Rabu, 16 Januari 2019

Kisah Sahani Korban Selamat Tsunami Selat Sunda: Lompat dari Bagan di Tengah Laut, Berenang 2 Jam Hingga Daratan

Gelombang tsunami selat sunda telah meluluh-lantahkan sebagian besar wilayah di Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Sabtu (22/12/2018) malam lalu. Gelombang air laut yang diperkirakan setinggi pohon kelapa itu, telah menghancurkan permukiman warga terutama yang dekat dengan bibir pantai.

Sore itu, Senin (24/12/2018), cuaca di Kampung/Desa Sumur, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang baru saja reda setelah diguyur hujan deras. Sebagaian warga di pesisir pantai, satu persatu kembali ke rumahnya untuk mengambil barang-barang berharga yang masih tersisa pasca diterjang gelombang tsunami selat sunda.

Meskipun masih dirundung rasa kekhawatiran, warga khususnya pemuda dan orang dewasa tetap memaksakan diri untuk kembali ke rumahnya yang sudah porak poranda diterjang gelombang tsunami. Mayoritas, warga mencari sejumlah barang berharga seperti sertifikat, data kependudukan beserta pakaian bersih yang tersisa di rumahnya.

Ditengah-tengah kesibukan warga, Kabar Banten menemui salah salah satu pria yang berhasil selamat dari bencana maut tersebut. Namanya Sahani (25), warga setempat yang berprofesi sebagai seorang nelayan, dan menjadi saksi bagaimana ombak setinggi pohon kelapa datang meyapu rumahnya dari arah tengah laut.

Kepada wartawan, pria yang akrab disapa Sani ini bercerita, pada saat kejadian ia sedang berada di tengah lautan menaiki bagan. Waktu itu, ia bersama tiga orang tetangganya sedang melakukan aktivitas biasa layaknya nelayan pergi ke tengah laut untuk mencari ikan.

Sani juga masih ingat, saat itu ia berangkat bersama rombongan sebanyak 25 orang dari dermaga Kecamatan Sumur menggunakan perahu tradisional milik nelayan setempat. Mereka kemudian berpencar ke 5 bagan. Satu bagan, diperkirakan diisi oleh 4-6 orang.

“Waktu itu berangkatnya sore sekitar jam 5, sebelum magrib. Saya satu bagan sama tiga teman saya yang kebetulan rumahnya juga masih tetanggaan,” katanya.

Sani tiba di bagan bersama tiga rekannya sekitar pukul 19.00 WIB. Setibanya di bagan, pria yang dalam waktu satu bulan lagi akan menjadi seorang bapak ini seperti biasa langsung melakukan aktivitas menurunkan jaring di tengah lautan.

Kemudian, sekitar pukul 20.00 WIB, Sani beserta ketiga rekannya sudah menaikkan kembali jaring bagannya. Hanya dalam waktu satu jam, keempat orang yang berteman sejak kecil itu telah mendapatkan ikan tangkapan yang disimpan dalam rombong, wadah tradisional ikan tangkapan yang biasa dipakai oleh setiap nelayan.

“Udah ada 17 rombong yang kita dapat waktu itu. Alhamdulillah, tangkapan lagi bagus, cuaca juga bagus. Mendukung banget,” ujarnya.

Usai mengumpulkan ikan tangkapan, Sani bersama tiga temannya kemudian beristirahat di bagan sambil bercerita terkait persiapan dirinya yang sebentar lagi akan menjadi bapak. Waktu itu, tidak ada seorang pun yang memiliki firasat bahwa gelombang tsunami tinggi akan datang dan menyapu daratan di Kecamatan Sumur.

“Kami ngobrol-ngobrol sambil ngopi. Kebetulan kan saya lagi enggak sehat pas di sana, jadi banyak dibercandain sama teman. Jangan kebanyakan kerja katanya, istri sudah nunggu di rumah,” tutur Sani sambil mengenang detik-detik bencana tsunami.

Sambil menyeruput kopi hitam di depan rumahnya, Sani kembali melanjutkan cerita bagaimana awal mula tsunami tersebut tiba. Saat itu kira-kira pukul 21.00 WIB, Sani bersama tiga rekannya merasakan bagan yang mereka naiki tiba-tiba tertarik oleh gelombang air laut.

Awalnya mereka hanya mengira bahwa itu gelombang pasang biasa. Sebab, empat sekawan ini sudah terbiasa berada di tengah laut sejak kecil dan ikut bersama orang tuanya yang juga berprofesi sebagai nelayan.

“Kami ngiranya cuma pasang biasa doang. Waktu itu kan emang terang bulan, jadi emang sudah biasa kalau kondisinya kayak gitu,” ujar Sani.

Hingga muncul ombak yang pertama, keempat sekawan ini masih bersikap biasa saja karena gelombang air laut dianggap dalam kondisi normal. Namun selang hampir setengah jam, kepanikan melanda Sani beserta tiga temannya yang sedang menaiki bagan di tengah laut saat ombak kedua muncul.

Kata Sani, ombak kedua tiba-tiba muncul dari arah belakang. Ia tidak sempat melihat gelombang air laut tersebut. Namun gelombang itu sangat terasa olehnya. Tidak lama kemudian, ketegangan terjadi di bagan yang ditumpangi Sani beserta ketiga orang temannya tersebut.

Bagan yang ditumpangi Sani, tiba-tiba hampir terperosok ke bawah akibat diterjang gelombang tsunami. Bagan itu kata dia, seperti hendak jatuh dari ketinggian. Padahal, saat itu tidak ada tanda-tanda apapun, termasuk merasakan adanya gelombang tsunami yang muncul.

Peristiwa itu membuat mereka semakin panik. Ditambah, posisi bagan, sudah berada di tengah-tengah gelombang tsunami dan hampir digulung ganasnya ombak yang belakangan diketahui berasal dari erupsi Gunung Anak Krakatau tersebut.

Karena ingin menyelamatkan diri, mereka kemudian meloncat dari bagan ke dalam lautan. Usaha mereka berempat rupanya tidak sia-sia. Sambil berpegangan kepada sebatang bambu yang panjang, mereka bisa melewati terjangan gelombang tsunami di lautan tersebut.

“Daripada kami semua enggak selamat, kami waktu itu mutusin buat loncat aja. Soalnya, bagannya juga udah mau kegulung ombak,” tutur Sani.

Di depan mata Sani, ia melihat sendiri bagaimana ombak kira-kira setinggi pohon kelapa itu melaju dari tengah lautan menuju perkampungannya. Karena khawatir memikirkan istrinya yang sedang mengandung 8 bulan, ia mengajak ketiga rekannya agar berusaha berenang di tengah lautan sampai ke pesisir.

“Saya waktu abis loncat itu kepikiran istri terus. Mana lagi hamil tua. Di rumah juga cuma ada bapak yang udah sepuh sama adik saya yang masih 9 tahun. Saya paksain, untung teman-teman saya semuanya kompak. Semua harus sampai dengan selamat ke daratan,” ucapnya.

Perjuangan Sani beserta tiga rekannya cukup berat. Setidaknya, ia membutuhkan waktu selama 2 jam agar bisa sampai di daratan. Waktu itu, Sani bercerita bahwa mereka tertolong oleh sebatang bambu yang terlepas dari bagan mereka yang sudah hancur disapu tsunami.

Setelah dua jam berenang dari tengah laut, Sani dan ketiga rekannya kemudian tiba tepat di depan kediaman mereka. Nahasnya, kediaman empat orang ini sudah porak poranda diterjang gelombang tsunami. Tidak ada yang tersisa dari bangunan mereka, ditambah saat itu kondisi perkampungan sudah gelap.

Sani bersama ketiga temannya kemudian memutuskan untuk berpisah, dan mencari anggota keluarganya yang masih selamat. Namun, kepanikan kembali terjadi. Sani tidak menemukan istri beserta bapak dan adiknya yang saat itu sedang beristirahat di dalam rumah.

“Pas nyampe rumah, saya panik. Enggak ada orang di dalam. Saya tadinya udah pasrah, udah enggak bisa ketolong. Tapi, salah satu teman saya ngajak ke hutan belakang rumah. Dia dapat informasi kalau keluarganya ada di sana. Akhirnya saya memutuskan ikut, mudah-mudahan bisa ketemu di sana,” kata dia.

Setibanya di tempat tersebut, Sani belum bisa menemukan anggota keluarganya. Ia kemudian memutuskan untuk kembali ke rumahnya dengan kondisi pasrah. Apapun hasilnya, ia berharap bisa menemukan anggota keluarganya meskipun sudah dalam kondisi meninggal dunia.

“Saya putusin balik lagi ke rumah, tapi nyari di rumah juga enggak ketemu aja. Soalnya saya kira nyangkut di sela-sela tembok. Waktu itu rumah sudah hancur. Mau ganti baju juga enggak bisa, basah semua,” ujarnya.

Untungnya, Minggu sekitar pukul 04.00 WIB, ada warga yang melihat Sani sedang berada di rumah. Warga tersebut kemudian memberitahunya bahwa keluarga Sani selamat dan berada di tempat pengungsian.

Sani, akhirnya bisa bertemu dengan istri, bapak dan adiknya yang masih berumur 9 tahun. Ia pun bisa menatap lembaran baru dan mempersiapkan diri menjadi seorang bapak dalam waktu satu bulan ke depan.

“Saya khawatir sama istri terus. Alhamdulilah bisa ketemu, adik sama bapak saya juga Alhamdulilah selamat semua,” tutur Sani mengakhiri perbincangannya dengan Kabar Banten. (Rifat Alhamidi)*


Sekilas Info

Toyota Rush Terperosok ke Jurang

PANDEGLANG, (KB).-¬†Sebuah mobil Toyota Rush putih A 1286 KD mengalami kecelakaan tunggal terperosok ke jurang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *