Minggu, 18 November 2018

Keterbatasan Fisik Tak Halangi Semangat Anak Disabilitas Berkarya

SERANG, (KB).- Keterbatasan fisik tak menghalangi semnagat anak penyandang disabilitas dalam kegiatan menyanyi di hadapan Ketua Komnas Perlindungan Anak. Anak-anak tersebut merupakan siswa Sekolah Khusus (Skh) Pandeglang adalah Muhammad Ridwan (Laki-laki) dan saudara perempuannya Ayu Suaidah.

Mereka diundang untuk menyanyi di SMAN 1 Anyer dalam rangka Road Show Komnas Perlindungan Anak. Kebiasaan menyanyi dan memainkan alat music sudah dilakukan kakak dan adik ini sejak kecil dan dilanjutkan di sekolah.

Muhammad Ridwan menjelasakan, keterlibatannya bersama saudara perempuannya ini di sekolahnya belum terbentuk grup tapi sudah terbiasa berkolaborasi dengan saudara perempunnya,ada keinginan untuk membuat grup tapi belum tahu, ada dua gendre musik yakni musik relegi sudah punya grup namanya Marawis Tunanetra Indonesia.

“Saudara perempuan saya yang menyanyi saya yang bermain alat musik, untuk proses belajarnya tidak sampai satu tahun, kalau kita niat dan serius cukup 8 bulan sudah bisa, tidak hanya keyboard saya juga bisa memainkan alat musik harmonika,” katanya kepada Kabar Banten, Senin (5/11/2018).

Ia mengatakan, waktu kecil belajar keyboard diajarkan oleh ibunya dan harmonika berumur 10 tahun, tidak hanya mengisi kegiatan di sekolah dan pernah di Universitas Mathla’ul Anwar (Unma).

“Saya suka dengan beberapa alat musik selain keyboard dan harmonika ada satu alat musik yang saya suka Saksofon baru belajar, tidak hanya di sekolah kami berdua di panggil tapi juga pernah mengisi kegiatan di Unma beberpa waktu lalu,” katanya.

Ayu Suaidah mengatakan, sejak kelas 2 SD sudah belajar menyanyi dan di belajar di sekolah dan guru-guru meminta untuk menyanyi di sekolah dan lagu permata itu dari Mita.

“Saya juga bisa menyanyikan lagu dangdut, saya lebih suka menyanyikan lagu pop, ada keinginna untuk membuat grup musik dan setiap mengisi kegiatan juga di dukung oelh sekolah,” katanya.

Guru Pembimbing Nanda Maula mengatakan, di Mathla’ul Anwar dari SDLB,SMPLB, SMALB di sekolah ini paling dominasi Tunaetra program pembelajarannya itu ada hafidz quran memakai birle dan kesenian, di tunagrahita lebih fokus kebina diri , kalau tunarungu lebih ke tataboga.

“Saya mendidik mereka untuk mandiri, saya guru Tunagrahita dan mereka belajar kesenian dengan saya, saya senang dnegan mereka yang bisa mengisi kegiatan di sekolah dengan keterbatasan tidak menyurutkan semngat mereka untuk berkarya,” katanya. (DE/MH)*


Sekilas Info

Gelar Seminar, FISIP Untirta Dorong Keamanan Pangan Global

SERANG, (KB).- Program studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sultan Ageng …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *