Lapas Kelebihan Muatan Beresiko Memicu Disorientasi Seksual

Sri Puguh Budi Utami, Dirjen Pemasyarakatan.*

TANGERANG, (KB).- Ombudsman RI soroti perilaku seksual menyimpang yang terjadi di sebuah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dan Rumah Tahanan (Rutan) karena diduga karena kelebihan kapasitas. Terkait hal itu, Dirjen Pemasyarakatan, Sri Puguh Budi Utami, mengungkapkan adanya kondisi yang sudah penuh sering terjadi di Rutan dan Lapas seluruh Indonesia.

“Secara umum di Lapas dan Rutan seluruh Indonesia ketika kondisi over maka kemungkinan terjadinya desk orientasi seksual itu sudah pasti terjadi,” kata Sri saat meresmikan perguruan tinggi Poltekip dan Poltekim di kawasan Pemkot Tangerang, Kemarin.

Lanjutnya, Sri beserta jajaran sedang melakukan kajian soal membludaknya Rutan dan Lapas dengan mengadakan mutasi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Namun, hal itu bukan pekerjaan rumah yang mudah lantaran harus dilakukan perlahan.

“Langkah kami tentunya harus dilakukan mutasi lebih intensif sehingga kemungkinan penyimpanan itu bisa diminimalisir atau dihilangkan. Tapi itu tidak mudah tentunya ketika mereka hari-hari berada di dalam satu ruang yang sama atau hunian dengan kepadatan yang luar biasa,” terang Sri.

Sebagai solusi, lapas dengan tingka keamanan minimal atau minimum security menjadi satu diantara beberapa jawaban problematika kelebihan kapasitas. “Maka salah satunya jalan kita dorong diselesaikannya pembangunan Lapas minimum security. Ketika itu tidak mengeluarkan biaya besar, mereka juga bisa berkontribusi dengan menghasilkan produk dengan waktu maksimal dan medium. Ini yang sekarang diminta pak Menteri ke seluruh provinsi,” papar Sri.

Beberapa minggu sebelumnya, Sri telah meresmikan pembangunan Lapas Ciangir, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang yang merupakan Lapas dengan minimum security. Biasa disebut Komplek Pemasyarakatan Pemasyarakatan, Lapas Ciangir dibuat setahun yang lalu diperuntukan untuk membina Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) dibidang pertanian.

Nantinya para WBP tersebut akan dilatih untuk bercocok tanam selama mereka menghabiskan masa hukumannya. Program yang memanusiakan WBP tersebut merupakan program inisiasi Kemenkuham dengan Kementan RI.

“WBP tidak hanya dibekali keterampilan tertentu tapi, bagaimana mereka bisa menghasilkan produksi yang bernilai ekonomi yang bisa memberikan kepastian kepada mereka setelah bebas punya kehidupan lebih baik,” kata Sri di Kabupaten Tangerang, Jumat (28/6/2019) lalu.

Menurut Sri, nantinya para warga binaan akan bercocok tanam, beternak hingga membudidayakan ikan seperti lele. Nantinya Lapas Ciangir akan diisi setidaknya 200 warga binaan yang mulai langsung bercocok tanam hingga bisa dimanfaatkan hasilnya pada bulan Agustus 2019.

Dimana, pemasaran barang hasil panen mereka akan dipasarkan ke pasar-pasar terdekat terutama digunakan untuk lingkungan sendiri terlebih dahulu.
“WBP yang di sini nantinya akan pilihan, target kita Agustus itu sudah bisa panen. Pemasaran udah ada minimal kita sendiri, Lapas, Rutan di banten beli produknya dari sini,” tukas Sri. (DA)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here