KEMATIAN IBU DAN BAYI MASIH TINGGI

SERANG, (KB).- Dalam rangka memperingati Hari Ibu, USAID-Jalin Banten mangadakan seminar Hari Ibu bertema “Kematian ibu dan bayi baru lahir, penyebab dan solusinya dari faktor non kesehatan”, Selasa (18/12/2018), di Pendopo Gubernur Banten, Kawasan KP3B, Curug, Kota Serang.

Kegiatan ini menampilkan sejumlah pembicara, antara lain Endang Laksmaningsih (Puska UI), H.M.A Tihami (Ketua Dewan Riset Daerah Banten), Asnawi Syarbini (Wakil Ketua Pengurus Wilayah Muhamadiyah Banten) dan Umdatul Hasanah (Wakil Dekan Fakultas Ushuludin dan Dakwah UIN Banten).

Endang Laksminingsih menyampaikan bahwa kematian ibu dan bayi baru lahir bukan kematian saat melahirkan, namun dari masa kehamilan sampai masa nifas.

Berdasarkan data kesehatan, menurut Endang, Indonesia masih memiliki permasalahan yang cukup besar atas permasalahan ini. Kematian ibu pada saat melahirkan hanya puncak gunung es dari sekian banyak kematian fase hamil sampai nifas.

“Indonesia menempati posisi yang hanya lebih baik dari Myanmar dalam masalah kematian ibu dan bayi baru lahir di Asia Tenggara,” ujarnya.

Dia menyampaikan, dibandingkan Malaysia, angka kematian ibu dan bayi baru lahir adalah 1:10. Di Malaysia, 1 orang yang meninggal maka di Indonesia 9 orang yang meninggal.

“Beberapa faktor penyebab, karena akses kesehatan sulit. Bisa akses kesehatan, namun tenaga kesehatan yang kurang kompeten, dan faskes rujukan yang juga kurang maksimal,” ujarnya.

Akibatnya, kata dia, salah satu cara adalah dengan pemerataan, memperbaiki akses dan sistem kesehatan mulai dari tingkat terendah sampai rujukan secara menyeluruh.

Sementara H.M.A Tihami melihat kasus ini dari sisi kebudayaan. Ia menyatakan, budaya juga memiliki pengaruh besar terhadap kematian ibu dan bayi baru lahir.

“Sebut saja masih banyaknya persalinan dengan paraji (dukun beranak). Bahkan budaya Pesisir Utara dan Banten Selatan masih cukup kental mitos-mitos di masyarakat,” katanya.

Masyarakat tradisional, ujar Tihami, bahkan ada mitos setan-setan yang menyedot darah sehingga terjadi pendarahan ibu melahirkan.

Sementara itu sudut pandang agama Islam mengenai kewajiban untuk menjaga keluarga, istri dan bayi juga memiliki pengaruh terhadap kesehatan dan keselamatan. Menghadirkan doa-doa dan menyadari bahwa istri dan anak adalah titipan Allah SWT yang harus dirawat dan dijaga semaksimal mungkin terutama saat hamil dan melahirkan.

Permasalahan gender juga memicu masalah tingginya kematian ibu dan bayi baru lahir. Pemikiran bahwa permasalahan rumah tangga adalah urusan perempuan juga masih melekat dalam benak laki-laki, mengurus rumah atau mengurus anak.

Hal ini disampaikan Umdatul Hasanah. Menurut dia, Banten masih menempati peringat yang tinggi untuk kasus ini.
“Berdasarkan data USAID, tahun 2017 Banten masih menempati peringkat keempat tertinggi penyumbang angka kasus kematian ibu dan bayi baru lahir,” ujarnya. (KO)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here