Rabu, 26 September 2018

Kekurangan SDM Bidang Kejiwaan, Dinas Kesehatan Kesulitan Tangani ODGJ

SERANG, (KB).- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Serang mengatakan, kesulitan menangani orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di wilayahnya, yang kini jumlahnya mencapai 631 orang. Hal tersebut, dikarenakan Dinkes masih kekurangan sumber daya manusia (SDM) bidang kejiwaan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Serang, Sri Nurhayati menuturkan, berdasarkan data yang ada, di Kabupaten Serang ada 631 ODGJ. Jumlah tersebut, tersebar di semua kecamatan se-Kabupaten Serang. Dengan jumlah ODGJ tersebut, pihaknya sering kesulitan dalam penanganannya. Sebab, jumlah SDM bidang kejiwaan yang ada sekarang masih terbatas.

“Untuk dokter jiwa saja saat ini Kabupaten Serang hanya memiliki seorang. Padahal, idealnya minimal memiliki empat orang dokter spesialis jiwa. Kalau ada empat kan bisa dibagi, ada yang di klinik standby, ada yang ke lapangan dan ada yang di ruangan. Ini kurang banget SDM-nya, karena kan itu untuk yang setipe RSDP sebagai rumah sakit rujukan regional. Dokter spesialis jiwa kan harus dirumah sakit, bukan di Puskesmas adanya,” katanya kepada Kabar Banten, Jumat (2/3/2018).

Menurut dia, pihaknya sebenarnya sudah sering mengajukan penambahan dokter spesialis jiwa, namun belum ada respons untuk pengajuan tersebut. Dengan keterbatasan SDM tersebut, akhirnya dokter jiwa yang ada mengajari dokter Puskesmas. Mereka dilatih, agar bisa menangani kejiwaan di tingkat pelayanan kesehatan dasar. “Itu ilmunya diberikan. Jadi, untuk perpanjangan tangan dokter Anis (dokter jiwa RSDP). Kalau memang sudah spesialistik dan harus dikonsulkan ya kami lakukan atau juga kami rujuk langsung ke rumah sakit,” ujarnya.

Selain kekurangan dokter, ucap dia, saat ini di Kabupaten Serang dan di Provinsi Banten memang belum memiliki rumah sakit jiwa (RSJ). Sehingga, selama ini yang menjadi andalan bagi mereka yang terjaring razia, adalah dibawa ke Bani Sifa. Selain itu, sempat juga dilakukan perujukan ke RSJ di Bogor, namun sekarang ada perubahan aturan dalam syarat perujukannya. Sehingga, keberadaan RSJ di Banten mendesak. “Tapi, nanti informasinya mau buka (RSJ) di Walantaka dan mau bangun, tapi memang prosesnya cukup panjang, tahun ini saja fisiknya belum dibangun jangan-jangan tiga tahun lagi baru operasi,” tuturnya.

Ia menuturkan, sebenarnya untuk ODGJ di Kabupaten Serang, pihaknya memiliki program penanggulangan kesehatan jiwa. Bahkan, pihaknya sering melakukan vokasi ke tiap desa. Hasil vokasi tersebut, saat ini para keluarga yang memiliki penyakit kejiwaan menjadi berani untuk berbicara dan mengobatinya. “Dulu mereka sering menyembunyikan anggota keluarganya (yang mengalami gangguan jiwa). Sekarang akhirnya banyak yang enggak malu-malu lagi, karena melanggar HAM kalau dipasung dan sebagainya,” katanya.

Ia menjelaskan, 631 ODGJ tersebut jangan serta merta diasumsikan dengan yang ditangkap Satuan Polisi Pamong Praja, beberapa waktu lalu. “ODGJ yang 631 ini bukan seperti yang kemarin loh (yang diamankan Satpol PP). ODGJ (631 orang) yang dimaksud, yaitu mereka yang masih tampak seperti orang normal. Hanya saja memiliki gangguan mental,” ujarnya.

Sedangkan, untuk ODGJ yang ditangkap di jalanan, ucap dia, mereka sudah masuk kategori disfemia (gangguan jiwa berat). “ODGJ kan diagnosasnya banyak, itu enggak seperti yang hasil pengamanan kemarin enggak selalu seperti itu, kalau itu sudah yang berat,” ucapnya. Menurut dia, tingkatan gangguan jiwa banyak jenisnya. Mereka yang sering mengeluhkan kondisi fisiknya secara tidak jelas bisa dikategorikan gangguan jiwa. “Misalnya ada yang ngeluh sakit kepala, perut, kaki, tapi pas diperiksa fisiknya enggak ada itu juga masuk kategori,” tuturnya. (DN)***


Sekilas Info

Pemilu 2019 Tingkat Provinsi Banten, Tiga Daerah Paling Rawan 

SERANG, (KB).- Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI meluncurkan Indeks Kerawanan Pemilu (IKP) 2019. Dari hasil penelitian Bawaslu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *