Lahan Pangan Berkelanjutan di Kota Serang Minim

ilustrasi

SERANG, (KB).- Luas Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) di Kota Serang diperkirakan hanya mencapai 3.053 hektare, namun luasan tersebut belum dapat memenuhi kebutuhan pangan di Kota Serang. Sebab, idealnya lahan pertanian di Kota Serang seharusnya sekitar 8.000 hektare, agar dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.

Kepala Dinas Pertanian Kelautan dan Peternakan (DPKP) Kota Serang Edinata Sukarya mengatakan, saat ini pembahasan LP2B masih dalam kajian pemerintah pusat, bersama Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Namun berdasarkan hasil rapat kemungkinan besar LP2B hanya mencapai 3.053 hektare.

“Saat ini kami masing menunggu revisi dari kementerian, kurang lebih 3.053 hektare yang akan diikat, dan pembahasan termasuk juga didalamnya dengan RTRW yang akan ada perubahan,” katanya, Senin (13/1/2020).

Ia menjelaskan, total LP2B tersebut diyakini belum dapat memenuhi kebutuhan pangan di Kota Serang. Saat ini saja lahan pertanian di Kota Serang mencapai hingga 8.000 ribu ton, namun masih tetap defisit pangan hingga 32 ribu ton. Maka dari itu jumlah PL2B tersebut tidak sepadan dengan kebutuhan.

“Jadi nanti lahan 3.053 hektare itu tidak bisa diutak atik menjadi apapun, itu khusus untuk pertanian meski pun memang belum tentu bisa memenuhi target (pangan) di Kota Serang. Memang idealnya itu kan delapan ribuan hektare, tapi berdasarkan pembahasan cuma segitu (3.053),” ujarnya.

Meski demikian, ia menyadari dan menerima, keputusan tersebut dikeluarkan oleh pemerintah pusat yang menyatakan bahwa wilayah Kota Serang tak lagi menjadi wilayah pertanian.

“Meski pada kenyataanya masih ada (lahan pertanian), tapi dari pemerintah pusat itu indeks kota tidak lagi ada pertanian,” katanya.

Edinata menjelaskan, 3.053 hektare LP2B tersebut difokuskan berada di Kecamatan Kasemen. Sementara kecamatan lainnya sudah tidak lagi menjadi lahan pertanian. Sisa dari 8.000 lahan pertanian tersebut juga nantinya dipersilahkan untuk dialihfungsikan, baik menjadi bangunan maupun yang lainnya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Kota Serang.

“Seperti adanya peternakan ayam atau yang lainnya, nanti itu sudah tidak ada lagi. Sekarang kebutuhan kependudukan cukup tinggi seperti perubahan dan lainnya. Jadi di luar dari 3.053 hektare itu kami persilahkan dibangun, tapi kalau 3.053 hektare itu sudah dikunci dan tidak boleh dialihfungsikan dari LP2B,” tuturnya.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Serang Nanang Saefudin mengatakan, meski keberadaan sawah tidak cocok ada di tengah kota. Namun Pemerintah Kota (Pemkot) Serang tetap berupaya untuk menjaganya.

“Memang sebelumnya yang menjadi pertimbangan Direktorat Jenderal (Dirjen) Agraria dan Tata Ruang (ATR) itu wilayah kota tidak cocok untuk pertanian. Tapi kan kita semua bisa lihat kondisi saat ini lahan pertanian di kota itu masih ada, dan itu yang tetap kami jaga,” katanya. (Rizki Putri/YA)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here