Komitmen Lembaga Zakat Global

Efi Syarifudin.*

Oleh : Efi Syarifudin

Ada yang menarik dari kegiatan World Zakat Forum yang digelar di Bandung pada tanggal 5-7 November 2019 yang lalu. Dari 7 resolusi yang dihasilkan, bisa kita sederhanakan pada 3 isu utama saja. Pertama adalah tantangan perubahan teknologi digital. Kedua, transformasi manajemen, dan yang ketiga adalah kolaborasi kelembagaan global.

Perubahan teknologi digital pada era 4.0 telah mendisrupsi banyak hal. Mau tidak mau lembaga zakat harus beradaptasi dan mengikuti arus perubahan tersebut. Hal itu terjadi karena telah terjadi perubahan gaya hidup dan pergeseran cara tentang bagaimana masyarakat mempercayai sebuah institusi.

Fenomena keberhasilan platform kitabisa.com dalam mengampanyekan kegiatan sosial dan menghimpun dana melalui crowd funding, telah membuktikan bahwa masyarakat kita saat ini benar-benar sudah berada di era internet of things.

Bagaimana tidak, dalam waktu satu tahun operasionalnya, kitabisa.com mampu meraih dukungan publik melalui donasi yang massif. Penghimpunan donasi yang telah dilakukan awal kemunculannya, melampaui kemampuan lembaga zakat besar di Indonesia pada lustrum pertamanya.

Teknologi informasi dan media sosial mampu menstimulasi dan memobilisasi partisipasi publik secara lebih efektif dan efisien. Walau dari sisi akurasi distribusi platform online masih perlu kita uji dan dari sisi supervisi tentu masih perlu dibentuk regulasi yang presisi.

Jika tidak mampu melakukan perubahan manajemen, tentu lembaga zakat akan terlewati oleh zaman. Berbagai inovasi yang ditawarkan oleh berbagai platform online, telah menjadikan big data sebagai sebuah kekuatan yang powerfull dalam menentukan kebijakan strategis.

Penguasaan pada data akan mampu mendorong kebijakan pada arah yang tepat sesuai dengan apa yang telah dirangkum dalam kumpulan informasi yang diterima. Sehingga kebijakan suatu lembaga akan didukung oleh kekuatan data bukan hanya kumpulan dana.

Keberadaan blockchain tidak luput menjadi perhatian dari para pemerhati dan pegiat zakat internasional. Perkembangan blockchain sebagai sebuah sistem pencatatan akan mampu membantu manajemen informasi data transaksi yang lebih aman dan tidak bergantung pada pihak ketiga.

Karena melalui blockchain sistem pencatatan akan tersebar di banyak database (distributed ledger) yang tersebar luas di banyak komputer dengan pencatatan yang identik. Blockchain dianggap berpotensi untuk menjadi platform dalam menggali potensi zakat global yang dapat menghubungkan data antar negara dengan lebih efisien.

Seiring dengan perubahan teknologi tentu dituntut juga adanya transformasi manajemen kelembagaan. Karena perubahan teknologi juga berhadapan dengan berbagai risiko. Oleh karena itu, diperlukan konsern kelembagaan terhadap pengelolaan risiko spesifik dalam pemanfaatan teknologi digital. Transformasi dibutuhkan terutama pada perubahan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan dan kesadaran digital.

Selain dari aspek risiko perubahan manajemen juga diharapkan mengacu kepada Good Amil Governance. Dalam forum ini dipromosikan acuan “Zakat Core Principles” yang telah disusun oleh para pakar di Indonesia pada tahun 2016. Acuan ini diharapkan dapat memberikan panduan bersama dalam peningkatan manajemen zakat.

Terdapat 18 prinsip acuan dalam zakat core principles yang merupakan turunan dari 6 aspek utama pengelolaan zakat. Yaitu, hukum kelembagaan, pengawasan, good governance, manajemen risiko, fungsi intermediasi dan kepatuhan syariah.

Hal lain yang penting sebagaimana disebutkan adalah kerja sama dan koordinasi lembaga zakat dengan berbagai institusi global. Kerja lembaga zakat selama ini sejalan dengan resolusi internasional tentang Sustainable Development Goals (SDGs) yang disepakati pada tahun 2015 dan menjadi visi global hingga tahun 2030.

Beberapa poin SDGs, terutama terkait kemiskinan, keterbelakangan dan ketahanan pangan adalah kerja utama lembaga zakat selama ini. Selain terkoneksi dengan sesame lembaga zakat global, lembaga zakat diharapkan berkolaborasi dengan beberapa organisasi teknis di PBB dalam menjalankan visi SDGs ini.

Melihat rekomendasi arus perubahan digital lembaga zakat ini, beberapa lembaga zakat nasional telah melakukan transformasi dan membuat strategi perubahan. Lembaga zakat nasional Dompet Dhuafa misalnya, telah melaunching aplikasi MUMU (Membangun Ummat Menguatkan Ukhuwah).

Aplikasi ini tidak hanya melayani donasi online, tapi juga mempertemukan stakeholder terkait pelaksanaan zakat, infak dan wakaf. Demikian pula dengan Baznas telah lama aktif berkolaborasi dengan berbagai platform online yang banyak digunakan oleh masyarakat sebagai bagian dari perluasan akses layanan dan informasi.

Di Banten sendiri, menurut kajian Pro-poor and Philanthropy Studies (POROS) UIN Banten, LAZ Harfa sebagai OPZ tingkat provinsi telah melakukan perubahan manajemen dan budaya kerja yang responsif terhadap perubahan era digital. Sejak Oktober 2018, melalui jargon “Channel Kebaikan” LAZ Harfa telah melakukan perubahan signifikan pada proporsi SDM yang 80% diisi oleh generasi milenial.

Lebih dari 20% struktur kerjanya terkait dengan media informasi digital dan media sosial. Dampak perubahan ini telah direspon secara positif oleh stakeholder dengan adanya peningkatan sangat signifikan dari sisi penghimpunan dana dan juga dari penerima manfaat.

Hal itu membuktikan banyak kajian, bahwa transformasi kelembagaan ke arah e-government, digitalisasi layanan, intensifikasi informasi melalui media internet dan media sosial berdampak positif terhadap kepercayaan dan partisipasi publik. Tidak hanya partisipasi personal, tapi juga berbagai mitra institusional.

Resolusi Word Zakat Forum 2019 memberi sinyal positif bagi perkembangan zakat global di masa depan. Kontribusi lembaga zakat akan semakin luas memberi rahmat bagi kemanusiaan. Terlebih jika kolaborasi dilakukan secara terbuka dengan berbagai organisasi.

Perubahan digital harus diapresiasi sebagai dinamika perubahan saat ini dan akan semakin dinamis di masa depan. Jika perubahan-perubahan direspon lambat dan kurang bijaksana, maka akan menjadi tertinggal oleh perubahan itu sendiri.

Akhirnya, perubahan mindset pengelolaan zakat menghadapi globalisasi zakat di era digital tak bisa dianggap sepele. Mengingat Indonesia adalah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Terlebih potensi penghimpunan zakat Indonesia tidak bisa diremehkan, karena penduduk Indonesia adalah penduduk yang paling gemar berderma berdasarkan The World Giving Index (WGI) yang dipublikasikan oleh the Charities Aid Foundation.

Potensi ini bukan tidak mungkin akan direspon oleh platform crowdfunding global untuk menghimpun donasi dari Indonesia. Tentu kita tidak mau ini terjadi, mengingat kebutuhan Indonesia akan dana sosial sangat tinggi. Maka bersama-sama kita harus selalu aktif mendorong lembaga zakat di Indonesia untuk menjadi terdepan. (Penulis, Dosen FEBI UIN Banten dan Peneliti POROS)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here