Kamis, 21 Juni 2018

KH Ahmad Rifa’i Arief, Pendiri Ponpes Daar El Qolam (7-habis): Wafatnya Kiai Entrepreneur

KH Ahmad Rifa’i Arief adalah ulama muda di Banten. Ia kiai yang berpikiran maju. Kiprahnya dalam membangun pondok pesantren dikagumi banyak orang. Meskipun pribadinya tidak mau diekspose di media massa, banyak tokoh dari berbagai profesi yang dekat dengannya.  Kalangan ulama yang awalnya menolak, mulai membenarkan jejak perjuangannya dalam membangun pondasi, sistem pengajaran dan kurikulum yang memiliki visi misi.

Suami Hj. Nenah Hasanah dipanggil menghadap Allah Swt dalam usia 55 tahun, pada Ahad tanggal 10 Shafar 1418 H/ 15 Juni 1997 M. Ia meninggalkan tiga putra, tiga putri dan seorang cucu. Ia pergi meninggalkan nama besar dengan keharumannya.

Pada Senin 16 Juni 1997 upacara pemakaman dilaksanakan di lokasi tanah yang baru dibelinya  satu tahun sebelum wafat. Pada hari itu, segenap masyarakat, kerabat, handi tolan, para sahabat, tokoh dan ulama datang memberikan belasungkawa kepada keluarega besar yang ditinggalkannya. Hadir juga para sahabatnya di Gontor, seperti Kiai Muhamad Tidjani dari Prenduan Madura dan KH Abdullah Syukri Zarkasy.

Pada Selasa 17 Juni 1997 diadakan rapat keluarga  yang disaksikan KH Abdullah  Syukri Zarkasy, Pimpinan Pondok Modern Gontor, untuk menentukan pengganti beliau. Berdasarkan amanah yang beliau sampaikan kepada Kiai Zarkasy seminggu sebelumnya, rapat keluarga menentukan kepemimpinan berikutnya.

Hasil rapat keluarga yang dipimpin langsung KH Zarkasy, dinobatkan KH Ahmad Syahiduddin, Dra. Hj. Enah Huwaenah (keduanya adik sekaligus murid almarhum) serta putranya Adrian Mafatihullah Karim, sebagai pimpinan selanjutnya. Mereka bertiga mengemban amanah besar, bertanggungjawab mempertahankan serta mengembangkan Daar El Qolam dan yang lainnya. Mereka juga bertangggungjawab merealisasikan cita-cita almarhum yang berkeinginan memiliki minimal empat buah pesantren.

Cita-cita untuk mendirikan minimal empat pondok pesantren dengan arah yang berbeda, baru dua yang sudah eksis saat ditinggalkannya. Dua lembaga lainnya, berupa Perguruan Tinggi La Tansaa Mashiro dan Wisata Sakinah  La Lahwa baru langkah awal membangun prasarana. Untuk dua lembaga terakhir, menjadi amanat dan tantangan perjuangan bagi generasi penerusnya. Kini, semua lembaga tersebut telah berjalan dengan baik. Padahal ketika awal Kiai Rifai menggagasnya banyak yang tidaak yakin, bahkan ada yang mencibir.*


Sekilas Info

Korban Kecelakaan Kereta Api di Stasiun Batu Ceper dapat Santunan

TANGERANG, (KB).- Jasa Raharja memberikan santunan kepada satu keluarga korban kecelakaan maut antara Mobil Avanza …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *