

Kabupaten/Kota Layak Anak merupakan sebuah usaha nyata untuk dapat memberikan anak-anak, sebuah penghidupan yang layak sehingga mereka dapat tumbuh kembang secara optimal. Merupakan kota yang menjamin hak setiap anak sebagai warga kota. Anak juga berhak untuk menerima pelayanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan, air minum sehat, dan akses terhadap sanitasi yang baik, terlindungi dari eksploitasi, kekejaman dan perlakuan salah. Juga aman berjalan-jalan di jalan, bertemu dan bermain dengan temannya, mempunyai ruang hijau untuk tanaman dan hewan, hidup bebas polusi, berperan dalam kegiatan budaya dan sosial, dapat mengakses setiap pelayanan tanpa memperhatikan suku bangsa, agama, kekayaan, gender dan kecacatan.

Menurut data, jumlah anak di Kabupaten Lebak saat ini mencapai 618.900 Jiwa, merupakan generasi emas masa depan yang berkualitas dan religious. Saya cukup apresiatif dan menyampaikan rasa bangga terhadap berbagai prestasi yang telah di raih anak-anak di Kabupaten Lebak yang tidak saja mampu bersaing di tingkat Provinsi, tingkat Nasional, bahkan mampu meraih prestasi di tingkat Internasional.
Kita bersyukur upaya Kabupaten Lebak telah menuju arah yang tepat.

Kepala Bappeda yang jugaKetua Gugus Tugas Kabupaten Layak Anak Kabupaten Lebak, menyampaikan bahwa strategi yang harus ditempuh menuju Kabupaten Layak Anak adalah mengarusutamakan hak anak ke dalam kebijakan, program dan kegiatan pembangunan, yang diawali dari tahap perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi dengan mengacu pada prinsip prinsip hak-hak anak.

Menurutnya, beberapa faktor kunci yang menentukan keberhasilan Program Kabupaten Layak Anak (KLA) adalah :Adanya Kebijakan, Dukungan Politis dan Komitmen dari Para Pengambil Keputusan dari Kota/Kab sampai Kelurahan dan Desa; Perencanaan dan Penganggaran yang berpihak pada Hak Anak; Kapasitas Kelembagaan dan SDM yang memadai; Anak anak secara aktif ikut berperan serta dalam proses pembangunan; Kemitraan dengan seluruh pemangku kewajiban, LSM, Ormas, Media, Swasta, Toma, Toga dan Masyarakat serta keluarga itu sendiri; Koordinasi yang efektif antar program dan instansi serta para pemangku kepentingan; Secara terus menerus dan konsisten melakukan Monitoring, Evaluasi, Supervisi; Dibangunnya dan berfungsinya fasilitas fasilitas umum yang layak anak seperti, sekolah, puskesmas, rumah sakit, tempat bermain dan rekreasi, pasar, swalayan, dsb; Ketersediaan data dan sistem informasi anak yang terpilah dan berkelanjutan; Keterlibatan Camat dan Kepala Desa/Lurah secara aktif.

Ditambah, untuk Mewujudkan Kabupaten Layak Anak maka perlu peran para pihak : Lembaga Legislatif, Memberikan dukungan dan persetujuan serta pengawasan terhadap kebijakan, program, kegiatan dan anggaran pelaksanaan KLA; Institusi Penegak Hukum, Kepolisian daerah, Kejaksaan Tinggi dan Pengadilan Negeri, berperan sesuai tugas dan kewenanangannya untuk mendukung pelaksanaan KLA; Organisasi Non Pemerintah dan Organisasi Kemasyarakatan, Peran pentingnya adalah untuk melakukan advokasi dan menggerakkan masyarakat untuk mendukung pelaksanaan KLA; Dunia Usaha, Merupakan kelompok potensial dalam masyarakat yang menerapkan prinsip prinsip KLA dan menfasilitasi dukungan pendanaan antara lain yang bersumber dari alokasi Corporate Social Responsibility (CSR) untuk mendukung pelaksanaan KLA; Masyarakat dan Anak, Bertanggungjawab Mengefektifkan dan turut serta dalam pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi KLA dengan memberikan masukan berupa informasi yang obyektif.

Serta dirumuskan beberapa usulan pendukung antara lain :Menginventarisir kebijakan daerah di masing-masing OPD yang terkait dengan Kabupaten Layak Anak; Lembaga Paud sejumlah kurang lebih 724 lembaga yang tersertifikasi diharapkan mampu menjadi kunci dan dihimbau untuk mengintegrasikan dengan POSYANDU, BKB, Sehingga mampu menjadi PAUD Holistik sesuai dengan indikator KLA.

Selain itu perlu didorong dengan penyediaan Alat Permainan Edukasi (APE); Membuat kebijakan terkait percepatan akte kelahiran gratis; Membuat kebijakan terkait dengan kawasan bebas rokok, ruang terbuka publik; Membuat kebijakan pelarangan jajan di luar kantin sekolah; Melakukan pelatihan dan sosialisasi kepada supir angkot, becak untuk menjadi supir ramah anak, dan menghimbau untuk memutar musik anak-anak pada jam-jam sekolah di dalam kendaraan; Melakukan pemetaan sekolah ramah anak dan membuat zona aman sekolah pada tahun 2018; Mengintegrasikan program taman desa, menjadi taman ramah anak, dalam upaya mengejar indikator desa dan kecamatan ramah anak; Membuat percontohan puskesmas ramah anak, pada puskesmas DTP; Membuat program acara anak di Radio Daerah; Menyediakan ruangan perpustakaan khusus anak di Perpustakaan Daerah Kabupaten Lebak; Merekomendasikan untuk membuat Kawasan Wisata Ramah Anak.

Berbagai upaya terus dilakukan oleh Pemkab Lebak, termasuk upaya meluncurkan sekaligus meresmikan angkutan umum layak anak, bagi saya program ini sangat perlu kita apresiasi, karena di adakan untuk menjaga keselamatan anak anak. Supir yang mengendarai angkutan tersebut dilarang merokok, dan melarang mendengarkan musik terlalu keras yang di khawatirkan mengganggu penumpang yakni ibu-ibu hamil maupun anak-anak. Kemudian digagasnya Sekolah Ramah Anak,sebagai model pembelajaran yang menerapkan konsep “children centered”. Sekolah yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat tentang sistem pendidikan yang relevan untuk masa kini dan kemungkinan juga untuk masa-masa yang akan datang.

Taman Ramah Anak

Ke depan perlu pula digagas adanya Taman Ramah Anak, Semoga wahana bermain dikawasan Plaza Lebak Mandala memenuhi harapan ini. Namun untuk memotivasi kita, ada baiknya kita bercermin ke daerah lain. Misalnya, Alun-alun Malang, ruang publik di jantung kota ini dulunya kumuh dan mesum, kini hijau dan penuh fasilitas menarik. Semuanya gratis!,Setelah di-face off, berkat kehadiran taman di ruang publik ini, Kota Malang kembali menyabet Piala Adipura dan Kota Layak Anak.Ada beberapa wahana di kawasan ini.Seperti playground, skatepark, air mancur menari, amphiteater, photobooth, papan catur raksasa, signage dan ruang bagi ibu menyusui. Juga ada 61 kursi kayu, 11 kursi beton, 88 kursi besi dan kursi beton besar melengkung mengitari air mancur di tengah taman.

Pedagang Kaki Lima (PKL) yang dulu menyesaki Alun-alun, kini diberi tempat khusus di Jalan Kyai Tamin, berjarak 750 meter darai Alun-alun. Mereka dibuatkan event: Malang Night Market. Alhasil, Alun-alun steril dari PKL.Wajah baru Alun-alun diharapkan bisa menjadi semangat baru untuk bisa terus maju dan berkembang. Ada dukungan dari perusahaan swasta. Pemkot mendapatkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Contoh lain, Kota Semarang masuk dalam kategori Pratama. Penghargaan diserahkan langsung Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, dan diterima Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak. Sebelumnya pada tahun 2012, 2013, dan 2015 pemkot juga menerima penghargaan serupa. Kota Semarang telah melakukan berbagai kegiatan untuk mewujudkan KLA sesuai amanat pemerintah pusat. Di antaranya di bidang kesehatan telah menyediakan 37 puskesmas ramah anak, melalui Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) dan Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM). Ada juga screening Stimulan Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang, tersedianya arena bermain anak di KIA maupun Rumah Sakit Ramah Anak.

Masyarakat Ramah Anak

Masyarakat sebagai lingkungan, yang selanjutnya tak kalah pentingnya, dalam mempengaruhi tumbuh kembang anak. Sudah waktunya tumbuh kesadaran di masyarakat bahwa seorang anak, siapapun dia adalah makhluk yang harus disayang dan dicintai. Apabila sudah tumbuh kesadaran dan kesadaran itu menyebar secara luas, bahwa masyarakat hendaknya bersikap baik, bersikap ramah dan menyayangi anak, pastilah seorang anak itu akan merasakan kenyamanan dan kehangatan dimanapun berada. Jika kesadaran ini berkembang dan solid, maka dia akan mampu menjadi kekuatan sosial.

Jadi, yang memiliki tanggungjawab untuk menjaga anak bukan hanya orang tua kandungnya saja, kerabatnya saja, tetapi kita semua memiliki kewajiban untuk menyayangi dan menjaga anak dalam situasi dan kondisi yang aman dan nyaman. Anak adalah tunas kehidupan, dialah yang kelak akan menggantikan kita semua. Anaklah generasi yang akan menggantikan generasi kakak-kakaknya, generasi orangtuanya. Anaklah yang akan mengisi kehidupan ini pada saatnya nanti, maka sudah sewajarnya jika kita sebagai orang tua yang hidup ditengah masyarakat menjaga dan menyayangi anak.

Sebagai penutup, sangat indah sebuah puisi yang melegendakarya Dorothy Law Nolte dalam buku Children Learn What They Liveini, semoga kita selaku orang tua selalu bijak dalam membersamai tumbuh kembang anak,

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia akan belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia akan belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengancemoohan, ia akan belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia akan belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia akan belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia akan belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia akan belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia akan belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia akan belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia akan belajar menyenangi dirinya
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia akan belajar menemukan cinta dalam kehidupan. (Dian Wahyudi/Anggota Fraksi PKS DPRD Lebak)***


Sekilas Info

Sisi ”Basyariah” Nabi Muhammad SAW

Kehadiran Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Tuhan di muka bumi, menurut ajaran Islam, merupakan kebenaran …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *