Komunitas Kembali Pentaskan ”Tebah Tabuh Tabah”

Komunitas Kembali akan menggelar pertunjukan produksi ketiganya yang berjudul “Tebah Tabuh Tabah” karya Imaf M Liwa. Dalam pertunjukan tersebut, Komunitas Kembali berkolaborasi dengan kelompok kesenian Terbang Gembrung Banten yang berasal dari Kampung Cikentang, Kelurahan Sayar, Kecamatan Taktakan, Kota Serang.

Pertunjukan tersebut akan dilaksanakan pada Sabtu (3/2/2018), di pelataran belakang Museum Negeri Banten (eks Pendopo Gubernur Banten) pada pukul 20.00 WIB sampai dengan selesai. Bentuk kolaborasi tersebut memiliki tujuan melestarikan dan mengembangkan salah satu kesenian tradisional yang ada di Banten dengan cara menawarkan sebuah konsep pertunjukan teater eksperimentatif yang diwujudkan melalui kolaborasi kedua kelompok tersebut.

Sutradara pertunjukan, Imaf mengatakan, gagasan pertunjukan tersebut bermula dari sebuah pertanyaan dan pembacaan ulang terhadap diri (penggarap) yang terjebak pada arus kehidupan yang serba profane. Kehilangan sisi sakral dalam diri dan perlahan mengubur spiritualitasnya, menjadi manusia yang mengotak-ngotakan segala hal dan merasa menjadi subjek yang paling agung. Tetapi, dalam keagungan tersebut, dia merasa ada sesuatu hilang.

Sesuatu yang kian lama semakin tidak berdaya menuju kematiannya, yaitu kedalaman rasa yang bersumber dari kemurnian jiwa dan hati. Sehingga, merasa guncang, kehilangan arah, berjalan, namun tertidur. Terperangkap pada keinginan dan pikiran yang khoyal, memiliki perasaan yang beku, menjadi buta, melakukan perusakan alam yang dipijaknya. Memiliki tubuh yang rubuh, menjadi terpisah dan tidak utuh, dari keguncangan dan ketidak utuh antar sebut, maka lahirlah proses pertunjukan ini dengan konsep menubuhkan tubuh; Tebah, Tabuh, Tabah.

“Tebah, Tabuh, Tabah merupakan istilah atau bahasa lokal yang masing-masing kata memiliki makna. Tebah berasal dari kata ‘tetebah’ yang memiliki arti penyucian atau membersihkan. Terbang Gembrug sebagai media zikir juga menjadi prosesi pembersihan atau penyucian (tebah) untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta,” katanya saat latihan pementasan, di Balai Budaya Banten.

Ia menjelaskan, tabuh memiliki arti memukul pada alat musik pukul. Tabuh sangat erat kaitannya dengan waktu, karena secara historis alat pukul yang dibunyikan (tabuh) menjadi penanda waktu untuk menjalani atau memulai sesuatu yang dianggap sakral dan penuh spirit. Hal tersebut diwakili Terbang Gembrung sebagai alat musik pukul yang menghasilkan bunyi-bunyian ritmis yang selaras menjadi pengiring zikir.

Sedangkan, tabah, yaitu sebuah sikap kerelaan atau penyerahan diri kepada Tuhan atau penguasa alam, hal demikian tertuang dalam esensi kesenian terbang gembrung sebagai bentuk penghambaan kepada Sang Pencipta. Pertunjukan tersebut diwujudkan dalam bentuk pemanggungan arena dan outdoor yang terpusat pada stage yang didesain oleh Fahmi Ulhaq sebagai visual artist dalam keproduksian pertunjukan ini. “Pola permainan dalam pertunjukan ini didominasi oleh gerak tubuh aktor yang dimainkan Saduri Dagul, Acu Samsudin, dan Arif Sodakoh,” ujarnya. (Gito Waluyo)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here