Konsultasi Syariah: Hukum Jual Beli Cara Online

Pertanyaan:
Apa hukumnya belanja online dengan mengirimkan uang terlebih dahulu. Padahal, kita belum tahu kualitas barang.
0853111XXXX

Jawab:
Jual beli online diperbolehkan selama memenuhi hal-hal pokok dalam jual beli dan tidak melanggar ketentuan syariah. Keabsahan dalam transaksi jual beli dari sisi barang yang akan diperjualbelikan harus dapat dipastikan, diketahui dan disepakati oleh kedua belah pihak setidaknya adalah empat aspek, yaitu kualitasnya, kuantitasnya, harganya dan waktu penyerahannya.

Jika salah satunya tidak dapat dipastikan, maka jual beli menjadi bathil atau fasid. Pemenuhan 4 aspek tersebut oleh syariah dalam rangka memberikan perlindungan kepada kedua belah pihak dalam bertransaksi. Hal lain yang harus diperhatikan dalam transaksi jual beli menurut Islam adalah harus memenuhi aspek an-taradhin (keridhoan), tidak dibolehkan adanya ketidakpastian (gharar) atau ketidaktahuan yang menyebabkan kerugian salah satu pihak (tadlis) serta terbebas dari spekulasi (maysir).

Oleh karena itu, proses khiyar sebelum jual beli menjadi suatu yang diharuskan secara syariah. Mekanisme khiyar sendiri banyak polanya, bisa melalui khiyar majlis (melalui interaksi langsung), khiyar aiby, khiyar ta’yin dan khiyar syarat. Khiyar dilakukan untuk mendapatkan kepastian pada aspek kuantitas dan kualitas, sehingga pembeli bisa mendapatkan barang yang terbaik yang sesuai dengan harga yang layak menurut dirinya.

Dalam mekanisme jual beli online, tentu tidak dimungkinkan melakukan khiyar majelis. Namun untuk barang-barang tertentu yang sifatnya ta’yini (dapat ditentukan spesifikasinya), aiby (dapat dijamin kualitasnya melalui garansi jika ditemukan cacat pada barang), atau bersifat syuruthi (dapat ditentukan syarat-syarat kualitas dan kuantitasnya) masih memungkinkan untuk dilakukan transaksi jika hal tersebut dapat memberikan jaminan atas ketersediaan barang yang diinginkan oleh konsumen. Sehingga akad jual beli terbebas dari kondisi yang bersifat spekulatif (maysir) dan ketidakpastian (gharar).

Oleh karena itu, dalam transaksi jual beli online pembeli harus memastikan dan mengetahui kondisi barang yang dipesannya. Penjual juga dapat memberikan spesifikasi dan informasi sejelas-jelasnya pada barang yang dijual. Jual beli melalui pembayaran di muka dengan penyerahan barang kemudian termasuk pada transaksi salam. Jika pembayaran dilakukan dimuka dengan barang diproduksi sesuai pesanan, maka termasuk pada transaksi istishna.

Keduanya dibenarkan secara fiqh, selama adanya kepastian terhadap kualitas, kuantitas, harga dan waktu penyerahannya yang disepakati dan dilindungi melalui mekanisme garansi serta adanya fitur komplain dan return seperti yang telah tersedia pada beberapa aplikasi jual-beli online di Indonesia.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here