Korban Banjir Butuh Obat-obatan dan Pakaian Ganti, Penyakit Mulai Menyerang

Sejumlah anak korban banjir bandang menyaksikan pertunjukan sulap saat "Trauma Healing" di tempat pengungsian di Gedung PGRI, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, Jumat (3/1/2020). Trauma healing yang dilaksanakan korps Kepolisian Kabupaten Lebak itu untuk membantu memulihkan kejiwaan anak pascabanjir bandang yang merusak rumah mereka serta fasilitas umum.*

Penyakit pusing dan gatal-gatal mulai menyerang warga yang terdampak bencana banjir bandang di Kabupaten Lebak maupun di Kota Tangerang Selatan mulai terserang. Kebutuhan pakaian ganti hingga air bersih dan obat-obatan bagi korban banjir juga semakin mendesak.

Di Kota Tangerang Selatan, sekitar 600 warga dari 250 kepala keluarga (KK) di Perumahan Pesona Serpong, Kademangan, Kecamatan Setu, yang terdampak bencana banjir paling parah di wilayah Tangsel, mulai terserang penyakit.

Sekretaris Lurah (Sekel) Kademangan, Nani Nuraeni Khotimah mengatakan, warga sudah mengeluh pusing dan gatal-gatal.

“Belum ngecek berapa warganya, tapi kalau berobat itu ada mulai pusing, gatal-gatal itu ada, masuk angin,” kata Nani.

Oleh karena itu, pihaknya akan membuka posko darurat bagi warga Pesona Serpong yang berada di SDN Kademangan 02 untuk enam hari ke depan.

“Memang kita tetap buka posko 6 hari ke depan. Tapi kalau memang di sekolah nanti akan dipakai, bisa pindah dan mencari posko. Tapi mudah-mudahan segera teratasi, minimal bisa antisipasi oleh kami,” ujarnya.

Nani menjelaskan, warga Pesona Serpong lebih membutuhkan pakaian ganti, air bersih dan obat-obatan.

“Kalau untuk kebutuhan, warga butuh pakaian bersih, karena saat dievakuasi enggak bawa pakaian ganti. Tapi tadi sudah datang pakaian layak pakai. Yang urgent banget pakaian sama obat-obatan dan untuk anak-anak itu pampers serta air bersih,” ucap Nani.

Begitu juga korban banjir di Kabupaten Lebak mulai terserang penyakit gatal-gatal, pilek, batuk, dan diare.

“Kami bersama keluarga mulai terserang penyakit gatal-gatal, pilek, dan batuk-batuk,” tutur Yani, korban banjir bandang yang ditampung di Gedung PGRI Kecamatan Sajira.

Korban bencana banjir kini menempati pos pengungsian dengan tidur beralaskan tikar dan terpal serta pakaian hanya yang melekat di badan mereka. Warga tidak sempat untuk mengambil pakaian maupun peralatan lainnya karena banjir bandang begitu cepat hingga merendam perkampungan.

Saat ini, warga yang tinggal di pengungsian di Gedung PGRI Kecamatan Sajira sebanyak 1.000 orang. Rohman, warga Sajira mulai terserang gatal-gatal di sekujur tubuhnya karena tempat tidur tidak layak dan pakaian sudah 3 hari belum diganti.

Saat ini, dia bersama dua anak dan istri sudah dua hari tinggal di posko pengungsian di Gedung PGRI Kecamatan Sajira.

“Kami sudah menjalani pengobatan di posko kesehatan itu, kemudian diberikan salep anti gatal dan obat panas dingin atau parasetamol,” katanya.

Sementara itu, petugas posko kesehatan di Gedung PGRI Kecamatan Sajira Ani mengakui, banyak warga yang tinggal di pengungsian terserang penyakit gatal, diare, dan ISPA. Mereka tinggal di pengungsian yang lingkungannya tidak sehat. Ditambah lagi pakaian mereka sudah 3 hari belum diganti.

“Kami hari ini sudah mengajukan obat-obat ke Dinas Kesehatan Lebak karena obat-obatan sudah menipis, terutama obat salep untuk penyembuhan gatal-gatal,” ujar Ani.

Menurut Tim medis Puskesmas Pajagan, Kecamatan Sajira, Rendi Andriyana Ciptedi mengatakan, sejak posko penanggulangan bencana dibuka, dari total 509 orang warga pengungsi, warga yang memeriksakan kesehatannya sekitar 238 orang.

“Rata-rata warga yang mengeluhkan sakit itu anak balita, dengan penyakit yang dikeluhkan mulai batuk, pilek serta demam. Sedangkan orangtuanya itu kebanyakan mengalami luka ringan di bagian kaki,” ucap Rendi Andriyana Ciptedi saat ditemui di posko utama gedung PGRI Sajira, Jumat (3/1/2020).

Menurut dia, secara umum warga pengungsi dalam kondisi sehat. Sebab, selama berada di pengungsian, warga mendapatkan pemeriksaan medis secara rutin. Jikapun ada warga yang mengalami sakit parah, maka akan langsung mendapatkan penanganan secara serius dengan dirujuk ke Pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) dan rumah sakit (RS) terdekat.

“Kita bersyukur, memasuki hari ketiga pascabencna, tidak ada warga pengungsi yang mengalami sakit yang cukup serius,” tuturnya.

Kekurangan logistik

Sementara, Taruna siaga bencana (Tagana) Lebak Susan mengatakan, saat ini para pengungsi masih nembutuhkan keperluan bantuan logistik skala prioritas, di antaranya matras, selimut, air bersih, beras, minyak goreng, susu kotak, plastik sampah hitam (transtbag), perlengkapan balita, makanan siap saji, alat kebersihan, pakaian dalam pria dan wanita, air minum, peralatan ibadah, peralatan mandi, baju tidur anak dan dewasa, diapers dan banyak lagi logistik prioritas lainnya yang dibutuhkan.

“Logistik lainnya relatif aman. Tetapi, logistik yang skala prioritas masih dibutuhkan,” katanya.

Ia mengatakan, para pengungsi kebanyakan menetap di posko, karena rumah tempat tinggal mereka ada yang rusak dan masih dipenuhi lumpur. Mereka pulang hanya memeriksa keadaan rumahnya dan barang-barang miliknya.

“Para pengungsi hanya pulang nemeriksa rumahnya saja,” ujarnya.

Terpisah, Kepala pelaksana harian BPBD Lebak, Kaprawi memastikan bantuan untuk korban banjir bandang warga di enam kecamatan relatif aman dan mencukupi.

“Kami menjamin persediaan logistik tidak ada masalah, karena bantuan dari berbagai instansi juga dari luar daerah terus mengalir,” katanya. (DA/PG)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here