Khatib Berkampanye

Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Provinsi Banten mengendus adanya khatib yang kampanye. Padahal, tempat ibadah merupakan salah satu lokasi terlarang untuk kampanye.

Ketua Bawaslu Provinsi Banten Didih M Sudi mengatakan, larangan tempat ibadah menjadi lokasi berkampanye sudah termaktub dalam undang-undang tentang pemilihan umum (pemilu).

“Kampanye itu memang kita punya peraturan, di undang-undang bahwa tidak boleh misalnya di tempat ibadah. Di musala, masjid begitu,” ujarnya kepada wartawan, akhir pekan kemarin.

Pada kenyataanya Bawaslu Banten menemukan adanya dugaan kampanye dengan mengarahkan memilih, pada salah satu peserta pemilu yang dilakukan di tempat ibadah. Dugaan kampanye itu, dilakukan oleh seorang khatib.

“Tapi masih kita temukan ada imam atau khatib di pengajian yang kreatif. Di masjid teriak-teriak mengajak kepada capres tertentu atau partai tertentu,” katanya.

Ia menegaskan, larangan kampanye di tempat ibadah tidak berarti Bawaslu Banten melarang peserta pemilu datang ke tempat ibadah. Bawaslu bahkan mendorong masyarakat ataupun peserta pemilu untuk senantiasa beribadah.
Akan tetapi, dalam kapasitas sebagai peserta pemilu ada beberapa persyaratan yang tidak boleh dilanggar.

“(Peserta pemilu ke masjid) boleh, tetapi ada syaratnya tiga. Satu misalnya dia ada surat undangan, jadi kalau ada undangan rajaban gitu kan, itu harus ada undangannya. (Ketentuan) itu (untuk) masjid di luar lingkungan dia,” katanya.

Syarat kedua yaitu yang bersangkutan tidak boleh menggunakan atribut politik, seperti atribut partai. “Ketiga kalau pun dikasih sambutan, katakanlah sebagai tokoh, maka tidak boleh mengajak-ajak. Kalau tidak ada unsur itu terpenuhi, aman, tidak jadi persoalan,” ujarnya.

Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Banten Bazari Syam mengimbau tokoh agama tidak terlalu jauh menyeret atribut keagamaan kepada kepentingan politik.

“Saya sebenarnya begini, figur kiai yang pakai sorban berpeci putih terus dikreasi seperti ini menjadi persoalan kan, nah ini akan rawan menimbulkan persoalan keagamaan. Ya kreatif yang lain lah, jangan yang itu (kampanye),” ucap Bazari Syam. (Sutisna)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here