Kemana Arah Tujuan Pendidikan?

Oleh : Dr. Budi Ilham Maliki.S.Pd., MM

Tujuan pendidikan nasional yang seharusnya menjadi acuan bagi pelaksanaan pendidikan di setiap lembaga pendidikan. Namun pada realitasnya, pendidikan hanya dijadikan sebuah topeng dewa yang menampakkan kesucian institusi dan menyembunyikan kekotoran/keburukan praksis pendidikan di dalamnya.

Dengan begitu, masyarakatpun terkelabui dan tidak tahu bahwa anak-anak mereka sebenarnya sedang diimpotensi, dipasung, dikerdilkan, dan dijajah agar menjadi manusia yang cacat, rusak, dan lemah dalam banyak aspek kepribadian. Pendidikan di lembaga pendidikan (sekolah) sudah tidak menuju pada tujuan pendidikan yang sebenarnya, tetapi pada tujuan kehendak penguasa, pengusaha, dan bisnis (profit).

Anak manusia yang masuk ke lembaga pendidikan benar-benar dianggap bahan mentah yang siap diproses di dalam mesin cetak untuk menjadi manusia beo, robotik, bahkan hewani. Mengapa pendidikan kita sesesat itu dan sudah buta melihat dan menuju tujuan pendidikan yang semestinya?

Mengapa para Umar Bakrie yang dahulu bersahaja dan penuh dedikasi terhadap tugas pendidikan yang sejati, kini berusaha berlomba-lomba ingin menjadi penguasa Bakrie dengan mengidustrialisasi lembaga pendidikan, mematrialisasi dan merobotisasi manusia, bahkan mendehumanisasi kemanusiaan. Apa mereka sudah terbawa arus zaman edan?

Zaman yang materialistis, sekuleristis, dan hedonistis yang bergelimang kemewahan. Apa kita sudah terperangkap dalam jaring besar kapitalis asing yang hendak menjajah seluruh bidang kehidupan bangsa melalui proses pembodohan yang berkedok pencerdasan? Memang, perlu kita waspadai bahwa adanya kemunduran di era kemajuan, adanya kebodohan di era kecerdasan, dan adanya kebiadaban di era peradaban, itu pertanda kita sedang dijajah, dimanfaatkan, bahkan dihancurkan.

Cukup lah penjajahan, penindasan, dan kehancuran itu terjadi di masa lalu. Jangan lah sejarah kelam diulang karena ketidakwaspadaan kita terhadap musuh-musuh yang menyamar sebagai sahabat, yang menjelma srigala berbulu domba. Kita harus cerdas dan jernih berpikir bahwa penjajahan di era sekarang hanya bisa ditempuh melalui proses pembodohan yang berkedok pencerdasan dan dengan menggunakan tangan bangsa kita sendiri.

Mari kita sadari dan insyafi untuk segera mengarahkan pelaksanaan pendidikan kita pada tujuan pendidikan nasional yang sesungguhnya, yakni mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Kalau kita perinci, tujuan pendidikan nasional tersebut dapat dikembangkan sebagai berikut. Pertama, berkembangnya potensi keimanan dan ketakwaan. Keimanan dalam pandangan Islam bukan sekadar percaya dan yakin kepada Allah SWT, tetapi juga bertawakal dan patuh untuk meninggalkan larangan-Nya dan melaksanakan perintahnya dengan penuh keikhlasan.

Pendidikan keimanan mengajarkan manusia agar dalam dirinya tertanam kecintaan kepada Allah SWT, punya sikap malu dan takut kepada Allah SWT, serta keyakinan bahwa dirinya selalu diawasi oleh Allah Swt, dimana pun manusia berada. Itulah pondasi dasar dari keimanan dan ketakwaan.

Permasalahannya dalam dunia pendidikan adalah materi ajar, metode, dan sistem evaluasi pembelajaran yang bagaimana yang dapat mengukur dan menerjemahkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan para peserta didik? Apakah jam belajar, metode, dan fasilitas belajar yang ada dilembaga-lembaga pendidikan yang sudah cukup andal untuk menjawab dan menerjemahkan nilai-nilai dan ketakwaan tersebut.

Kedua, terbentuknya akhlak mulia di kalangan peserta didik. Membentuk akhlak mulia dilakukan melalui pendidikan akhlak. Pendidikan akhlak bukanlah pengajaran ilmu pengetahuan tentang akhlak. Pendidikan akhlak adalah proses aplikasi nilai-nilai keagamaan ke dalam sikap, pemikiran dan perilaku. Pondasinya adalah nilai keimanan, bangunannya adalah ilmu dan amal saleh, sedangkan atapnya adalah keikhlasan.

Keempat nilai inilah yang membentuk akhlak mulia. Sabda Nabi Muhammad SAW., celaka orang yang beriman apabila tidak berilmu, celaka orang yang berilmu jika tidak beramal, dan celaka orang yang beramal jika tidak ikhlas. Dengan demikian, puncaknya akhlak adalah ikhlas. Orang yang ikhlas akan terbebas dari sikap ingin dipuji. Ada orang yang menyanjung atau tidak ada orang yang menyanjung, tetap berbuat baik, tetap bekerja keras dan tetap menjadi manusia yang beriman kepada Allah SWT.

Permasalahannya adalah antara lain bahwa ketika pendidikan akhlak dimasukkan ke pendidikan agama, dalam praktiknya bukan menekankan pada pendidikan agama tetapi pengajaran ilmu pengetahuan tentang agama. Oleh karena itu, perlu ada pembenahan dalam proses pendidikan akhlak, sehingga dalam pelaksanaannya tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan tentang akhlak Permasalahan lainnya adalah materi ajar, metode pembelajaran dan sistem evaluasi belajarnya ditengarai belum mampu menjawab dan menerjemahkan nilai-nilai akhlak mulia.

Para pendidik menghadapi kesulitan untuk mengaplikasikan pendidikan akhlak dalam proses pembelajaran. Apa sebabnya? Karena pendidikan di Indonesia belum didesain untuk mencetak manusia-manusia yang benar, jujur, dan berakhlak mulia. Konsep itu baru tertuang dalam tujuan Nasional. Konsep tersebut belum dapat dijawab dan diterjemahkan secara utuh dalam kurikulum dan praktik pembelajaran. Pemerintah dan penyelenggara pendidikan di Indonesia lebih mengutamakan pencapaian kuantitas lulusan dari pada kualitas proses pembelajaran.

Ketiga, membentuk peserta didik yang sehat jasmani dan rohani. Tujuan yang ketiga ini tidak dapat dilaksanakan oleh lembaga pendidikan secara mandiri, karena sistem pendidikan di Indonesia belum ditata secara komprehensif untuk membangun manusia-manusia yang sehat.

Oleh karena itu, perlu dilakukan kerja sama dengan lembaga/instansi lain, khususnya lembaga kesehatan dan lembaga ekonomi yang menangani urusan kesejahteraan. Sampai sekarang, perhatian pemerintah untuk mewujudkan peserta didik yang sehat belum dilakukan secara komprehensif. Dengan gizi yang terbatas, para pendidik sulit mengakselerasi kecerdasan dan kemampuan peserta didik.

Keempat, mencetak peserta didik yang berilmu. Pemerintah dan para penyelenggara pendidikan telah bekerja keras untuk mencetak peserta didik yang berilmu, pemerintah dan para penyelenggara pendidikan bersungguh-sungguh dalam menyusun dan menetapkan kurikulum serta menetapkan standar isi dan proses. Upaya tersebut antara lain merupakan bagian dari upaya untuk mengaplikasikan tujuan yang keempat ini dalm proses pembelajaran.

Namun demikian, masih ada hal yang perlu mendapatkan perhatian yaitu penerapan metode dan sistem evaluasi pembelajaran. Metode dan sistem evaluasi pembelajaran cenderung terfokus pada penguatan hafalan-hafalan. Akibatnya, peserta didik tidak terlalu mahir dalam mengaplikasikan teori-teori ilmu pengetahuan dan juga lemah dalam melakukan pengkajian keilmuan yang bersifat kontekstual.

Kelima, mencetak peserta didik yang cakap. Untuk mencapai tujuan ini masih terkendala oleh pola pembelajaran dan sistem evaluasi yang hanya menekankan pada kognitif. Sementara penguasaan keilmuan secara riil di lapangan kurang mendapatkan perhatian proporsional. Masalah tersebut hampir sama dengan pembentukan kreativitas belajar sebagaimana diamanatkan oleh tujuan pendidikan nasional.

Mengapa kecakapan dan kreativitas belajar peserta didik di Indonesia belum menonjol? Barang kali hal itu terkait dengan kultur dan kinerja mengajar guru serta budaya belajar peserta didik yang kurang baik. Juga fasilitas belajar dan sistem penganggaran dianggap masih belum memadai. Apalagi kalau dihubungkan dengan pola pembelajaran dan sistem evaluasi yang masih bersifat monoton dan kaku, dimana guru terbebani oleh kewajiban untuk dapat menyelesaikan kurikulum dengan porsi waktu yang kurang memadai. Terlebih apabila dihubungkan dengan beban guru untuk dapat mengejar target kelulusan, maka pola dan proses pembelajaran yang diselenggarakan oleh guru cenderung mengabaikan pembentukan kreativitas, kecakapan, semangat, dan motif berprestasi di kalangan para peserta didik.

Keenam, pembentukan jiwa mandiri di kalangan peserta didik. Guru dan para penyelenggara pendidikan menghadapi kesulitan dalam membentuk jiwa yang mandiri di kalangan para peserta didik. Kesulitan tersebut salah satunya disebabkan oleh budaya belajar peserta didik yang cenderung menggantungkan kepada guru secara utuh.

Kurang baiknya budaya belajar di kalangan para peserta didik dapat dilihat lemahnya dari budaya baca, sehingga untuk memacu budaya tersebut terpaksa setiap saat guru harus memberikan tugas pekerjaan rumah (PR) kepada peserta didik, maksudnya agar mereka mau membaca dan belajar dengan baik. Sekalipun demikian, budaya baca, pola hidup, dan pola belajar mandiri masih harus terus dipacu sehingga suatu saat akan terbentuk jiwa mandiri di kalangan peserta didik.

Secara hierarkis, tingkat tujuan nasional tersebut hendak dicapai melalui tujuan institusional, yakni tujuan yang hendak dicapai oleh satu lembaga pendidikan atau satuan pendidikan. Sementara itu, tujuan institusional dicapai melalui tujuan kurikuler atau kurikulum, yakni tujuan yang hendak dicapai oleh suatu bidang ilmu atau program studi, bidang studi, mata pelajaran, dan suatu ajaran yang disusun berdasarkan institusional.

Tujuan kurikulum tersebut dicapai melalui tujuan instruksional, yakni tujuan yang hendak dicapai setelah selesai diselenggarakan suatu proses pembelajaran, yang disusun berdasarkan tujuan kurikulum sesuai dengan suatu pokok bahasan atau kompetensi dasar yang dituangkan dalam alokasi waktu tertentu. (Penulis adalah Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Bina Bangsa)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here