Kontestasi Pilkada, Petahana Bisa Kendalikan Birokrat

PANDEGLANG, (KB).- Sejumlah akademisi menilai, dalam kontestasi pesta demokrasi rakyat berupa pemilihan kepala daerah (Pilkada), calon bupati dari incumbent atau petahana masih memiliki kekuatan.

Kekuatan politik itu terletak pada pengendalian jaringan dan kalangan birokrat. Hal itu dikatakan akademisi Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Banten Agus Lukman kepada Kabar Banten, Senin (17/6/2019).

“Peluang petahana masih kuat, namun bukan berarti tidak dapat dikalahkan. Sebab, Bupati Pandeglang Irna Narulita dan suaminya Pak Dimyati masih mengakar di jaringan kepala desa, birokrasi dan ulama. Sehingga kemungkinan masih sulit untuk dikalahkan,” kata Agus Lukman.

Meski demikian, lanjut Agus, ada potensi besar dari para penantang yang memiliki jaringan tim sukses yang kuat, sumber dana dan popularitas yang tinggi bisa menyaingi incumbent.

“Sosok Tanto, Ade Rossi, Fitron Nur Ikhsan, Ali Zamroni, Toni Fatoni Mukson, Ahmad Sadeli Karim, termasuk artis Krisyanto memiliki potensi untuk mengalahkan incumbent,” tuturnya.

Sementara itu akademisi Unma Banten Eko Supriatno mengatakan, kelebihan petahana adalah mempunyai jaringan birokrasi. Peluang petahana untuk memperbesar popularitas dipermudah oleh adanya program atau kebijakan populis yang bernuansa pencitraan. Selain itu, calon petahana memiliki jaringan dan relasi yang sudah tertata atau solid.

“Pada jajaran birokrasi, calon petahana seharusnya lebih eksis dibanding calon lawan yang berasal dari eksternal birokrasi. Dia pun biasanya paling siap segalanya, khususnya penguasaan peta politik dan kemampuan mengondisikan kekuatan politik (parpol),” ucapnya.

Untuk itu, Eko menyarankan, Pandeglang butuh figur alternatif baru, calon bupati yang memiliki gagasan segar dan mengeksekusi terobosan itu dengan cepat.

“Yang dibutuhkan sekarang, partai politik harus bisa mencari figur baru dengan memanfaatkan peluang dengan menciptakan pencitraan dan kampanye untuk pemimpin baru tersebut,” ujarnya.

Selain itu, kata Eko, alasan munculnya lawan yang tidak terduga akan mengubah persaingan politik dan menjadikannya lebih seru. Sehingga parpol juga dituntut mampu membaca tanda zaman dan menyerap aspirasi warga yang haus perubahan. Dalam pilkada mendatang, rakyat akan memilih pemimpin dengan visi jelas dan terukur.

“Kini sudah saatnya warga Pandeglang memiliki pemimpin yang sungguh mau menjadi pelayan. Dia juga harus memiliki kualitas dan kematangan dalam menata Pandeglang. Pandeglang membutuhkan seorang pemimpin visioner yang mampu mengembangkan Pandeglang sebagai kabupaten maju dan berkembang,” katanya. (IF)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here