Kemarau Panjang, Warga Patungan Beli Air Bersih

CILEGON, (KB).- Warga Lingkungan Cipala, RT01/RW 05, Kelurahan Lebak Gede, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon patungan uang untuk membeli air bersih. Hal tersebut dilakukan, karena mereka kekurangan air bersih untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Seperti diketahui, krisis air bersih melanda warga Cipala, akibat kemarau panjang, mengingat sumber air bersih di wilayah tersebut terbatas. Seorang ibu rumah tangga di Lingkungan Cipala, Hasunnah (42) mendapatkan jatah 7 jeriken air bersih sehari.

Meski jatah air bersih tersebut, tidak mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Untuk mendapatkan air bersih tersebut, dia harus merogoh kocek untuk membeli air bersih. Harganya, yakni Rp 2.000 per jeriken.

“Cukup engga cukup jatah 7 jeriken ini harus dicukupkan. Biasanya air bersih tersebut, untuk mencuci dan mandi. Kalau untuk minum saya mah beli,” katanya, Rabu (11/9/2019).

Biasanya, ujar dia, harga air bersih di Cipala hanya Rp 1.000 per jeriken, namun karena musim kemarau, harganya naik menjadi Rp 2.000. “Walaupun harganya naik bagi saya gak masalah asalkan barangnya ada,” ucapnya.

Pengadaan air bersih untuk warga tersebut, dikelola anggota Remaja Masjid Cipala. Namun, anggota Remaja Mesjid Cipala yang mengelola air bersih Dayat miris dengan krisis air bersih di lingkungan tempat tinggalnya.

“Karena dengan terbatasnya air, membuat harganya lebih mahal dari harga beras. Jika kebutuhan beras setiap kepala keluarga sehari mungkin cukup satu atau dua liter, sementara kebutuhan air terkadang mencapai 7 sampai 10 jeriken, di mana setiap jeriken harganya Rp 2.000. Jika dikali 10 jeriken berati kocek yang harus dikeluarkan untuk kebutuhan air bersih Rp 20.000,” tuturnya.

Pihaknya terpaksa memberlakukan harga Rp 2.000 air bersih per jeriken, karena selain untuk biaya transportasi, juga untuk beli air yang mencapai Rp 50.000 per 1.000 liter. Uangnya juga digunakan untuk kegiatan sosial masyarakat.

“Dananya dari warga sendiri, kalau kai jual harganya Rp 2.000 per jeriken, tapi kami tidak memaksa, ada yang ngasih kami terima, tapi kalau enggak (memberi) juga tidak ditagih,” katanya.

Sementara itu, Ketua RT01 Ashari menuturkan, setiap harinya warga di lingkunganya mendapat suplai air bersih hanya sekitar 6.000 liter. Padahal, ujar dia, jumlah kepala keluarga (KK) di wilayahnya mencapai 70 KK. Meskii demikian, pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa.

Karena, transportasi yang digunakan hanya satu unit truk tangki, di mana satu unit truk tangki tersebut, harus memenuhi kebutuhan air bersih di 6 RT di Lingkungan Cipala, sedangkan sopir truk tangki yang biasa membawa air bersih di Lingkungan Cipala mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan 6 RT dibutuhkan 15-17 truk tangki dengan kapasitas 3.000 liter.

“Jadi, untuk memenuhi kebutuhan air di lingkungan ini, kadang kami angkut dari 15-17 tangki,” ucapnya. Oleh karena itu, pihaknya berharap, ke depan pemerintah maupun perusahaan yang ada di Cilegon membantu kebutuhan air bersih untuk warga Cipala. (HS)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here