Kerusuhan Bisa Ganggu Ketenangan Bangsa

KH. AM Romly, Ketua MUI Banten.*

SERANG, (KB).- Sejumlah kalangan di Banten prihatin atas berubahnya aksi damai menjadi kericuhan yang menimbulkan korban jiwa di depan Kantor Bawaslu Jakarta, Selasa (21/5/2019) malam. Aksi tersebut untuk mempertanyakan hasil Pemilu 2019.

“Selaku Ketua MUI Banten, saya turut prihatin jika di bulan kedamaian yang penuh berkah ini ada aksi anarkis dan memperturutkan hawa nafsu, yakni kerusuhan antara masyarakat dengan aparat yang menjaga keamanan dan ketertiban,” ujar Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Banten, KH. AM Romly kepada Kabar Banten, kemarin.

Menurut Kiai Romly, aksi yang digelar pada Ramadan dapat berlangsung damai dan tentram. Hal itu sebagai perwujudan rasa penghormatan umat muslim kepada Ramadan.

Kiai Romly mengatakan, di bulan baik ini selayaknya umat muslim menahan diri dari perbuatan yang merugikan orang lain. “Lebih baik fokus meningkatkan peribadatan untuk meningkatkan kualitas diri sebagai bekal kehidupan,” katanya.

Sementara itu, tokoh pendekar Banten dari Kota Serang, Denny Arissandi mensinyalir adanya pergeseran isu yang menumpangi persoalan pilpres.

“Tampaknya bukan lagi isu pilpres, namun memang ada kelompok yang menginginkan kerusuhan terjadi dengan tujuan mengganggu kehidupan harmonis di tengah-tengah masyarakat,” katanya.

Ditegaskan, kerusuhan di Jakarta tersebut bukan lagi tentang 01 atau 02, melainkan ada upaya memecah belah persatuan dan kesatuan serta kedamaian di tengah kehidupan masyarakat. Dengan demikian, anak bangsa harus waspada.

Sebagai bagian dari pendekar Banten, Denny merasa memikul tanggung jawab moral untuk ikut menjaga persatuan dan kesatuan serta kedamaian di tengah masyarakat Banten.

Ia mengimbau warga Banten menahan diri agar tidak menambah kerumitan yang sedang terjadi. Dengan demikian, aparat keamanan bisa segera mengatasi hal tersebut dan mengembalikan kondusivitas di Jakarta.

Sementara itu aktivis Muhammadiyah, Asep M Rahmatullah mengingatkan agar aparat dan masyarakat waspada terhadap provokasi pihak tertentu yang memiliki potensi menciptakan konflik berkepanjangan di Indonesia. Hal itu sebagaimana terjadi di beberapa daerah konflik di Timur Tengah.

“Ketika ada korban jiwa atau martir maka akan timbul dendam yang memicu pertentangan, bahkan peperangan di antara kelompok masyarakat. Kita harus melihat kondisi di Suriah atau daerah konflik lainnya, di mana yang menjadi korban sesungguhnya adalah masyarakat awam atau grassroot. Mereka seharusnya bisa bekerja untuk mengatasi tantangan kehidupan, tapi terganggu dengan perang saudara yang diciptakan oleh para elite,” ucap Asep. (SY)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here