Langsungkan Pernikahan Pasca Tsunami Selat Sunda

Gelombang tsunami selat sunda telah memporak-porandakan sebagian besar wilayah pesisir di Kabupaten Pandeglang, Sabtu (22/12/2018) malam. Saat itu, bukan hanya warga di sekitar pantai yang berhamburan, warga di setiap perkampungan juga ikut lari untuk menyelamatkan diri dari gelombang air laut tersebut.

Di tengah-tengah kepanikan warga, terdapat sepasang pengantin yang rencananya akan melangsungkan pernikahan pada hari esoknya, Minggu (23/12/2018) sekitar pukul 09.00 WIB. Pengantin tersebut adalah Hana Fia Febrianti (25), warga Kampung Calincing, Desa Citeureup, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang dengan Achmad Rija, warga Pagelaran, Kabupaten Pandeglang.

Pada malam kejadian tsunami tersebut, di rumah mempelai perempuan, sedang berlangsung acara slametan untuk persiapan pernikahan. Waktu itu, acara yang diisi dengan ceramah seorang kiayi baru saja dimulai sekitar pukul 22.00 WIB.

Sang kiayi, baru saja membuka ceramahnya. Namun, kerumunan warga dari arah Pasar Citeureup, tiba-tiba berhamburan karena melihat gelombang air laut tinggi. Jalanan pun seketika dipenuhi mobilitas warga yang lari menyelamatkan diri menggunakan kendaraannya masing-masing.

Sontak saja, keriuhan warga ini membuat acara slametan seketika menjadi bubar. Para jamaah yang sedang ikut pengajian di salah satu majelis, lari berhamburan untuk menyelamatkan diri. “Waktu itu ceramahnya baru saja dimulai,” kata Tatang, orang tua mempelai wanita saat menceritakan kepanikan yang melanda perkampungannya, Rabu (26/12/2018).

Saat itu, Tatang beserta keluarganya juga ikut panik. Ia beserta istri dan anaknya yang akan dipinang pada esok hari, terpaksa meninggalkan rumah karena khawatir akan tsunami. “Acara malam itu bubar. Kami sibuk menyelamatkan diri masing-masing karena ada kabar itu,” ujarnya.

Tatang dan keluarganya malam itu terpaksa mengungsi di rumah kerabatnya yang berada di Kecamatan Cigeulis. Meskipun tsunami tidak menyapu perkampungannya, namun ia beserta anggota keluarga yang lain masih belum berani untuk pulang ke rumah.

Padahal pada esoknya, putri bungsunya itu harus segera melangsungkan pernikahan. Acara sakral ini pun terancam ditunda, karena pihak mempelai pria juga ikut panik setelah mendapat informasi wilayah Tanjung Lesung luluh lantak disapu tsunami.

Tapi, berkat kesepakatan bersama, acara pernikahan putrinya akhirnya bisa terwujud. Meskipun, kedua mempelai harus meninggalkan tempat resepsi yang sudah disiapkan sejak jauh-jauh hari itu untuk mengantisipasi adanya ancaman gelombang tsunami susulan.

Acara pernikahan pun dilangsungkan di salah satu rumah kerabatnya di Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang. Sambil mengenang momen tersebut, Tatang mengatakan bahwa senyum haru menyelimuti anak bungsunya yang akhirnya sudah sah dipinang oleh sang mempelai pria.

“Alhamdulillah, kampung kami tidak kena tsunami dan pernikahan tetap berlangsung meski bukan di tempat hajatan. Musibah kan tidak ada yang tahu, mungkin ini kehendak yang Kuasa,” tuturnya.

Peristiwa tsunami akan menjadi peristiwa paling membekas sebagai kenangan untuk pasangan Achmad Rijal dan Hana Fia Pebriani. Di tengah duka yang mendalam, ada kebahagiaan tumbuh perlahan. Pengantin baru itu pun langsung diungsikan ke rumah Achmad Rijal di Pandeglang.

“Saya antar dulu ke Pandeglang daerah yang lebih aman. Setelah dari mengantar ke sana saya akan kembali lagi ke Panimbang,” ucapnya. (Rifat Alhamidi)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here