Kenaikan Harga Sembako Picu Inflasi Akhir Tahun

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten merilis, Banten mengalami inflasi pada Desember 2018 sebesar 0,63 persen. Komoditas yang dominan menyumbang inflasi pada Desember yaitu adalah angkutan udara, telur ayam ras, daging ayam ras, bawang merah dan cabai merah.

Kepala BPS Provinsi Banten Agoes Soebeno mengatakan, berdasarkan pemantauan BPS terhadap 415 jenis barang dan jasa serta hasil survei biaya hidup (SBH) tahun 2012 di Kota Serang, Tangerang dan Cilegon, diketahui pada Desember 2018 sebanyak 235 komoditas mengalami perubahan harga.

Terdiri dari 176 komoditas mengalami kenaikan harga dan sisanya sebanyak 59 komoditas mengalami penurunan harga. “Hal tersebut menyebabkan inflasi pada Desember 2018 sebesar 0,63 persen, dengan kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 142,31 pada bulan November menjadi 143,20 pada bulan Desember,” katanya melalui keterangan tertulis yang diterima wartawan, Jumat (4/1/2019).

Kelompok komoditas yang ikut andil menyumbang inflasi Banten secara berturut-turut meliputi kelompok bahan makanan sebesar 0,382 persen. Kemudian kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,154 persen. Kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,080 persen.

Kelompok kesehatan sebesar 0,008 persen. Kelompok sandang sebesar 0,006 persen. Kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,003 persen. Sedangkan kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga sebesar – 0,004 persen.

Sementara komoditas yang mengalami penurunan harga paling banyak antara lain adalah buah anggur, ikan selar/tude, kentang, personal komputer/desktop dan buah pir. “Komoditas yang dominan menyumbang inflasi Desember ini adalah angkutan udara, telur ayam ras, daging ayam ras, bawang merah dan cabai merah,” katanya.

Agoes mengatakan, laju inflasi tahun kalender dan inflasi year on year IHK Desember 2018 terhadap Desember 2017 tercatat sebesar 3,42 persen. “Laju Inflasi tahun kalender dan Inflasi year on year (yoy) tiga kota IHK di Provinsi Banten dibandingkan dengan 26 Kota IHK di Pulau Jawa adalah peringkat ke dua untuk Kota Serang. Lalu peringkat lima untuk Kota Tangerang dan peringkat 19 untuk Kota Cilegon,” tuturnya.

Terpisah, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Banten Babar Suharso menjelaskan, secara nasional Banten merupakan penyumbang 30 persen produk ayam dan telur ayam. “Jadi asosiasi pengunggasan di Banten itu cukup besar, termasuk produk besar, perusahaan besar ada di Banten,” katanya.

Produsen ayam dan telur ayam terbagi menjadi produsen yang bergabung dalam asosiasi dan tidak. “Kalau yang produsen di dalam asosiasi mereka itu lebih terjamin pasar, pasokan pakan dan kebutuhan pakai peternakannya. Karena terkelola secara asosiasi secara organisasi maupun secara binaan dari dinas maupun kementerian,” ucapnya.

Produsen yang tidak bergabung ke asosiasi merupakan produsen yang tidak di bawah asosiasi apapun. “Nah yang di luar asosiasi kadang mereka ini jadwal beternak dan panennya lain. Kadang ini yang enggak kompak antara peternak yang berorganisasi dan peternak yang non organisasi,” katanya.

Terkait harga ayam dan telur ayam yang tidak stabil, ia berharap masyarakat juga lebih cerdas menjadi konsumen. “Kalau ada harga telur dan ayam yang mahal jangan maksa beli. Dia harus terlebih dahulu membandingkan harga dengan supermarket, itu biasanya dia engga berani di atas HET,” tutur Babar. (Sutisna)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here