Senin, 20 Agustus 2018

KISAH HAJI: Ditolong Sandal Cepit

CERITA-cerita unik seringkali menyertai kepulangan jemaah haji ke tanah air. Tak sedikit peristiwa yang menimpa tamu Allah itu sulit dijamah dan diterjemahkan dengan logika.

H. Embay Mulya Syarif merupakan salah seorang tokoh Banten yang pernah mengalami peristiwa aneh ketika berada di tanah suci. Peristiwa tersebut terjadi ketika pakar ekonomi syariah itu menunaikan ibadah haji keduanya, yakni tahun 1986.

“Pagi-pagi sekali saya berniat ke Mina untuk melempar jumroh. Saya berangkat dari pondokan bersama sembilan jemaah lainnya,” kata Embay menuturkan.

Dari 10 jemaah tersebut, hanya Embay yang tidak mengenakan alas kaki. Alasannya, selain ingin olahraga ia juga menyiasati agar tidak keinjak-injak jemaah lain. Maklum, melempar jumroh merupakan rangkaian ibadah haji yang memerlukan perjuangan fisik cukup berat. Pasalnya, selain berperang dengan sengatan matahari juga harus rela berdesak-desakan dengan ratusan ribu jemaah dari berbagai negara.

“Itu sebabnya saya memilih nyeker. Sendal cepit yang saya bawa dari tanah air, sengaja ditinggal di pondokan,” kata H. Embay.

Seusai melempar jumroh, timbul pikiran untuk melanjutkan perjalanan ke Mekah agar bisa Salat Zuhur di Masjidil Haram. Sebab kalau pulang ke pondok, jarak ke Masjidil Haram relatif lebih jauh.

“Alhasil, perjalanan dari Mina ke Masjidil Haram juga saya tempuh dengan berjalan kaki tanpa sandal. Karena belum masuk tengah hari, panasnya padang pasir belum terasa,” ungkap mantan Presiden Direktur PT Buana Centra Swakarsa.

Pengurus MUI Provinsi Banten ini mengaku tak berpikir, siang hari panas di Mekah sangat menyengat. Berjalan tanpa sepatu, bisa membuat telapak kaki terluka karena kepanasan.

“Ketika memasuki Masjidil Haram, jemaah lain mengumpulkan alas kaki pada satu tempat. Karena tidak memakai sandal, saya langsung masuk dan mengambil air wudlu,” ungkap H. Embay.

Seusai Salat Zuhur, rombongan H. Embay mengambil sandal masing-masing di tempat penitipan. Betapa kaget mereka, ternyata sandal cepit H. Embay juga berada di tempat itu. Padahal, sendal tersebut sengaja ditinggal di pondokan.

“Teman-teman saya juga pada heran. Kok sendal cepit ini bisa jalan sendiri. Berkat sandal tersebut, saya gak pulang ke pondokan dengan telanjang kaki. Wah kalau nyeker, panas juga. Sebab jarak antara masjid dan pondokan sekitar 4 kilo meter,” ungkapnya.

Keanehan masih berlanjut. Ketika akan pulang ke tanah air, sendal cepit tersebut tiba-tiba hilang. Padahal ia yakin, benda yang dibeli di Banten itu sudah dimasukkan ke tas. (SY)*


Sekilas Info

Ditolak Ormas, Ceramah Ustadz Abdul Somad di Semarang Banjir Jemaah

SEMARANG, (KB).- Meski sebelum ada penolakan dari ormas Patriot Garuda Nusantara (PGN), tabligh akbar bersama Ustadz …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *