Langgar PSBB, Sejumlah Toko Busana Ditutup Satpol PP

TANGERANG, (KB).- Beberapa hari jelang Lebaran 1441 Hijriah, protokol kesehatan tentang physical distancing semakin banyak dilanggar. Bahkan sejumlah toko busana pun tak indahkan larangan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang masih diperpanjang hingga 31 Mei 2020 oleh Gubernur Banten Wahidin Halim. Mereka tetap nekat membuka dagangannya guna mencari keuntungan mendekati Hari Raya Idul Fitri.

Terkait hal itu Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di Tangerang Raya pun mengharuskan turun ke lapangan menggelar operasi mencegahnya kerumunan demi memutus mata rantai Covid-19. Seperti di Kota Tangerang misalnya, empat toko busana ditutup sementara oleh petugas Satpol PP setempat.

“Ada empat toko busana di Kota Tangerang yang kami tutup,” ujar Kepala Bidang Gakumda pada Satpol PP Kota Tangerang, Ghufron Falfeli, Senin (18/5/2020).

Ghufron mengatakan penutupan empat toko busana dikarena pengelola atau pemilik tidak mengindahkan Peraturan Walikota (Perwal) tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam Penanganan Corona virus disease 2019 (covid-19) di Kota Tangerang.

“Yang bersangkutan (pemilik toko) bukan menjual kebutuhan pokok atau kebutuhan sehari, dan melanggar protokol kesehatan tentang physical distancing, sehingga melanggar PSBB,” kata Ghufron.

Empat toko busana yang ditutup sementara yakni Ria busana dan Toko Ananda, baik yang berada di kawasan Tangerang maupun kawasan Ciledug.

“Semuanya kami tutup sementara sesuai prosedur yang berlaku. Penutupan ini juga tidak terlepas dari peran serta masyarakat untuk bersama-sama memutus mata rantai penyebaran covid-19, khususnya di Kota Tangerang,” tegasnya.

Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang sendiri telah memberlakukan sanksi bagi masyarakat yang melanggar protokol kesehatan covid-19. Sanksi tersebut tertuang di dalam peraturan Walikota Tangerang Nomor 29 Tahun 2020 tentang pengenaan sanksi terhadap pelanggaran PSBB dalam penanganan virus corona (covid-19) di Kota Tangerang.

Walikota Tangerang, Arief R Wismansyah mengatakan, peraturan ini bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan masyarakat dalam menerapkan physical distancing, social distancing, dan protokol pencegahan penyebaran covid-19.

“Selain itu untuk memberikan kepastian hukum pemberian sanksi serta optimalisasi PSBB dalam mencegah bertambahnya angka penyebaran,” papar Arief.

Sementara di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Satpol PP setempat telah menyegel ratusan toko yang menimbulkan kerumunan dan melanggar Peraturan Walikota (Perwal) nomor 13 tahun 2020 dengan memberikan stiker berukuran besar yang berbunyi ‘Tempat Usaha Ini Diberhentikan Sementara’.

Meski demikian, masih terlihat beberapa toko nekat buka meski sudah ditempelkan stiker penutupan dari Satpol PP Tangsel, seperti di toko pakaian Ria Busana dan Ananda yang berlokasi di Jalan Dewi Sartika, Ciputat. Toko pakaian tersebut mengelabui petugas dengan membuka pintu masuk yang berada disamping dan hanya bisa dilalui satu atau dua orang.

Walaupun menggunakan protokol kesehatan dengan mengecek suhu tubuh dan penyemprotan disinfektan, namun situasi di dalam terlihat sangat padat di lantai 1 maupun lantai 2. Bahkan, antrean panjang terlihat di kasir. Ada beberapa pula yang tidak menggunakan masker, meski di pintu masuk toko tersebut ditempel area wajib masker.

Kepala Seksi Penyelidikan dan Penyidikan Satpol PP Tangsel, Muksin Al Fachry mengakui masih banyak toko yang membandel diwilayahnya.

“Ya itulah masyarakat, abis ditutup dibuka, kita datang ditutup lagi, kita berangkat dibuka lagi, ya bandel lah masyarakat,” ungkap Muksin.

Ia mengatakan, banyak juga toko yang masih buka karena beralasan untuk membayar gaji karyawan dan kebutuhan makan.

“Alasannya butuh makan rata-rata, karyawan saya butuh makan. Tapi kita jelaskan ke mereka bahwa ini sementara selama PSBB berlangsung, kalau sudah selesai cabut sendiri,” ujarnya.

Lebih lanjut, momen menjelang Idul Fitri memang biasanya banyak digunakan para pedagang untuk mencari keuntungan, meski saat ini sedang diberlakukan PSBB.

“Pertama orang butuh makan lah, momen tukang baju kan sekarang. Kalau bicara mereka bandel, ya banyak yang bandel, yang enggak bandel juga banyak. Kan gak cuman tukang baju, ada spa and massage, salon, ada juga toko souvenir toko boneka diluar logistik,” papar Muksin.

Terlebih, kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan dan kesadaran patuh dalam aturan pemerintah juga dirasanya masih kurang.

“Itulah masyarakat kita tingkat kesadarannya masih ada yang lemah bukan berarti semuanya lemah. Kan gini Tangsel ini kan Kota, ada yg disini cuman nyari duit, ada yang bener-bener merasa orang Tangsel,” tandasnya.

Salah seorang warga yang berbelanja di Ria Busana, Susi (38) mengatakan, jika dirinya membeli baju baru lebaran untuk anaknya.

“Ya sebentar lagi kan mau lebaran, beli baju baru buat anak,” imbuh Susi.

Ketika ditanya mengenai toko Ria Busana sudah ditempelkan stiker untuk tidak berjualan guna memutus penyebaran Covid-19, dirinya justru sudah mengetahui itu.

“Iya saya tahu ini disegel waktu itu, tapi kata temen saya tokonya tetap buka. Jadinya saya dateng buat beli baju baru. Saya juga tetap pakai masker kok,” kilahnya. (DA)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here