Kesulitan Ekonomi, Ayah dan Anak di Tangerang Tak Makan Dua Hari

Akibat kesulitan ekonomi, seorang siswi di Kampung Masigit, Desa Cibetok, Kecamatan Gunung Kaler, Kabupaten Tangerang Zahra Amelia Putri tidak makan selama dua hari. Sebelumnya, Zahra sempat viral di media sosial karena kesulitan ekonomi keluarganya. Selain itu, kondisi ayahnya yang memprihatinkan akibat mengidap TB tulang yang mengharuskannya terduduk lemah.

Zahra mengatakan, dirinya serta ayahnya sering sekali tidak makan dalam beberapa hari. Bahkan sangat jarang untuk makan pagi atau sarapan ketika hendak ke sekolah. Ia bercerita, ketika mengendarai sepeda miliknya menuju ke sekolah, ia pun menahan lapar. Sehingga kebiasaan dan rutinitas tersebut menjadi terbiasa olehnya. Semangat serta tekad keinginan sekolahnya mengalahkan itu semua.

“Kadang biar bisa bantu ekonomi keluarga, saya harus bantu tetangga dulu biar dapat upah. Appun saya lakukan, termasuk bantuin jualan ketoprak. Dari upah itu bisa untuk makan saya dan bapak. Tapi memang lebih sering nahan lapar. Ada nasi di rumah, kami sudah sangat senang dan bersyukur,” ucapnya.

Ia pun bertekad untuk tetap sekolah dengan semampunya. Meski dalam kondisi yang serba memprihatinkan, ia memiliki cita-cita yang mulia, yakni menjadi seorang dokter untuk mengobati dan membahagiakan orang tuanya. “Zahra ingin bantu bapak. Zahra ingin sekolah yang benar biar bisa jadi dokter, biar bapak bisa sembuh dan bahagia,” katanya.

Sang ayah Akhmad Yani sebelumnya mengalami kecelakaan pada 2012, hingga akhirnya ia tak lagi dapat melakukan banyak hal, termasuk bekerja. Tidak sampai disitu, mengetahui suaminya mengidap penyakit dan tak mampu berbuat banyak untuk memenuhi kebutuhan rumah, sang istripun pergi meninggalkan ia bersama Zahra. Sementara, dua anak lainnya dibawa bersama istrinya.

Diketahui, Akhmad memiliki tiga orang anak, yang pertama bernama Deni usia 25 tahun, yang kedua Zahra, dan yang ketiga Fathir Ardiansyah. “Kalau dulu masih bisa jualan sayur di pasar. Tapi sekarang, setelah kecelakaan keadaannya sudah berbeda. Saya sulit untuk bisa melakukan apa-apa, bahkan buang air kecil pun harus ditampung,” katanya, Sabtu (23/11/2019).

Sejak dirinya divonis oleh dokter terkena TB tulang, dan kondisinya semakin hari, semakin parah. Bahkan kini kedua kakinya sulit untuk digerakkan. Sehingga, menghambat setiap aktivitasnya. Namun, ia tetap berusaha untuk memenuhi kebutuhan ia dan Zahra. Seperti saat ini, ia membuat kandang burung sesuai pesanan dengan upah Rp 25.000 per buah.

“Sejak kecelakaan dan tidak bisa jalan normal keseharian saya hanya bisa duduk, dan membuat kandang burung untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kalau sepi order, paling nunggu belas kasih dari para tetangga. Itupun saya malu, karena merasa tidak enak dengan mereka,” ujar Akhmad.

Karena kesulitan ekonomi seorang siswi di Kresek Tangerang yang sedang ‘viral’ karena tidak makan dua hari sebab kesulitan ekonomi membuat banyak pihak prihatin. Harapan Dhuafa langsung menyambangi kediaman Zahra dan ayahnya yang merupakan penyandang cacat pada, Sabtu (23/11/2019).

Dalam kesempatan itu, Manager Program dan Kemitraan Harapan Dhuafa Mamak Jamaksari memberikan bantuan yang bersumber dari donasi masyarakat. “Setelah kami melihat, memang kondisi Pak Akhmad dan Zahra ini cukup memprihatinkan dan butuh bantuan kita semua. Kami sebagai lembaga kemanusiaan tentu saat ini berkomitmen untuk membantu keluarga mereka,” ujarnya.

Pihaknya juga akan membantu untuk memperbaiki rumahnya yang kondisinya saat ini sangat memprihatinkan. Atap yang bocor, kayu yang sudah mulai lapuk dan kamar mandi yang kurang memadai. “Kami sangat prihatin dengan kondisi rumahnya. Pertama tidak layak, atap sudah pada bocor dan lapuk, ada dua kamar, dan hanya satu kamar yang digunakan untuk semua aktivitas, bahkan buang air kecil pun Bapaknya masih harus ditampung didalam botol dan ditumpuk di dalam ruangan tersebut. Kondisi ini tentu sangat memperihatinkan,” katanya. (Rizki Putri)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here