Kota Serang Terancam Rawan Pangan

SERANG, (KB).- Setiap tahunnya, Kota Serang mengalami defisit pangan hingga 20.000 ton. Hal tersebut disebabkan oleh lahan pertanian yang terus menyusut. Selain itu, musim kemarau berkepanjangan tahun ini juga menjadi salah satu penyebab terjadinya penurunan pangan.

Kepala Bidang (Kabid) Pangan Dinas Pertanian (Distan) Kota Serang Andriyani mengatakan, ketersediaan beras di Kota Serang baru mencapai 42.328 ton per tahunnya.

Sementara, yang dibutuhkan sekitar 69.889 ton beras untuk mencukupi kebutuhan masyarakat Kota Serang, dari total 655.004 jiwa dengan konsumsi beras hingga 106,7 kilogram per kapita per tahunnya.

“Hal ini berdasarkan data 2018 dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten. Lahan pertanian Kota Serang saat ini ada sekitar 7.900 hektare dari sebelumnya 8.700 hektare. Dikalikan dengan dua kali panen itu belum bisa mencapai kebutuhan Kota Serang. Artinya kami defisit sekitar 20.000 ton,” katanya.

Ia menjelaskan, berdasarkan skor pola pangan harapan (PPH), Kota Serang baru mencapai 82 poin. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan daerah-daerah maju di Provinsi Banten. Maka dari itu, perlu adanya dorongan sosialisasi tentang pengembangan keanekaragaman pangan.

“PPH ini berdasarkan komposisi yang mengandung karbohidrat dan lain di daerah. Kalau di daerah maju itu mencapai 90 poin, sementara idealnya itu 100 poin,” ujarnya.

Kondisi tersebut, ucap dia, bisa berakibat menjadikan Kota Serang sebagai daerah yang rawan pangan. Sebab, salah satu faktornya, adalah ketersedian pangan untuk masyarakatnya belum terpenuhi.

“Saat ini kami sedang membuat peta rawan pangan. Ada indikatornya dalam daerah rawan pangan, yaitu produksi, kemampuan daya beli, hingga balita tertimbang. Jadi, kami kerja sama dengan Dinas Kesehatan dan Badan Pusat Statistik (BPS),” ujarnya.

Kepala Distan Kota Serang Edinata Sukarya menuturkan, untuk mengatasi defisit pangan, pihaknya mengambil pasokan ke daerah tetangga, seperti Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, dan sebagian dari Bulog.

“Karena, kami tidak bisa menitikberatkan pasokan pangan ke Kasemen. Maka dari itu, kami mengambil ke daerah tetangga” ucapnya.

Sementara, Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Serang Pujiyanto menilai, hal tersebut sangat memalukan Pemerintah Kota (Pemkot) Serang. Alasannya, lahan pertanian atau pangan di Kota Serang begitu luas dan potensial.

“Ini sangat memalukan (Pemkot) apalagi sampai kekurangan pangan. Padahal, di Kota Serang tidak ada industri, kecuali di Kabupaten Serang baru itu wajar,” tuturnya.

Ia meminta Pemkot Serang untuk segera mencarikan solusi, agar kebutuhan masyarakat terkait pangan dapat terpenuhi.

“Saya sebagai anggota DPRD harus mengingatkan Pemkot Serang untuk mencarikan solusi. Jadi, nanti apa yang bisa ditawarkan untuk mencukupi kebutuhan masyarakat,” katanya.

Defisit pangan tersebut, ujar dia, bukan disebabkan oleh menyusutnya lahan pertanian. Namun, karena kurang produktif lahan pertanian yang ada di Kota Serang. Padahal, lahan pertanian yang ada cukup bagus.

“Ketika saya ke Cianjur, lahan kecil juga bisa produktif, sementara di Kota Serang perlu inovasi bagaimana bisa memanfaatkan lahannya,” ucapnya. (Rizki Putri/YA)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here