KH Syamsul Hadi Abdan Dalam Kenangan

Oleh : Dr KH Ikhwan Hadiyyin, MM

Pondok Modern Darussalam, Gontor, telah kehilangan salah satu putra terbaiknya, seorang pimpinannya KH. Syamsul Hadi Abdan. Beliau telah dipanggil kembali ke hariban-Nya Yang Maha Pengasih. Pada hari Senin, 25 Ramadan 1441/18 Mei 2020 pukul 09.15 WIB di RSUD dr. Soedono, Madiun, setelah mengalami perawatan selama beberapa hari.

Secara pribadi, saya merasa sangat kehilangan beliau. Maka tadi siang kami ingin berangkat ta’ziyah ke Gontor, namun Prof. Amal Fatahullah Zarkasyi via WA grup kiai, menyarankan, di musim pandemi corona ini sebaiknya para kiyai ta’ziyah via on line atau media sosial saja.

Selain memang kami masih diikat dalam pertalian saudara dekat dari Bani mbah “Kiai Nedo Besari” Mambil putra Tegalsari, saya dididik ustad Syamsul Hadi Abdan sejak kelas l Madrasah Diniyyah Mambil, Gandu , Mlarak , Ponorogo. Di tahun 1967 hingga kls 6 KMI Gontor tahun 1979, bahkan juga mengajar saya di IPD Gontor di tahun 1982.

Beliau sosok guru sejati yang tulus ikhlas, sabar, mujahid, bijaksana, zuhud dan istiqomah. Sejak berdirinya madrasah diniyah Mambil tahun 1967 ustad Syamsul sudah aktif mengajar meskipun murid di dalam kelasnya tinggal 1 siswa.

Ketika tahun 2006, beliau ditunjuk Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor (merupakan lembaga atau badan tertinggi di PM Gontor)untuk menjadi pimpinan PM. Gontor mendampingi KH. Abdullah Syukri Zarkasyi dan KH. Hasan Abdullah Sahal.

Meskipun kesibukannya di Gontor sangat padat, beliau tidak pernah meninggalkan masyarakatnya. Tetap mengajar di TIM Mambil. Selain itu, setiap bakda shubuh aktif mengisi kajian kitab Tafsir Al Ibriz yang berbahasa Jawa di masjid Baiturrohmah, yang diikuti puluhan jamaah putra dan putri sejak tahun 1970an hingga beberapa bulan yang lalu sebelum beliau jatuh sakit.

Menurut almarhumah ibu saya, peserta aktif jamaah, dalam setahun kuliah shubuh itu liburnya hanya 2 hari ,tatkala 1 Syawal dan 10 Dzul Hijjah. Ketika hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Sehingga kajian tafsir tersebut sudah hatam beberapa kali.

KH. Syamsul Hadi Abdan sosok guru dan kiai yang sangat sederhana dan zuhud. Meskipun beliau pimpinan PM Gontor yang santrinya lebih 25 ribu, yang menelurkan para pemimpin internasinal dan nasional. Sebut saja Idham Kholid, Nur Kholis Majid, Hasyim Muzadi, Maftuh Basuni, Din Syamsuddin, Hidayat Nur Wahid dll.

KH. Syamsul tetap memilih hidup sederhana dan zuhud. Bila ada waktu kosong di pagi dan sore hari tidak segan membawa cangkul ke sawah, menjemur padi di kediamannya seperti layaknya para petani kampung.

Kiiai Syamsul dikenal sangat sabar mendidik santri- santrinya. Sejak saya jadi siswanya di TIM, santri di KMI Gontor dan mahasiswa IPD. Belum pernah dimarahi. Paling keras beliau menasehati dan mengarahkan dengan nada yang agak serius dan diiringi senyumannya yang khas.

Dalam kelakarnya pak KH. Syukri Zarkasyi pernah mengatakan : “Puncak marahnya Pak Yai Syamsul itu bisa ditandai dengan diamnya tersebut !”. Satu tahun yang lalu tepatnya tanggal 25 Ramadan 1440 H, kami mengadakan buka bersama (ifthor jama’i ) antara masjid barat ( masjid Nedo Besari ) dan masjid timur (masjid Baiturrohmah).

Saya mohon untuk menentukan tempatnya. Beliau menyarankan agar tempat acara di masjid barat saja. Saat itu kami mohon supaya beliau mengisi kultumnya. Dengan menyesal yang sangat dalam ,beliau tidak bisa ,karena harus mengantarkan istri beliau berobat ke Solo.

Namun, kami cukup kaget, tanpa disangka-sangka pada pukul 16.30 tanggal 26 Ramadan beliau bersama istrinya menghadiri acara Bukber yang kami adakan. Ternyata beliau menjadwal ulang acara ke Solo dan memilih menghadiri undangan kami. Ternyata itu pertemuan resmi terakhir bersama pak Yai Syamsul.

Meskipun secara non formal kami masih sering silaturrahim dan membesuk sakit beliau saat di RSU AD Jakarta dan tatkala di Gontor. Juga sering mengadakan komunikasi via media soaial dengan putra dan sekaligus kader utama beliau ust. Harits, MPd.

Alhamdulillah, selama dua puluh lima tahun, berdirinya ponpes modern Darel Azhar Rangkasbitung, beliau sempat berkunjung dua kali untuk memberikan nasehat dan memotivasi ustadz dan para santri.

KH. Syamsul Hadi Abdan cermin pribadi dan pemimpin yang menjunjung tinggi motto Gontor “Berbudi tinggi “. Pada dirinya sangat melekat nilai- nilai akhlak mulia. Lima puluhan tahun, saya diajar, dididik dishibghoh beliau. Sehingga kenal betul dengan kepribadiannya. Ketika kami diskusi.

Saat harus membicarakan aib dan kejelekan seseorang yang hendak diceritakan ke orang lain, beliau pantang menyebut nama oknum tersebut. Konkretnya amat menghindari sifat tercela ,yaitu “ghibah” , membicarakan kejelekan orang lain di belakangnya. Sifat ini yang sudah jarang dimiliki oleh pemimpin di zaman “now”.

Yaa Ilahiā€¦. kami berani bersaksi bahwa KH. Syamsul Abdan adalah orang tua kami, ayahanda kami, guru kami, ustadz kami, dosen kami dan pemimpin kami . Yang alim, abid ,sholeh, sabar, istiqomah, zuhud dan berakhlak mulia.

Yang telah melahirkan puluhan ribu santri, ustadz, kiyai,siswa,mahasiswa, dosen, guru besar di nusantara dan dunia. Bila kekasihMu itu telah Kau ambil di bulan suci-Mu , maka letakkan ia di tempat suci Mu di Jannatin Na’im. Tempat yang sebaik- baiknya kembali. Amin ya robbal alamin. (Penulis, Pengasuh Pesantren Modern Darel Azhar Rangkasbitung Lebak)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here