Ketersediaan Pompa Air Masih Kurang, Banyak Petani Kesulitan Air

PIHAK Dinas Pertanian Kehutanan Perkebunan dan Peternakan (DPKPP) Kabupaten Serang menilai, ketersediaan pompa air di wilayahnya saat ini masih kekurangan sekitar 50 persen. Akibatnya, masih banyak petani yang sering kesulitan air saat musim kemarau tiba.

Kepala Seksi Lahan dan Air DPKPP Kabupaten Serang, Yuli Saputra mengatakan, kekurangan kebutuhan pompa air untuk wilayahnya memang masih cukup besar. Diperkirakan para petani masih kekurangan lebih dari 50 persen dari total kebutuhannya. “Masih sangat kurang banyak masih sekitar 50 persen kekurangannya,” katanya kepada Kabar Banten, Kamis (19/10/2017).

Ia menuturkan, untuk alsintan (alat dan mesin pertanian) berupa pompa air, mekanisme pengajuan bantuannya sama halnya dengan traktor. Di mana pengajuan dilakukan di awal oleh kelompok tani. “Alsintan itu, termasuk pompa air,” ujarnya.

Setelah ada pengajuan, ucap dia, selanjutnya pihaknya akan mengajukan satu atau dua ke APBD. Bantuan juga bisal dilakukan melalui pihak Kementerian Pertanian langsung. “Terkadang dari teman-teman partai juga ada yang memfasilitasi. Namun, yang jelas bantuan itu, adalah dari Kementerian Pertanian dan untuk kelompok tani,” ucapnya.

Untuk bantuan pompa air, tutur dia, sebelumnya telah ada 30 unit yang diberikan dengan dana APBN melalui DIPA (daftar isian pelaksanaan anggaran) provinsi, sedangkan untuk tahun ini, bantuan pompa air juga diberikan sebanyak 10 unit dengan ukuran 6 inch.  Menurut dia, saat ini mayoritas kelompok tani membutuhkan pompa air dengan ukuran 3 inch, agar lebih mobile.

Sebab, jika kelompok tani diberikan bantuan pompa air yang ukurannya lebih dari 3 inch, mereka masih belum siap untuk membuat rumah pompa air dan juga menjaganya di pinggir sungai. “Karena, tidak bisa mobile, karena terlalu berat. Jadi, kalau 3 inch setelah pakai bisa diangkut,” ujarnya.

Ia menjelaskan, selain memberikan bantuan pompa air, pihaknya juga sejak 2015-2017 sudah mencoba memberikan bantuan sumber air tanah dangkal. Sistem tersebut digunakan untuk lahan pertanian yang sebelumnya mengandalkan tadah hujan untuk pengairannya. “Jadi, kami membuat sumber air tersendiri dengan kedalaman 50 meter maksimal. Tidak semua kecamatan tapi,” ucapnya.

Sedangkan, untuk bantuan pompa air hanya diberikan kepada kecamatan yang secara umum memiliki aliran air sepanjang tahunnya. Daerah tersebut, seperti Cikande yang memiliki Sungai Cidurian serta Kragilan dan Pamarayan yang memiliki Sungai Ciujung. “Artinya, kecamatan yang sepanjang tahun airnya ada,” tuturnya.

Sedangkan, untuk daerah yang tidak memiliki aliran air sepanjang tahun, kata dia, pihaknya tetap memberikan bantuan. “Kalau Bojonegara, Puloampel, Waringinkurung, dan Mancak yang jauh dari sumber air itu, kami berikan bantuan dengan sumber air tanah dangkal. Jadi, itu lengkap dengan alatnya, petani tinggal buka keran dan air langsung ngalir,” ujarnya. (Dindin Hasanudin)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here