Kepemimpinan saat Krisis

Dr. H. Fadlullah, S.Ag M.Si

Krisis terjadi karena bencana sosial seperti perang atau wabah penyakit yang menimbulkan dampak luas dan multidimensi seperti Covid-19. Penyelesaian krisis ini perlu arah dan strategi yang jelas terukur dan sistematis. Arah itu dikendalikan oleh kepemimpinan yang memiliki visi nyali energi dan stamina yang kuat.

Di antara contoh kepemimpinan dalam situasi kritis ini adalah tindakan nyata Abdul Muthalib — kakek Nabi Muhammad SAW — menghadapi pasukan Abrahah. Sang Penguasa Yaman yang ditakuti orang, karena pasukan gajah yang dimilikinya. Abrahah dan pasukan gajahnya berangkat ke Mekkah untuk menghancurkan Kakbah. Target mereka menghancurkan Kakbah adalah agar masyarakat dunia berpaling dari Baitullah dan menjadikan Al Qullayus (gereja yang dibangun Abrahah) sebagai Kiblat ekonomi, perdagangan, wisata, dan agama.

Mendengar keberangkatan Abrahah dan pasukannya ini, orang-orang Quraisy di Mekah menjadi panik. Mereka meminta pendapat Abdul Muthalib untuk bertempur. Abdul Muthalib sebagai pemimpin yang bijak mengetahui sekeras apa pun upaya mereka melawan akan sia-sia. Pasukan Mekah akan ditaklukkan. Karena itu, Abdul Muthalib memilih jalan diplomasi. Abdul Muthalib tidak memimpin perlawanan, tetapi menyarankan semua orang mengungsi ke gunung-gunung di sekeliling kota.

Abdul Muthalib kemudian mendatangi markas Abrahah bersama beberapa orang pemuka Mekah. Abdul Muthalib meminta Abrahah mengurungkan niatnya menghancurkan Kakbah dengan imbalan ekonomi memberikan sepertiga harta dari daerah Tihama yang subur. Abrahah menggeleng.

Dia beserta pasukannya terus masuk ke kota Mekah yang kosong ditinggal penduduknya mengungsi. Jalan lebar terbuka bagi Abrahah untuk menghancurkan Kakbah yang letaknya sudah di depan mata. Tidak ada yang mampu menghalangi kekuatan sebesar itu.

Ketika ikhtiar diplomatik gagal. Abdul Muthalib beserta pemuka Quraisy menghadap Kakbah dan menyerahkan penyelesaian krisis itu dengan berdoa memohon perlindungan dari Allah. Pemilik Baitullah. Mu’jizat pun terjadi sebagaimana dikisahkan dalam surat Al Fiil [105] ayat 1-5. Ketika pasukan Abrahah bergerak mendekat, gajah Abrahah berhenti.

Allah melindungi rumah suci-Nya dengan mengirim kawanan burung yang kepakan sayapnya menutupi sinar matahari seperti iringan awan mendung yang bergerak cepat. Burung-burung itu menjatuhkan batu-batu menyala ke arah pasukan gajah. Dengan panik setiap orang berusaha menyelamatkan diri, tetapi sia-sia. Semua pasukan gajah, termasuk Abrahah, mati dengan tubuh rusak seperti daun dimakan ulat.

Fokus penyelesaian krisis Abdul Muthalib sebagai pemimpin rakyat adalah keselamatan jiwa rakyat. Baru kemudian kepentingan lain yang menyertai seperti ekonomi dan keselamatan Kakbah. Abdul Muthalib memerintahkan rakyat menjauh dari Kakbah dan meninggalkan kota. Sedangkan dia sendiri bersama elit Quraisy mendekat ke sumber krisis yakni Abrahah dan pasukannya untuk berdiplomasi. Ketika gagal, Abdul Muthalib beserta elit Quraisy menghadap Kiblat dan bermunajat kepada Allah.

Sosok lain yang patut dicatat dalam menyelesaikan krisis berupa Pandemi adalah Umar bin Khattab R.A. Khalifah kedua yang berkuasa pada tahun 634 sampai 644. Dikisahkan, bahwa pada kekhilafahan Umar bin Khattab telah terjadi wabah di Damaskus.

Dari sahabat Amr bin Al-Ash RA, beliau berkata: “Ketika mewabahnya penyakit, bangkitlah sahabat Abu Ubaidah bin Al-Jarrah R.A. di antara umat lalu berkata: “Wahai manusia, sesungguhnya penyakit ini adalah rahmat dari Tuhan kalian dan panggilan dari Nabi kalian, juga (menyebabkan) kematian orang-orang sholih sebelum kalian, dan Abu Ubaidah memohon kepada Allah SWT agar mendapatkan bagian penyakit itu untuknya, sehingga terjangkitlah beliau dan wafatlah ia.

Lalu Muadz bin Jabal R.A. menggantikannya memimpin umat, lalu ia berkata kepada khalayak dan berkata sebagaimana Abu Ubaidah R.A. berkata. Namun ia menambahkan dengan permohonan agar keluarganya pun mendapatkan penyakit tersebut, maka terjangkitilah putranya bernama Abdurrahman dan meninggallah.

Kemudian beliau pun berdoa bagi dirinya maka terjangkitilah ia seraya berkata: “Dengan ini, aku tidak mencintai sedikitpun bagianku di dunia.” Lalu wafatlah beliau. Kemudian Mu’adz digantikan oleh Amr bin Ash R.A. Ketika Amr bin Ash menjadi pemimpin menggantikan pendahulunya ia berbeda pandangan dengan mereka, seraya berseru kepada khalayak umat dengan mengatakan: “Wahai manusia, sesungguhnya penyakit ini apabila menimpa maka ia akan bekerja bagaikan bara api maka bentengilah dari penyakit ini dengan berlari ke gunung-gunung.” (Diriwayatkan dari Imam Ibn Hajar Al-Asqalani dalam kitab Badzlul Maa’un hal 163)

Pada kisah di atas terlihat perbedaan sikap Amr bin Ash dengan dua Gubernur Damaskus sebelumnya dalam melihat wabah. Dua gubernur sebelumnya fokus menangkan warga dalam menghadapi wabah dengan berpikir positif. Sedangkan Gubernur Amr bin Ash berusaha menyelesaikan masalah pandemi dengan menerapkan kebijakan Karantina Wilayah.

Beliau melarang warga keluar dan masuk wilayah pandemi, mengisolasi rakyat yang terdampak wabah dan merelokasi rakyat ke tempat yang berpencar (Social Distancing) agar tidak terjadi kerumunan. Pada saat yang sama mengelola dan memenuhi kebutuhan dasar seluruh rakyat.

Tidak menunggu waktu terlalu lama, masa Pandemi akibat mewabahnya Tha’un dapat diatasi secara gemilang Gubernur Amr bin Ash dengan supervisi Umar bin Khattab. Penyelesaian krisis menghendaki kepemimpinan yang berani melakukan terobosan. Melakukan tindakan nyata secara kreatif. Target utama kebijakan pemimpin dalam situasi krisis adalah penyelamatan jiwa rakyat.

Keselamatan rakyat menjadi prioritas dengan melaksanakan esensi ajaran agama yang tertulis dalam Alquran dan dicontohkan Nabi SAW secara konsisten. Visi ini lahir dari dorongan iman dan rasa tanggung jawab kepada Allah di Akhirat. Inilah yang menjadi energi seorang pemimpin menjalankan amanah sampai batas ikhtiar yang maksimal. (Penulis, Akademisi Untirta/Ketua Satgas Covid-19 MUI Provinsi Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here