Kelebihan Demokrasi

Prof. Dr. Lili Romli

Ketua ICMI Orwil Banten

Pada masa awal perkembangannya demokrasi dianggap sebagai bentuk pemerintahan orang-orang miskin dan bentuk pemerintahan yang jelek, tetapi setelah Perang Dunia II demokrasi sebagai bentuk pemerintahan yang paling baik. UNESCO, pada tahun 1949, mengatakan, mungkin untuk pertama kali dalam sejarah demokrasi dinyatakan sebagai nama yang paling baik dan wajar untuk semua sistem organisasi politik dan sosial yang diperjuangkan oleh pendukung-pendukung yang berpengaruh

Demokrasi kini telah menjadi trend pemerintahan abad ini. Huntington mengatakan telah terjadi gelombang demokratisasi di negara-negara di dunia. Negara-negara yang sebelumnya otoriter berubah menjadi negara demokratis, termasuk di dalamnya adalah Indonesia. Indonesia, yang sebelumnya termasuk negara otoriter di bawah kekuasaan Soeharto dan Orde Baru, kini menjadi negara demokrasi terbesar setelah Amerika dan India.

Mengapa demokrasi menjadi pilihan bagi negara-negara, karena demokrasi memiliki beberapa kelebihan-kelebihan dibandingkan dengan bentuk pemerintahan lainnya. Robert Dahl mengatakan bahwa demokrasi adalah suatu cara yang lebih baik untuk memerintah negara dibandingkan alternatif lain yang bukan demokrasi. Menurutnya, demokrasi paling tidak lebih unggul dalam sepuluh hal, yaitu: menghindari tirani; menghormati hak-hak asasi;  kebebasan umum; menentukan nasib sendiri; otonomi moral; perkembangan manusia; menjaga kepentingan pribadi yang utama; persamaan hak;  mencari perdamaian; dan kemakmuran.

Sedangkan Henry B. Mayo mengatakan bahwa dalam demokrasi memiliki nilai-nilai, seperti menyelesaikan perselisihan secara damai dan terlembaga; menjamin terselenggaranya perubahan secara damai dalam masyarakat yang sedang berubah; menyelengarakan pergantian pemimpin secara teratur; membatasi pemakaian kekerasan sampai minimum; mengakui serta menganggap wajar adanya keanekaragaman; dan menjamin tegaknya keadilan.

Problemnya ketika demokrasi tersebut diimplementasikan ada kecenderungan bahwa demokrasi yang dilaksanakan selama ini nyaris tanpa jiwa. Hakekat demokrasi kerap dikaburkan oleh kepentingan pragmatis sesaat yang berakibat munculnya kekecewaan. Wajah demokrasi kerap dicerminkan dengan perilaku para elit politik. Sehingga jika perilaku elit politik tidak mencerminkan etika dan moral yang baik, maka demokrasi pun demikian adanya.

Demokrasi lebih disikapi sebagai prosedural belaka dengan mengedepankan suara terbanyak (50 plus 1) yang belum tentu menggambarkan keinginan semua pihak. Prinsip mayoritas kadang dipaksakan untuk memenuhi kepentingan kelompok semata tanpa mempertimbangkan aspek akomodasi terhadap kepentingan publik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here