Keliru, Anggapan Etnis Cina di Tangerang Eksklusif

Dra Tantry Widiyanarti MSi. penulis buku “Sisi Lain Kota Tangerang” dan “Mozaik Kota Tangerang”

JAKARTA, (KB).- Streotip tentang etnis Cina khususnya Cina Benteng (sebutan untuk etnis Tionghoa yang tinggal di Tangerang) yang menganggap etnis Cina sebagai etnis yang eksklusif dan sulit berinteraksi dengan penduduk setempat adalah hal yang keliru. Pada kenyataannya, etnis Cina dapat berinteraksi dan bergaul dengan baik dengan masyarakat Tangerang.

Demikian dikatakan Dra Tantry Widiyanarti MSi. penulis buku “Sisi Lain Kota Tangerang” dan “Mozaik Kota Tangerang”. “Akulturasi dan kohesi sosial di Tangerang terjadi dengan harmonis, sehingga masyarakatnya dapat hidup berdampingan secara harmonis,” katanya.

Banyak keunikan

Seperti diketahui Kota Tangerang merupakan salah satu kota di Provinsi Banten yang mempunyai banyak keunikan. Salah satu keunikannya adalah pembauran antar-etnis yang berjalan dengan harmonis antara etnis Melayu, Jawa, Sunda, dan Cina.

Di Tangerang, komunitas etnis Cina dikenal dengan sebutan Cinta Benteng dan telah mampu berbaur dengan penduduk setempat.

Menurut sejarah, etnis Cina telah ada di Tangerang pada tahun 1400-an, dan kini hampir seperempat dari keseluruhan penduduk Kota Tangerang didominasi keturunan etnis ini. Keberadaan etnis Tionghoa telah mewarnai kebudayaan setempat. Terlihat dari gaya bicara, kuliner, tempat ibadah, dan budaya lainnya.

Keberagaman etnis yang ada di Kota Tangerang tidak menjadi pemicu disharmonisasi hidup bermasyarakat. Justru hadirnya beragam etnis membawa keunikan dan menjadi daya tarik bagi Kota Tangerang.

Keharmonisan dalam keberagaman antar-etnis ini dirangkum dan diperlihatkan dalam buku “Sisi Lain Kota Tangerang” dan “Mozaik Kota Tangerang” yang ditulis dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Tangerang Dra Tantry Widiyanarti MSi.

“Melalui buku ini, saya ingin memperlihatkan kepada pembaca bahwa streotip tentang etnis Cina khususnya Cina Bentengyang menganggap bahwa etnis Cina itu sebagai etnis yang eksklusif dan sulit berinteraksi dengan penduduk setempat adalah hal yang keliru,” kata Tantry.

Menurut Tantry, pada kenyataannya, etnis Cina dapat berinteraksi dan bergaul dengan baik dengan masyarakat Tangerang. Buku ini membawa pembacanya melihat keberagaman di Kota Tangerang. Melalui buku ini diharapkan akan memotivasi masyarakat untuk saling hidup rukun dan berdampingan dengan orang yang berbeda budaya.

Peluncuran buku

Menurut rencana, buku ini akan diluncurkan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jalan Medan Merdeka Selatan nomor 11 Jakarta Pusat pada 7 April 2019. Dalam peluncuran buku ini akan dihadirkan keynote speaker Dr Dra Ulani Yunus, MM. Ia akan berbicara tentang City Branding.

Selain dosen tetap Binus University, Ulani Yunus juga praktisi Cultural Communication sekaligus RIG Leader Cross Cultural Communication Binus University.

Nara sumber yang akan hadir dalam acara peluncuran buku ini antara lain Dr Munawar Holil MA, dosen tetap FIB UI sekaligus kepala laboratorium Filologi FIB UI. Sebagai seorang yang ahli di bidang budaya, ia akan membahas buku tersebut dari paradigma budayanya.

Kemudian ada pula Diana Anggraeni MM, MIkom, dosen tetap FIKOM Universitas Pancasila Jakarta. Ia akan membahas dalam bidang Marketing Komunikasinya.

Sementara narasumber lainnya adalah Rully Yose, M.Ikom, praktisi Desain Komunikasi Visual sekaligus dosen tetap Ilkom FISIP Universitas Muhammadiyah Tangerang.(DA)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here