Kuliah di Universitas Terbuka : Bebas Pilih Jurusan, Belajar tak Perlu Tatap Muka

Suasana diskusi 'Obrolan Mang Fajar' bersama Universitas Terbuka (UT) Serang di Kantor Harian Umum Kabar Banten, Jl. Jend. A Yani No.72 Kota Serang, Senin (7/10/2019).

SERANG, (KB).- Universitas Terbuka (UT) Serang membuka kesempatan yang seluas-luasnya bagi masyarakat yang ingin berkuliah tanpa harus mengikuti tes. Di kampus negeri ini, masyarakat bisa bebas memilih jurusan sesuai dengan keinginannya. Bahkan, bisa menentukan sendiri kapan akan lulus.

Hal tersebut disampaikan Direktur Universitas Terbuka Serang Dr Maman Rumanta, saat diskusi “Obrolan Mang Fajar” di Kantor Harian Umum Kabar Banten, Jl. Jend. A Yani No.72 Kota Serang, Senin (7/10/2019).

Diskusi yang dipandu Direktur PT Fajar Pikiran Rakyat Rachmat Ginandjar tersebut dihadiri jajaran direksi, Pemred Kabar Banten Maksuni Husen, serta perwakilan mahasiswa UT.

Maman mengatakan, UT hadir di tengah masyarakat untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia dan untuk memberikan layanan pemerataan pendidikan.

“Masuk UT tidak perlu lagi tes seperti perguruan tinggi lain dan tidak ada DO (Drop Out). Terpenting adalah belajar dengan baik sesuaikan dengan waktu. Kelulusan di UT itu bisa diperkirakan sendiri. Tentunya disesuaikan dengan kemampuan dan waktu yang ada. Kalau di universitas lain mungkin ketika tes engga lulus, diarahkan ke program lain,” kata Maman.

Menurutnya, keberadaan UT di Indonesia membawa misi bahwa seluruh masyarakat Indonesia bisa mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi tanpa harus takut salah jurusan.

“Bahwa tidak ada masyarakat di Indonesia itu yang tidak bisa ke perguruan tingi. Di UT semuanya menjadi mudah. Itulah misi UT,” kata dia.

Ia mengatakan, UT yang mengantongi sertifikat internasional berupa Quality Certificate dari International Council for Open and Education (ICDE) ini juga menerapkan pola kuliah daring sehingga pembelajarannya tidak perlu tatap muka.

“Begitu mudah, belajar tidak perlu datang ke kampus. Sekarang ini masuk era digital yang perkembangannya begitu cepat. Ke depan mungkin tidak hanya era industry 4.0, tetapi bahkan 5.0 dan seterusnya. Ke depan pola pembelajaran akan mengarah ke sana semua,” ucapnya.

Meski begitu, metode kuliah tersebut belum dilakukan 100 persen. Salah satu kendalanya yaitu infrastruktur yang masih belum menunjang.

“Misalnya di kepulauan, ada beberapa wilayah tertentu yang blind spot, sulit mengakses internet. Oleh karena itu kami menerapkan 3 pola, yaitu fully online, blinded, dan tatap muka,” ujarnya. (RI)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here