Kemenag Lebak Terapkan K-13 Bertahap

LEBAK, (KB).- Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lebak, menerapkan pembelajaran metode Kurikulum 2013 (K-13) guna meningkatkan kualitas pendidikan yang berkarakter dan cinta tanah air. “Penerapan K-13 itu mulai tahun ajaran 2017-2018, namun dilaksanakan secara bertahap,” kata Kepala Seksi Pendidikan Masyarakat pada Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Lebak Sudirman, akhir pekan lalu.

Menurutnya, saat ini K-13 sudah dilaksanakan di berbagai jenjang pendidikan mulai Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA). Namun, penerapan metode K-13 dilakukan secara bertahap karena sebagian besar sekolah madrasah dikelola oleh masyarakat. Bahkan, pihaknya juga sudah mendistribusikan buku K-13, namun belum semua madrasah.

Selama ini, kata Sudirman, penerapan K-13 tidak ada masalah dan para tenaga pendidik sudah memahami kurikulum itu. Bahkan, metode pembelajaran K-13 didorong siswa lebih kreatif dan inovatif dalam menerima proses pembelajaran. Pada program K-13 itu siswa tidak menjadikan objek lagi, namun dituntut lebih kreatif dan inovatif, termasuk tenaga pengajarnya.

”Untuk penerapan K-13, kami sudah mengawalinya dengan kegiatan workshop tahun 2015, di sembilan zona di Kabupaten Lebak. Kami terus mengoptimalkan pelatihan dan workshop juga sosialisasi untuk memahami pembelajaran metode K-13 agar semua guru dapat memahaminya. Guru yang telah mengikuti bimbingan teknis (Bintek) K-13 diharapkan dapat menerapkan kepada peserta didik dalam menyampaikan mata pelajaran di sekolah,” ucapnya.

Melalui penerapan K-13, kata Sudirman, siswa dapat belajar seluas-luasnya untuk menggali ilmu pengetahuan tanpa terikat pembelajaran di sekolah.Bahkan, penerapan K-13 itu bisa menguatkan karakter cinta tanah air juga menjadikan sikap religius. Sementara itu pendidikan madrasah itu, selain melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) bidang studi umum juga pendidikan agama, seperti akidah akhlak, Quran hadits, bahasa Arab dan sejarah Islam.

“Kami berharap K-13 siswa memiliki karakter yang religius juga lebih kreatif dan inovatif dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,” katanya. Diakuinya, saat ini para tenaga pendidik belum semuanya memahami dan mengetahui K-13 tersebut. Guru juga dituntut banyak belajar untuk meningkatkan kompetensi keterampilan agar menguasai media pembelajaran. Peningkatan belajar itu disesuaikan dengan perubahan zaman dan perkembangan teknologi. (ND)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here