Kita Kehilangan Mutiara

Ahad 17 desember 1989 merupakan pertama kali saya berjumpa dengan ulama yang sangat kharismatik, beliau adalah kiyai Muhammad Syafii Hadzami. Pertemuan pertama pertama yang sangat mengesankan bagi saya diawali oleh ajakan seorang jamaah almarhum yang bernama haji Zaini. Beliau tinggal di Kelurahan (dulu masih desa) Pondok Ranji Kecamatan Ciputat (belum terjadi pemekaran wilayah) Kabupaten (belum menjadi Tangerang Selatan) Tangerang.

Subhaanallah….saya tidak patut untuk menggambarkan dalam dan kayanya ilmu yang dimiliki oleh almarhum almagfurlah kiyai haji Muhammad Syafii Hadzami karena saya anak yang masih bau kencur pada saat itu (baru menginjak di semester 4 di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sebelum berubah menjadi UIN). Saya sangat berterima kasih kepada almarhum bapak haji Zaini dan almarhumah umi Aisyah yang telah membawa saya ke majlis ilmu yang sangat saya kagumi. Semoga keduanya memperoleh kemuliaan dan pahala sebagaimana sabda nabi :  “Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan,maka pahalanya sama dengan yang mengerjakannya”

Pada saat itu saya masih sendiri belum berumah tangga, sehingga alhamdulillah saya dapat mengikuti pengajian almarhum di beberapa majlis seperti di masjid Himmatul Masaakin di Taman Puring, Ni’matul Ittihad di Pondok Pinang, masjid Al Ma’mur Tanah Abang, Baitul Auliyaa di Serengseng Ciledug. Pada saat itu seakan akan akan dahaga saya hilang karena telah mendapatkan sumur yang tak pernah kering (judul buku biografi almarhum kiyai Muhammad Syafii Hadzami), seolah olah saya memiliki bongkahan mutiara yang tidak akan pernah habis. Dan perasaan beruntung itu dirasakan pula (bahkan lebih dahulu) dan selalu diceritakan oleh almarhum buya Saefuddin Asir pada saat memperingati haul nya almarhum almagfurlah kiyai Muhammad Syafii Hadzami. Pada saat waafatnya saya sangat merasa kehilangat, seakan akan sumur itu mendadak kering.

Alhamdulillah….saya dipertemukan oleh Allah dengan seorang ulama yang kharismatik yang dapat menggantikan kedudukan di majlis ilmunya almarhum almagfurlah kiyai Muhammad Syafii yaitu buya kiyai Saefuddin Amsir. Ke ilmuannya diakui oleh ulama ulama besar, ketokohan tasawufnya menghantarkan di kancah tasawuf tingkat dunia. Kemampuannya di dalam penguasaan kitab kuning mewarisi kehandalan dan kedalaman guru beliau. Ketokohannya di dalam organisasi NU menempatkan beliau (kiyai Saefuddin Amsir) di posisi posisi penting. Kehilangan saya pada saat wafatnya kiyai Muhammad Syafii Hadzami sangat terobati dengan hadirnya sosok ulama dan guru yang luas keilmuan dan kefahamannya yaitu buya haji Saefuddin Amsir (Anggota Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI Provinsi Banten).

Hari ini, (karena datangnya berita wafatnya buya Saefuddin Amsir) perasaan kehilangan mutiara kembali terulang mengingatkan suasana hati saya dulu pada saat datang berita wafatnya kiyai haji Muhammad Syafii Hadzami. Wafatnya seorang ulama merupakan padamnya pelita alam semesta. Sulitnya mencari pengganti ulama melebihi kesulitan mencari “Klenteng” (biji buah kapuk) yang diletakkan di tengah tengan stadion Glora Bung Karno. Saya selalu berharap, mudah mudahan pelita jagat raya yang akan.menerangi alam semesta itu adalah anak anak dan cucu cucu kita. Aamiiin yaa mujiibas saailiin. Wallaahu ‘alamu bish shawaab wa ilaihil musta’aan. (Nasuha Abu Bakar,MA/ Anggota Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI Provinsi Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here