Kisah Penjaga Makam Pahlawan Sultan Ageng Tirtayasa, Bangga Walaupun Digaji Sekadar ”Uang Sabun”

Rasa bangga memang menjadi kunci akan setiap perbuatan kita. Materi bukan menjadi alasan seseorang untuk bisa melakukan pekerjaan. Sebagian orang tentunya tidak mau bekerja jika digaji dengan nominal yang jauh dari kecukupan.  Namanya Jahidi Umar. Sepintas sosoknya tak jauh berbeda dengan laki-laki yang sudah berusia senja pada umumnya. Wajahnya dihiasi puluhan kerutan, penanda dia telah menjalani ribuan hari.

Kesehariannya pun mirip dengan warga sekitar lainnya, tak ada yang berbeda. Caranya berbicara yang lembut dan ramah, serta senang berbincang dengan warga sekitar. Berpakaian sederhana dengan sarung dan batik tangan panjang serta kopiah yang tak lepas dari kepalanya. Namun, dibalik kesahajaannya, siapa sangka tersimpan kesetiaan luar biasa pada laki-laki yang berdomisili di Kampung/Desa/Kecamatan Tirtayasa Kabupaten Serang ini. Predikat Ketua Pengelola Makam Pahlawan Nasional Sultan Ageng Tirtayasa melekat padanya sejak tahun 2004 lalu. Predikat itu didapatkannya dari warisan para kakek buyutnya sejak 4 generasi lalu. “Turunan dari orangtua, buyut bahkan sampai 4 turunan dan ke saya,” ujar Jahidi saat berbincang dengan Kabar Banten di lokasi, Rabu (16/8/2017).

Menurutnya, tak ada alasan lain yang membawanya setia pada pekerjaannya. Kebanggaan lah yang telah membuatnya memilih untuk menjaga makam sosok yang menjadi bagian dari sejarah besar Kesultanan Banten ini. Walaupun tak banyak rupiah yang bisa didapatkannya dari pekerjaannya tersebut, namun itu sudah lebih dari cukup. Untuk mengganti uang lelahnya, setiap bulan dirinya mendapatkan gaji dari pemerintah setempat sebesar Rp 250.000. Uang itu digunakannya untuk keperluan sehari-hari. “Kalau uang sabun itu Rp 250.000 per bulan dari kabupaten dan provinsi,” katanya.

Dirinya percaya, berapapun uang yang dimilikinya, pasti akan mampu menghidupi keluarganya. Sebab menurutnya, Allah maha segalanya dan sudah mengatur rezeki setiap makhluknya. Oleh karenanya, yang terpenting keikhlasan dalam setiap perbuatan, dan kecukupan akan didapatkannya. “Allah saja maha segalanya, orang kakek saya saja enggak ada yang PNS tapi bisa hidupi keluarga. Saya punya anak empat sekarang sudah pada ngehonor,” ucapnya.

Menurut dia, pengurus di makam pahlawan tersebut bukan hanya dirinya seorang. Namun masih ada pengurus lainnya. Sehari-hari dirinya bertugas membersihkan makam dan sekitarnya serta melayani para pengunjung yang membutuhkan informasi berkaitan dengan situs tersebut. Jika waktu makan siang tiba dirinya kerap menyempatkan pulang ke rumahnya yang tidak jauh dari lokasi.

Dirinya kerap merasa sedih jika melihat kondisi makam pahlawan itu. Sebab, kondisinya masih belum benar-benar terawat. Padahal, Tirtayasa adalah tokoh penting dan memiliki jasa besar di tanah Jawara ini. Bahkan jika datang pengunjung dari wilayah Jawa, mereka kerap menanyakan kondisi tersebut padanya. “Kalau mengingat pahlawan nasional itu lucu, fisiknya (bangunan peninggalan) pada hancur. Suka diketawain sama pengunjung, sebab kalau di Jawa mah makam kiai saja bagus-bagus,” tuturnya.

Dirinya berharap perhatian pemerintah untuk makam pahlawan itu bisa lebih besar. Sebab saat ini makam Sultan Ageng Tirtayasa yang berdiri di atas tanah seluas 2 hektare tersebut kondisinya pun belum terawat benar. Itu tergambar dari beberapa bangunan disekitarnya yang telah mulai lapuk dan bahkan sudah banyak yang berlubang. “Enggak ada gapura juga, kalau mobil pengunjung itu suka pada susah mau masuknya. Disini atap sudah pada bocor juga, kasihan yang pada berkunjung,” ucapnya.

Selain itu, pengunjung yang datang ke makam tersebut juga bukan hanya berasal dari dalam wilayah Banten. Namun banyak juga yang datang dari luar Banten bahkan luar negeri. Mereka yang datang dari jauh biasanya menginap di sana. Namun karena kondisi bangunan di sekitarnya banyak yang telah rusak, membuat para pengunjung kerap kesulitan. “Rumah tempat nginap juga ngerempeyek (reot). Tempat penginapan ini dibangun tahun 1965-an. Ada 4 kamar rusak semua. Kalau direnovasi bisa tapi biayanya enggak ada,” katanya.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here