Rabu, 24 Oktober 2018

Kesejahteraan Buruh di Banten

Teruntuk para buruh di Banten, bahwa sejahteranya kita diukur dari bagaimana kita mensyukuri nikmat yang telahdiperoleh dari Tuhan, bukan seberapa besar kita memperoleh hasil yang diterima dari pekerjaan kita.

Ikhlas menjadikan diri kita mencintai pekerjaan yang sedang kita lakukan. Menjadi buruh pabrik, tani, dan ternak adalah suatu pekerjaan mulia. Dari pekerjaan itu, kita belajar tentang bagaimana cara menjadi pekerja yang bijak dengan berbagai tantangan. Maka, cukup dengan rasa syukur untuk meniadakan rasa berontak dari hati terhadap pekerjaan kita.

Banyak dari kita menyimpulkan bahwa menjadi buruh pabrik lebih baik dari pada menjadi guru honorer, dikarenakan UMR yang besar diperoleh buruh pabrik.

Bahkan kerap terjadi kesenjangan antara buruh pabrik dan buruh lain yang mendapatkan gaji berbeda. Padahal realitanya bila kita perhatikan bersama bahwa hasil yang diterima oleh kita adalah sesuai dengan proses yang pernah kita lalui.

Guru honorer mungkin memang lebih kecil dari gaji buruh pabrik yang sudah mendapatkan UMR. Namun hal tersebut terjadi dikarenakan proses dari guru honorer yang belum sampai pada tahap selanjutnya. Apabila guru honorer sudah menjadi PNS, tentu akan mendapatkan upah yang besar pula. Jadi, pada dasarnya semua hasil yang ada saat ini merupakan sebab dari proses yang kita lakukan sebelumnya. Maka dari itu, kita tidak perlu membandingkan permasalahan upah yang berbeda dengan status pekerjaan yang berbeda juga.

Tidak perlu jauh-jauh membandingkan antara buruh dengan guru honorer. Perlu kita buka barometer kita untuk mengukur berapa persentase buruh pabrik yang belum mendapatkan UMR, mereka terbilang mendapatkan upah yang bahkan kecil.

Dalam satu pabrikpun terjadi perbedaan upah, antara buruh pabrik yang di kontrak dan buruh yang sudah menjadi karyawan tetap. Ketika individu merasakan kepuasan kerja tentu tidak akan ada yang namanya demo terkait masalah upah.

Lagi-lagi yang terjadi bila demo dilangsungkan, maka pihak dari perusahaan tidak akan segan-segan untuk memberhentikan karyawan yang menjadi pemimpin dari adanya demo tersebut.

Lantas bagaimana dengan nasib karyawan yang diberhentikan dari pekerjaannya itu? Pulang ke kampung halaman? Atau mencari pekerjaan di perusahaan lain?

Terlepas dari permasalahan perbedaan upah, kita beranjak ke permasalahan cemburu sosial antara buruh tani yang berada di daerah pedesaan dengan buruh pabrik yang berada di perkotaan. Banyak di antara mereka (buruh tani) memilih pindah ke kota untuk bekerja sebagai buruh pabrik. Tidak ada yang salah bagi mereka, bila memang itu adalah pilihan terbaik untuk melangsungkan kehidupannya. Mereka merasa sejahtera dengan hasil yang didapat sebagai buruh pabrik.

Akan tetapi bila diteropong juga banyak di antara mereka yang justru menjadi pekerja kasar di pasar. Hal ini karena tidak adanya potensi untuk bekerja sebagai buruh di pabrik, atau banyak juga mereka yang tidak memiliki ijazah untuk melamar pekerjaan. Karena saat ini bila ingin bekerja di pabrik, harus menggunakan ijazah.

Perusahaan tidak ingin menerima karyawan yang tidak memenuhi persyaratan. Sehingga pada akhirnya kota-kota besar harus menampung warga yang tidak memiliki kartu kependudukan sesuai dengan lokasi yang ia tempati.

Lantas masyarakat menanyakan bagaimana kesejahteraan buruh di Banten. Hal ini bukan pemerintah lagi yang harus menjawab pertanyaan seperti itu.

Buruh itu sendiri lah yang seharusnya dapat mandiri, terlepas dari apa yang pemerintah sudah berikan dan lakukan. Tidak ada yang harus diselesaikan, karena memang permasalahan ini sudah terselesaikan dengan banyaknya perusahaan-perusahaan yang ada di Banten.

Lalu bagaimana dengan buruh tani? Pemerintah sudah banyak membantu, mulai dari irigasi sampai traktor untuk menggarap tanah. Lalu, apakah perlu pemerintah kembali disalahkan? Seharusnya kitapun sebagai masyarakat harus mampu berpikir cermat, bahwa apapun pekerjaan yang sedang kita lakukan saat ini adalah hasil dari apa yang pernah kita lakukan kemarin-kemarin. Jadi, tidaklah benar bila kita selalu menyalahkan pemerintah di Banten. 

Bila kita terlalu berpangku tangan pada pemerintah, maka jangan salahkan pemerintah juga bila pemerintah sudah memberikan pelayanan, namun kita masih saja merasa belum tercukupi secara finansial.

Kita selalu merasa bahwa pemerintahlah yang bertanggung jawab atas kehidupan kita. Sebenarnya pengertian ini adalah salah. Ketika pemerintah sudah menjadi wadah, maka kitalah yang seharusnya mengisi wadah tersebut dengan berbagai sumber daya yang kita miliki.

Lalu bagaimana bila kita belum memiliki sumber daya yang diinginkan oleh perusahaan?  Maka galilah potensi kita sendiri dengan belajar. Pemerintah pun sudah memfasilitasi kita untuk bersekolah gratis. Lantas apakah masih harus di permasalahkan tentang kesejahteraan buruh di Banten? 

Ikhlas dalam pekerjaan adalah kunci dari kesejahteraan kita sebagai pekerja. Bukan masalah seberapa besar upah yang kita terima sebagai pekerja. Maka untuk kita sebagai buruh, peringatilah hari buruh sebagai hari untuk berterima kasih kepada pemerintah di Banten, atas fasilitasnya yang sudah diberikan kepada kita sebagai buruh. (Besta Enneta/Mahasiswa Jurusan Bimbingan Konseling Islam UIN SMB).*

Nanda Besta Lestari, lahir di Tangerang, Banten, pada 6 Agustus 1997. Ia adalah alumni SMA Al-Multazam Sepatan, Tangerang. Saat ini, ia tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Bimbingan Konseling Islam, Dakwah di Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten.


Sekilas Info

TANTANGAN DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Oleh : Hj. Ade Muslimat. S.Mn.MM.M.Si Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia sebagaimana …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *