Ketika Terserah Berbalik Arah

Ocit Abdurrosyid Siddiq.*

Oleh : Ocit Abdurrosyid Siddiq

Akhir-akhir ini lagi ramai orang-orang bicara “terserah”. Diksi ini lagi viral. Populer di kalangan pengguna media sosial. Ada yang tahu bagaimana asbabul wurudnya sehingga “terserah” menjadi ramai?

Kalau tidak salah, diksi itu populer sejak dijadikan judul lagu oleh seorang rapper Indonesia, Willy Winarko. Dalam liriknya, Willy menyentil kebijakan pemerintah sekaligus juga menyindir perilaku masyarakat.

Mulai dari ulah warga yang ramai datang ke Sarinah, pelonggaran PSBB, bandara yang ramai, naiknya iuran BPJS, konser musik di Jakarta, hingga pengesahan UU Minerba.

Karena sebagian dari kita kurang teliti dalam mencecap liriknya, lagu itu kemudian dianggap sebagai perwakilan suara rakyat dalam menyampaikan kritik kepada pemerintah.

Hingga ada yang menimpalinya dengan PSBB sebagai “Peraturan Suka Berubah-ubah”. Lagu itu berseliweran di jagat media sosial. Khususnya di WhatsApp Group, dengan caption kritik terhadap rezim.

Diawal kemunculannya, oleh sebagian dari kita lagu itu dijadikan sebagai protes terhadap rezim. Tapi trend itu tidak lama. Karena kini malah sebaliknya. Berbalik arah!

Di tengah imbauan pemerintah, baik untuk tidak mudik dan tidak berkumpul di ruang publik, kini masyarakat malah melakukan hal sebaliknya. Mudik, konser musik, mall dan pasar malah menjadi ramai.

“Terserah”, akhirnya digunakan juga oleh para pendukung rezim dan dialamatkan pada warga yang dianggap bandel. “Terserah, mau mudik atau mau kumpul. Resiko silakan tanggung masing-masing”. Begitu kira-kira.

Bahkan, kini para tim medis pun seolah menunjukkan pesimismenya dengan menggunakan kata terserah. Sembari menggunakan APD lengkap, mereka memegang kertas bertuliskan “terserah”. Lalu, jepret difoto.

Seolah mereka ingin mengatakan “Selama ini kami menjalankan tugas melakukan pertolongan bagi penyembuhan pasien. Bantu kami antara lain dengan cara sosial distancing!”.

Bila kini mereka juga larut dalam “terserah”, seperti ingin mengatakan “Ya sudahlah! Silakan kalian lakukan apapun yang kalian mau. Bila kena covid, itu resiko kalian. Eh, itu akan tetap kami tolong”.

“Terserah” kali ini dipakai bersama oleh kedua kelompok. Mengapa bisa begitu? Karena tafsir tergantung dan terserah masing-masing. Silakan tafsirkan saja sesuai keinginan. Terserah kalian.

Mau suka atas postingan ini, terserah. Mau tak sepakat atas tulisan ini, juga terserah. Yang suka dan ngasih “like”, terserah. Hanya baca lalu suka tanpa ngasih “like” juga terserah.

Mau komentar dan berikan dukungan, terserah. Komentar bernada penolakan juga, terserah. Mau acuh terserah. Mau abai juga terserah.
Terserah Terserah!* (Penulis, Santri Kampung)*

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here