Korban Tertimbun Longsor TPSA Cilowong Belum Ditemukan, Sampah di Dua Daerah Menumpuk

SERANG, (KB).- Bencana longsor di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Cilowong berdampak luas. Selain korban yang tertimbun belum ditemukan, sampah di dua daerah yakni Kota Serang dan Kabupaten Serang menumpuk akibat pelayanan dan pengangkutan dihentikan sementara.

Menurut Wali Kota Serang, Syafrudin, Pemerintah Kota (Pemkot) Serang segera mencari lahan alternatif. “Insya Allah ada relokasi. Pertama, bencana ini akan membuat turab dan akan kami tata kembali. Mudah-mudahan di 2019 perubahan, ada relokasi. Saya kira bukan pindah, paling menambah,” kata Wali Kota Serang saat meninjau lokasi TPSA Cilowong di Taktakan, Kota Serang, Rabu (2/1/2019).

Dengan anggaran Kota Serang yang terbatas, pihaknya akan meminta bantuan dana dari pemerintah provinsi (pemprov) dan pemerintah pusat. Untuk sementara, pihaknya juga akan berkirim surat ke Pemerintah Kabupaten Serang agar menghentikan sementara pembuangan sampah di TPSA Cilowong. “Sementara untuk pemkab Serang, karena dalam kondisi seperti ini kami akan memberikan surat untuk distop dalam waktu tertentu,” ucap mantan Kepala DLH Kota Serang itu.

Baca Juga: TPSA Cilowong Longsor Dua Orang Diduga Tertimbun

Ia menuturkan, pembuangan sampah Kota Serang tetap harus dilakukan di Cilowong, dengan mencari alternatif lokasi disebelah selatan. Sebab, sampah Kota Serang sudah menumpuk akibat tertahan saat bencana longsor terjadi. “Proses pembuangan sampah tidak dihentikan, sementara kita alternatif disebelahnya, sebelah selatan. Tetap kebersihan di lingkungan Pemkot Serang harus dibersihkan,” tuturnya.

Pada kesempatan itu, wali kota juga menyambangi rumah keluarga korban dan memberikan santunan. Menurutnya, masyarakat sudah diimbau untuk tidak mendekati lokasi TPSA. Namun, banyak warga yang gembala kambing atau mencari barang bekas di lokasi TPSA yang menampung sekitar 800 ton perhari. “Sebenarnya gak dibebaskan, akan tetapi namanya masyarakat susah, kadang ada yang mencari barang bekas, ada juga yang pelihara kerbau dan kambing,” ujarnya.

Dalam peninjauannya di TPSA Cilowong, Wali Kota Serang didampingi Pelaksana tugas (Plt) Kepala DLH Kota Serang, Popy Nopriadi, Kapolres Serang Kota, AKBP Firman Affandi dan Dandim 0602 Serang, Letkol Czi Harry Praptomo.

Menurut Plt Kepala Dinas Lingkungn Hidup (DLH), Popy Nopridi mengatakan, saat ini sampah Kota Serang sudah menumpuk karena proses pengangkutan dan pembuangan terhenti. Sehingga, pihaknya segera mencari lahan alternatif untuk pembuangan sampah. “Kemarin sempat dihentikan, sekarang ada 20 truk (sampah) yang tertahan,” katanya.

Menurut Popy yang juga Asda II Kota Serang, kedalaman sampah di lokasi yang paling bawah sekitar 8-15 meter. Sementara, untuk bagian atas bisa lebih dari itu. Dengan kondisi seperti itu, risiko longsor sangat mungkin terjadi, mengingat tanah yang tidak padat. Bahkan sebelumnya, longsor juga pernah terjadi pada tahun 2009 lalu. “Kalau setelah ini direhabilitasi mungkin di sini dulu, tapi dengan perbaikan,” ucapnya.

Sementara itu, dua korban wanita yang tertimbun longsoran masih belum bisa dievakuasi, meskipun dua alat berat sudah dikerahkan. Hal itu karena tanah yang masih rawan terjadi longsor susulan.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Serang Tubagus Suherman mengatakan, proses pencarian masih terkendala kondisi tanah yang masih labil sehingga alat berat belum sampai lokasi. Selain itu juga karena faktor cuaca. “Dengan kendala seperti ini, memungkinkan akan ada longsor susulan, cuaca juga agak hujan, dan alat berat belum sampai,” ujarnya.

Namun, proses pencarian korban akan segera dilakukan dan sudah ditentukan titik mana saja yang akan difokuskan untuk pencarian. “Pencarian akan dimulai dari jalan setapak yang dilalui korban sampai ke ujung paling bawah,” katanya.

Diketahui sebelumnya, pencarian dua orang korban yang diduga tertimbun longsoran tersebut sempat dihentikan karena kondisi cuaca pada malam hari tidak kondusif. “Pencarian akan dimulai kembali Kamis (3/1/2019) pagi hari. Tim Basarnas Provinsi Banten, BPBD Kota Serang, PMI, TNI dan Dinsos serta Tagana akan membantu mencari korban,” katanya.

Pencarian ini dipimpin oleh Kepala Markas Basarnas Provinsi Banten dan dibagi menjadi beberapa tim, baik dari TNI, Tagana, Dinsos dan lainnya. Ia berharap kedua korban tersebut bisa segera ditemukan. “Untuk korban yang diduga tertimbun tersebut bernama Ida dan Jemah (48) yang rumahnya berada di seberang TPSA,” ujarnya.

Pelayanan sampah dihentikan

Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Serang untuk sementara menghentikan pelayanan pengangkutan sampah, sebagai dampak longsor yang terjadi di TPSA Cilowong, Taktakan, Kota Serang, Selasa (1/1/2019). Namun, longsor di Cilowong itu sangat berpengaruh terhadap pelayanan di wilayahnya.

Kepala Bidang Pertamanan dan Persampahan pada DLH Kabupaten Serang, Toto Mujiyanto mengatakan, adanya longsor di Cilowong itu sangat berpengaruh terhadap pelayanan di wilayahnya. “Pengaruh sekarang lagi ditutup. Jadi imbasnya kekita juga kita enggak bisa buang sampah ke sana,” ujar Toto.

Untuk sementara, kata dia, sampah yang berasal dari masyarakat maupun dari pasar dan industri di wilayahnya disimpan di TPS terlebih dahulu, hingga Cilowong kembali dibuka. “Bilangnya secepatnya. Kalau korban sudah ketemu, kemungkinan sudah bisa buang sampah lagi (ke Cilowong) mudah-mudahan enggak lama lah,” tuturnya.

Dirinya pun berharap waktu pencarian itu tidak terlalu lama. Sebab jika lama, maka akan terjadi penumpukan sampah di wilayahnya. “Kalau lama Masya Allah. Kita tampung di tempat penampungan dulu Pak di TPS,” ucapnya.
Untuk jumlah penampungan di wilayahnya, menurut dia, cukup banyak. Terutama, berada di wilayah pasar tradisional. “Ada banyak penampungan terutama di sampah pasar yang banyak,” katanya.

Disinggung soal volume sampah di Kabupaten Serang, Toto mengatakan, dalam sehari mobil yang beroperasi ada 30 unit. Satu unit mengangkut 6 kubik. Dengan demikian, volume sampah diperkirakan mencapai 180 kubik per hari. “Kalau satu mobil 6 kubik, kalau plus kecamatan ada 24 kendaraan ada yang dua rit juga. Rata-rata 30 mobil dalam sehari. Dikalikan saja berapa,” tuturnya.

Untuk pembuangan sampah ke Cilowong, Kabupaten Serang menggunakan sistem bayar retribusi. Oleh karena itu, jika tidak ada pembuangan sampah tidak ada pula pembayaran. “Kalau ke Cilowong itu bayar retribusi. Enggak (kena retribusi kalau tidak buang) kan kalau kita setiap buang sampah dikenakan retribusi, jadi setiap buang dicatat sekian kubiknya. Jadi setiap buang sampah kita bayar. Kalau enggak buang kita enggak bayar,” tuturnya. (Tim Kabar Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here