Kesenian Barongsai Menyatukan Perbedaan

Menjelang Tahun Baru Imlek, seluruh warga Tionghoa disibukkan dengan berbagai macam persiapan untuk menyambutnya. Tak ketinggalan, kesiapan para pemain barongsai pun sudah mulai rutin latihan untuk memeriahkan Imlek.

Salah satunya Paguyuban Mangga Dua Dalam, yang dua minggu terakhir ini sibuk latihan dalam mempersiapkan atraksi barongsai di Tahun Baru Imlek nanti. “Seminggu kami latihan tiga kali, mulai dari pukul 14.00 WIB hingga menjelang Maghrib,” ujar Pengurus Paguyuban Mangga Dua Dalam Robby Sanjaya.

Namun ada yang menarik dari paguyuban ini. Dari total keseluruhan 30 orang pemain barongsai, 30 persennya adalah muslim. “Dari kecil memang sudah diturunkan untuk membaur, tanpa memandang siapa dan apa agamanya. Jadi kami disini semua ikut main barongsai, sekitar 30 persen pemain juga muslim,” katanya.

Ia mengatakan, sejak dirinya masih kecil tradisi ini sudah ada dan diturunkan kepada anak dan cucu. “Kami juga ikut meramaikan acara lainnya. Misalnya maulid nabi, ya kami ikut ngarak juga meramaikan. Justru dari situlah, terjalin tali persaudaraan yang erat, kami sama sekali tidak membedakan. Jadi, ini adalah tradisi turun temurun,” tuturnya.

Tidak hanya muslim yang ikut bergabung dalam paguyuban barongsai tersebut. Tetapi juga, ada agama lainnya, seperti Katholik, Kristen dan tentunya Buddha. “Ada muslin, kritistiani, katholik, buddhis. Semua nyampur berbaur disini, engga ada yang ribut-ribut karena agama,” katanya.

Bahkan para orang tua mereka pun memperbolehkan dan mendukung kepada anak-anaknya yang ikut bergabung dalam kesenian khas Tionghoa. “Orang tua mereka juga mendukung, suka bawa makan juga buat anak-anak yang latihan disini,” ujarnya.

Melihat suasana di tempat mereka latihan begitu seru dan meriah. Disinilah dapat terlihat jelas, tentang pengertian “agamaku adalah agamaku, dan agamamu adalah agamamu”.

Kawasan Pecinan, Kampung Mangga Dua Dalam, Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Serang ini memang sebagian besar penduduknya merupakan warga keturunan Tionghoa. Meski begitu, mereka hidup saling berdampingan dengan tentram dan damai.

“Nah, anak-anak kecil ini juga nantinya akan menjadi penerus untuk melestarikan tradisi kebudayaan barongsai ini di masa mendatang,” ujar Robby.

Salah satu pemain barongsai, Arifin mengatakan, meski dia seorang muslim. Tetapi dia senang dengan kebudayaan dan kesenian barongsai. “Barongsai ini kan kesenian ya, jadi engga ada salahnya juga kalo kami ikutan belajar dan bermain barongsai. Dari kecil kami memang sudah berbaur tanpa memandang, suku dan agama,” katanya.

Apalagi sehari-hari dia lebih sering menghabiskan waktu bermainnya bersama anak-anak keturunan Tionghoa. “Kita disini main ya main aja, waktunya sholat ya kita sholat, kadang suka diingetin juga sama mereka. Terus kalo Imlek, kita juga suka dapet angpau dari orangtuanya, terus dapet kue keranjang juga,” ucapnya. (Rizki Putri)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here