Ketupat Lebaran

Oleh : KH Nasuha Abu Bakar, MA

Ketupat bagi masyarakat Indonesia bukan sesuatu yang istimewa, terutama di kalangan masyarakat Betawi, orang yang tinggal di sekitar tanah Betawi seperti orang orang Jawa Barat, ketupat sudah dikenal sejak lama. Di warung-warung yang setiap pagi menyajikan untuk sarapan, ketupat sayur merupakan sajian makanan yang dikhususkan untuk sarapan pagi. Atau ada juga yang menjajakannya dengan dipikul sambil keliling kampung.

Kulit ketupat bahan bakunya dari daun kelapa yang masih muda atau dengan istilah lain disebut janur sehingga warnanya lebih menarik dan menawan, kalau daun kelapa yang sudah berumur warnanya hijau tua, biasanya kaum hawa tidak tertarik bilamana kulit ketupat bahannya lebih tua.

Sebenarnya ketupat sedikit pun tidak ada istimewanya, karena isinya tidak jauh beda dengan lontong, buras yang memiliki bahan bakunya sama sama dari beras. Inilah kemuliaan dan keberkahan bulan suci ramadhan, karena ketupat yang disajikan pada bulan ramadhan merupakan bentuk rasa syukur yang tak terhingga dari hati orang orang tua kita karena anak anaknya sudah mampu mengerjakan puasa separuh bulan yaitu 15 hari daripada bulan suci Ramadan.

Hal itu serupa dengan kulit kambing ketika kulit kambing itu digunakan untuk cover jilid kitab suci Alquran, maka kulit kambing akan terbawa mulia. Biasanya sebelum dan sesudah dibaca kitab suci itu di cium lebih dahulu covernya oleh orang yang akan membacanya.

Kebiasaan menghidangkan ketupat dengan sayurnya yang pernah saya jumpai biasanya setelah kita menyelesaikan, melalui ibadah shalat taraweh selama 15 hari. Ada juga yang menyebutnya dengan cara dan kata yang sangat singkat, yaitu malam ketupatan, ada juga yang menyebutnya dengan istilah Qunutan, karena di malam ke-16 ramadhan biasanya shalat tarawih pada saat shalat witir disunnah kan untuk membaca doa qunut. Terlebih kalau kita sempat memperhatikan shalat taraweh di Mekah juga di Madinah, begitu lamanya mereka membaca doa qunutnya panjang dan lama sekali.

Kang Sunardi penasaran tentang kebiasaan masak ketupat pada pertengahan bulan suci Ramadan, maka kang Sunardi memberanikan diri bertanya kepada Ustaz Dzul Birri.

“Mohon maaf Pak Ustaz izin bertanya, kenapa harus dengan ketupat, apakah tidak bisa kita ganti dengan lontong, buras, atau nasi sekalian, kan sama sama dari beras juga?” tanya Kang Sunardi.

“Silakan saja akang rubah, akang ganti dengan yang sejenisnya, tidak akan ada yang protes, tidak akan ada yang marah, tetapi dipandang aneh, ganjil dan tidak seperti biasanya. Mengapa harus dengan ketupat dari daun kelapa, itu ada filosofinya, dan pesan moralnya sangat dalam. Maksudnya kita setelah digembleng dengan puasa ramadhan diharapkan bisa seperti pohon kelapa. Pohon kelapa semuanya memberikan manfaat sampai daun daunnya. Diharapkan setelah kita melakukan puasa, kita bisa memotivasi jiwa untuk selalu memberi manfaat sebanyak banyaknya seperti pohon kelapa, tidak saja buahnya, pohonnya, sampai daunnya pun memberi manfaat, apa makna ketupat, akang pernah mendengar, apa kira kira makna ketupat. Ketupat itu maknanya “Kuunuu Antum Ma’rifat” artinya jadilah kalian orang orang yang mengerti, memahami akan keagungan Allah dengan sebab berpuasa. Nah…kalau yang terakhir ini disebutnya ilmu “Cocokisasi” dicocok cocokin tapi serasi, kalau dalam bahasa sundanya “Kirata” dikira kira tapi nyata.” Itulah penjelasan Pak Ustaz Dzul Birri sambil senyum senyum dengan istilah barunya. Wallaahu ‘alamu bish shawaab wa ilaihil musta’aan. (Penulis adalah Pimpinan Pesantren Sabiluna Tangsel)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here