Kolonialis Jepang Datang

KH. AM Romly, Ketua MUI Banten.*

Dr. H. AM Romly

Jepang menjadi suatu negara yang kuat dan agresif sesudah revolusi politik dan ekonom, yang dinamakan Restorasi Meiji. Jepang menjadi negara maju dan menjelma menjadi negara industri dan kapitalis yang tangguh. Orang Barat yang berperan sehingga timbulnya Restorasi Meiji ini adalah Commodore Perry, yang membuka pintu Jepang yang tadinya tertutup bagi dunia luar.

Struktur feodal masyarakat dan persoalan penyewaan tanah menyebabkan rakyat pada umumnya tidak menerima bagian yang setimpal dari perindustrian. Soal ini hampir dapat dikatakan sebagai sebab utama Jepang terpaksa menuju ke ekspansionisme imperialis dan kolonialis.

Tujuannya adalah mencari pasar-pasar baru untuk hasil-hasil industrinya. Sebab rakyatnya di dalam negeri tetap mempunyai pendapatan rendah sehingga daya beli dalam negeri juga tidak besar. Selain itu, Jepang sendiri negara yang miskin akan bahan-bahan mentah dan pertambangan.

Politik ekspansi Jepang sudah dimulai pada akhir abad ke-19 dengan kemenangan Jepang atas Cina (1895) dan kemenangan Jepang atas Rusia (1905). Kemenangan ini menghasilkan Korea dan Formosa (Taiwan) serta pengaruh di Manchuria. Dengan kemenangan-kemenangan ini Jepang diakui sebagai negara besar di Asia.

Perang Asia Timur Raya

Pada tanggal 10 Mei 1940 tentara Jerman menyerbu Negeri Belanda. Empat hari kemudian Pemerintah Jepang sudah mengadakan move pertama terhadap Hindia Belanda, kolonia di Asia Timur, atau dalam istilah konstitusi Belanda disebut Wilayah Kerajaan di Asia. Pada tanggal 14 Mei 1940, pemerintah dan Ratu Belanda meninggalkan negerinya untuk mengungsi ke London.

Pada kesempatan kunjungan Menteri Luar Negeri Jepang, Matsuoka, ke Eropa, Jepang mendapat pengakuan dari Hitler sebagai Pemimpin Asia Raya. Sedangkan Hitler sendiri menyebut dirinya sendiri menjadi Pemimpin Eropa, dan Musolini, Pemimpin Afrika. Rupanya Hitler juga mendorong Matsuoka, untuk menyerang koloni-koloni Inggris dan Belanda pada kesempatan itu bersamaan dengan suatu invasi Jerman ke Inggris.

Banyak intelektual Indonesia dan pemimpin-pemimpin lain, dengan melihat kenyataan-kenyataan bahwa melalui Belanda tidak dapat dicapai kemerdekaan, tidak bersikap bermusuhan terhadap Jepang. Banyak pemimpin Indonesia yang mengagumi Jepang, sebagai satu-satunya negara Asia yang dapat memodernisasi diri, menjadi besar, dan dihormati atau ditakuti oleh dunia.

Perang Asia Timur Raya (Dai Toa no Senso) pecah dengan serangan armada laut dan udara kekaisaran Jepang ke Pearl Harbour pada tanggal 7 Desember 1941. Jepang terpancing oleh provokaasi Franklin D. Roosevelt yang mengeluarkan perintah untuk melakukan embargo atas seluruh perdagangan antara Amerika Serikat dengan Jepang terhitung mulai bulan Oktober 1941 dalam rangka memancing kemarahan Jepang.

Serangan terhadap pangkalan angkatan laut tebesar di Pasifik itu tersebut ditujukan untuk menghancurkan armada Amerika Serikat yang ditugasi untuk melakukan blokade terhadap pasokan minyak bumi dari Asia Tenggara ke Jepang. Dalam tempo kurang dari satu jam pangkalan angkatan laut tersebut luluh lantak.

Jepang menjajah Indonesia

Dengan serangan Jepang ke Pearl Harbour itu, maka Perang Asia Timu Raya dimulai. Armada kekaisaran bergerak dengan cepat. Mereka menyerbu Sarawak yang dijajah Inggris, kemudian menyerang Filipina yang sedang dikuasai Amerika. Panglima Tentara Amerika Serikat di Filipina, McArthur berhasil meloloskan diri melalui Corrigedor ke Australia, dengan kata-kata bersayapnya: I shall return.

Dari Filipina mereka menyerang dan menguasai Kalimantan, wilayah kekuasaan Belanda. Hubungan Kalimantan dengan pulau-pulau lainnya terputus total. Selanjutnya Jepang menguasai Laut Jawa dan menyerang Pulau Jawa, Pusat pemerintahan kolonial Belanda. Pada tnggal 27 Februaru 1942 seluruh kekuatan laut Belanda dihabisi oleh Jepang di bawah komando Laksamana Kurita, dalam pertempuran laut Jawa, yang berlangsung hampir satu bulan lamanya.

Sisa armada sekutu yang selmat milik Australia dan Amerika melarikan diri ke Australia. Dalam pertempuran laut itu panglima angkatan laut Belanda Laksamana Karl Doorman tewas. Pertempuran laut Jawa yang legendaris tersebut telah menutup nasib Hindia Belanda.

Sebulan setelah hancurnya armada sekutu dalam pertempuran laut Jawa, pada 8 Maret 1942, di Bandung, Pemerintah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jenderal Imamura, panglima Ryuku-gun ke-16. Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenberg-Stachouwer menjadi tawanan perang. Dengan penyerahan Belanda ini, maka Jepang mulai menancapkan kuku imperialisme dan kolonialismenya di Indonesa. Ibaratnta keluar dari mulut harimau masuk mulut buaya. Indonesia yang pada mulanya dijajah Belanda menjadi jajahan Jepang.

Pada umumnya, di awal kedatangan Jepang, kehadirannya disambut baik dan dengan penuh suka cita. Rakyat Indonesia percaya bahwa Jepang datang sebagai pembebas. Kepercayaan itu semakin kuat ketika Jepang mengizinkan bendera nasional merah putih dikibarkan dan lagu nasaional Indonesia Raya dikumandangkan; dua hal penting yang dulu dilarang Belanda.

Alasan terpenting pendudukan Jepang justru diterima oleh kaum terpelajar Indonesia adalah karena penguasa baru tersebut lebih mampu meningkatkan status sosial ekonomi orang Indonesia, cukup dengan kebijakan tanpa kekerasan. Lebih lagi, dalam waktu enam bulan sejak kedatangannya, Jepang memenjarakan semua penduduk Belanda, sebagian besar orang Indo-Eropa, dan sejumlah orang Kristen Indonesia yang dicurigai pro-Belanda ke dalam kamp-kamp konsentrasi.

Sikap umat Islam Indonesia

Merasa berhasil menemukan Islam Asia di pertengahan tahun 1920-an, lantas Jepang mengangkatnya sebagai salah satu poros utama politik regional mereka. Mereka lalu mengirim sejumlah mahasiswa untuk belajar di Mesir demi mempropagandakan Islam. Pada tahun 1939, Tokyo menjadi tuan rumah konferensi Pan-Islam yang dihadiri para wakil MIAI.

Beberapa bulan sebelum invasi Jepang, dibentuklah sebuah jaringan bawah tanah di Nusantara. Di Sumatera, jaringan tersebut membantu pendaratan tentara Jepang. Sekali menjejakkan kaki, Jepang langsung membangun landasan tumpuan di tengah masyarakat Islam Indonesia dalam rangka memobilisasi dukungan penduduk.

Jepang mencari dukungan dari umat Islam, dengan memberi perhatian kepada para ulama. Mereka mendapat kedudukan terhormat sekaligus signifikan. Upaya tersebut dimaksudkan agar para ulama mendukung kampanye propaganda yang bertujuan untuk meningkatkan perlawanan terhadap sekutu dengan dalih membela Islam dalam melawan orang kafir yang memperbudak penduduk muslim di Indonesia.

Namun hampir semua ulama tidak sudi dijadikan alat untuk mencapai tujuan perang Jepang. Ternyata mayoritas dari mereka merasa jengkel karena Jepang memperlakukan agama Islam secara sembrono. Rakyat dipaksa membungkuk ke arah Tokyo, dan terutama dipaksa untuk mengagung-agungkan Kaisar Jepang sebagai sosok yang layak ditempatkan dalam ranah keagamaan. Kebencian terhadap Jepang menyebabkan mereka lebih menekankan kemerdekaan Indonesia di atas segalaya, dan hal itu sering dibarengi dengan sikap anti Jepang dari pada anti sekutu.

Kegagalan pemerintah kolonial Jepang merangkul umat Islam, menimbulkan kecurigaan. Pemerintah kolonial Jepang mengawasi kegiatan politik umat Islam. Bahkan Jepang menolak segala bentuk ekspresi politik Islam. Dengan sikap yang demikian, Pemerintah Kolonial Jepang membubarkan secara resmi Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII) dan dan Partai Islam (PI) pada tahun 1942. (Penulis, Ketua Umum MUI Provinsi Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here