Ketua MPR: Anti Pancasila Bukan Diukur dari Jenggot

Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia (RI), Zulkifli Hasan menegaskan, orang berjenggot dan selalu menggaungkan takbir tidak mesti dicap anti Pancasila. Tapi yang lebih patut dikatakan anti Pancasila adalah yang membiarkan kemiskinan.  “Orang takbir (dicap) tidak Pancasilais, jenggot panjang (dicap) itu radikal. Yang tidak pancasilais adalah mereka yang membiarkan rakyatnya miskin,” katanya saat menjadi narasumber sosialisasi empat pilar kebangsaan dalam rangkaian Rakerwil PW Math’laul Anwar (MA) Banten di salah satu hotel di Kota Serang, Ahad (6/8/2017).

Sebagai dasar negara, Pancasila juga mengamanatkan adanya persatuan dan kesatuan seluruh bangsa, tanpa mengenal golongan dan agama.  “Kita harus menyampaikan nilai-nilai luhur keindonesiaan itu,” ujar Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) ini.  Oleh karena itu, ia mengajak seluruh warga Banten untuk menghilangkan perselisihan yang berujung konflik, baik antar-agama ataupun suku bangsa. Kata dia, yang lebih penting dilakukan bangsa Indonesia yaitu menciptakan generasi muda berilmu.

“Kalau sudah punya ilmu, punya daya saing, punya produktivitas, kreatif, bisa melahirkan inovasi, bisa melahirkan kewirausahaan, kita bisa menjadi negara yang maju dan mampu bersaing dengan negara lain,” katanya. Selain pemimpin bangsa, ulama berperan penting dalam mendamaikan gejolak masyarakat. Ulama punya karisma yang biasanya diikuti oleh jemaahnya.  “Mari kita kompak. Saya kira alim ulama perlu menjelaskan kepada rakyat, karena alim ulama pemimpin umat,” ucapnya.

Senada, Ketua PW MA Banten, Babay Syjawandi mengatakan, perbedaan suku dan agama merupakan berkah untuk Indonesia. Perbedaan menjadi warna yang harus tetap dijaga. “Sesama bangsa Indonesia saling bersaudara, justru kalau seragam itu tidak indah. Sesama bangsa harusnya saling menyayangi bukan malah saling memusuhi,” tuturnya. Di sisi lain, dia menyayangkan banyaknya asumsi yang seolah memojokkan umat Islam. Padahal Islam menjadi salah satu agama yang berperan penting dalam mendirikan ataupun memertahankan NKRI. “Kita menyayangkan kok kesannya kayak Islam yang dipojokkan,” katanya.(Sutisna)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here