Kekuatan Kearifan Lokal Melawan Hoax

Ahmad Asqolani.*

Oleh : Ahmad Asqolani

Hoax (berita bohong) selalu menjadi masalah yang tak henti-hentinya membuat bingung masyarakat Indonesia. Misalnya peristiwa besar yang akhir-akhir ini mengangkat sikap idealisme mahasiswa. Sebuah aksi unjuk rasa di berbagai daerah demi menolak pengesahan sejumlah RUU kontroversial, kemudian berakhir dengan informasi-informasi hoax yang keluar seperti air bah.

Antusiasme masyarakat yang sangat besar dalam membela Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ternyata dimanfaatkan oleh sejumlah oknum politik. Dibuatnya berita-berita hoax yang memecah belah. Kemudian arus deras informasi miring menjadi tak terkendali, ramai orang-orang membagikan informasi seputar demo mahasiswa tanpa menyaringnya dahulu.

Contoh kecil, tiba-tiba saya mendapat informasi dari salah satu akun media sosial bahwa seorang mahasiswa bernama Zainal tewas setelah dipukuli polisi saat demo di gedung DPR, lengkap dengan foto dan ucapan bela sungkawa. Tentu saya terkejut membacanya. Namun setelah ditelusuri, ternyata kabar itu merupakan kejadian lama, sebuah berita tentang sikap HMI Ketapang yang menyesalkan tindakan anarkis oknum aparat saat berunjuk rasa di depan gedung DPRD Kalbar.

Selain kasus demo mahasiswa, beberapa waktu lalu saya juga membaca berita tentang tewasnya Ustaz Samsudin asal Serang-Banten yang dibubuhi berita hoax, bahwa korban diincar dan pelaku merupakan simpatisan PKI. Keterkejutan yang sama terjadi ketika membaca akun media sosial yang mengatakan bahwa korban adalah penasihat FPI Banten. Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata hoax! Korban memang guru ngaji tapi bukan salah satu pengurus FPI.

Kemudian ada juga akun yang mengatakan, sedang ada kelompok PKI yang berkeliaran dan seolah-olah sedang mencari ulama untuk dihabisi di Banten. Ini juga hoax! Terkait tewasnya korban, polisi sebelumnya sudah  menyebut bahwa korban tewas dibacok tamunya yang depresi akibat digugat cerai sang istri.

Semua contoh yang disebutkan oleh saya di atas hanya bagian kecil, masih banyak berita miring lain yang bertebaran di sekeliling kita, yang tanpa sadar mempengaruhi kita untuk menjadi bagian dalam penyebaran berita hoax. Saya kira dalam hal ini, bermuara pada satu masalah, yaitu mindset masyarakat itu sendiri. Menurut Gunawan (2007:14) mindset merupakan kepercayaan-kepercayaan yang mempengaruhi sikap seseorang, sekumpulan kepercayaan atau suatu cara berpikir yang menentukan prilaku dan pandangan, sikap dan masa depan seseorang.

Mindset yang masih senang mengkonsumsi berita bohong inilah yang merepotkan dan menjadi krusial. Asalnya berita hoax muncul sesuai keinginan dan kepentingan suatu kelompok, sehingga tanpa pikir panjang atau kroscek, kita langsung membagikannya dengan tujuan viralisasi. Lantas, sampai kapan semua kegaduhan ini akan berakhir? Sampai kapan kita dipernainkan berita-berita yang jelas-jelas diarahkan untuk mengadu domba? Padahal pemerintah sudah berupaya mengancam pelaku hoax dengan membuat undang-undang ITE? Namun hoax masih tetap ada dan justru dijadian senjata para peminat kepentingan kerena mindset yang disebutkan tadi.

Bila milenial disebut sebagai generasi yang lahir antara tahun 1980 hingga 2000, maka saya termasuk generasi yang disebut Gen Y itu. Sebelum Gen Y muncul, dunia mengenal Generasi X yang lahir dari ledakan baby boomer di tahun-tahun yang lebih pahit dan sulit sebab di zaman mereka nyaris jauh dari teknologi dan bumi dirusak dengan berbagai peperangan.

Setelah zaman melewati Generasi Y, muncul Generasi Z yang diserang dengan berbagai perangkat teknologi lebih canggih dan segala kebutuhan mereka terpenuhi dari sentuhan ujung jari. Mereka lahir antara tahun 2005 sampai 2010. Setelah mereka, kemudian lahir lagi generasi berikutnya yang dikenal sebagai Generasi Alpha yang lahir antara tahun 2011 sampai 2025 dan mereka orang-orang mapan dari segi ekonomi di usia muda, berjiwa usaha, terdidik dan memiliki orang tua yang kaya.

Sebagai Generasi Milenial yang lahir di tahun 1996, saya mengikuti perkembangan teknologi, kita harus mengakui seiring derasnya arus globalisasi yang tak terbendungkan, banyak masyarakat yang mulai kehilangan pegangan. Namun saya juga mengalami ketika Ninik Mamak masih menggunakan istilah pemali (dalam KBBI: pemali adalah pantangan atau larangan) dengan menakut-nakuti anaknya melakukan hal di luar moril. Saya pernah ditakut-takuti, Setan Jaring akan muncul dan menculik anak-anak yang masih keluar rumah menjelang Magrib. Padahal maksudnya cukup mainnya sudah tiba waktu salat dan membersihkan diri.

Meski sudah dewasa dan tahu kalau itu hanya mitos, saya masih percaya dan berusaha untuk tidak keluar rumah ketika Magrib. Nah, mindset inilah yang saya maksud, untuk menjaga pegangan kita agar tetap kokoh, kita harus berpegangan pada identitas diri yang kuat, yaitu kultural.

Kalau kita tekun membaca, kita akan menemukan begitu banyak kearifan lokal di Indonesia, tercatat dalam rangkaian sidang UNESCO ke 39 di Paris yang digelar pada 1-9 Nopember 2017 lalu, Indonesia disebut sebagai salah satu negara adidaya dalam hal keragaman budaya. Sudah puluhan budaya Nusantara ini diakui sebagai warisan dunia dan warisan dunia tak benda.

Sejak dulu melalui kearifan lokal para orang tua kita sudah mengajarkan agar tidak menyebarkan berita hoax. Ulah Cakcak Bodas merupakan salah satu contoh tutur lisan di Banten, sebuah larangan yang ditunjukan kepada orang yang suka menguping dan menyebarluaskan apa yang ia dengar sambil ditambah-tambahkan. Bukankah larangan ini mempunyai korelasi terhadap masalah hoax?

Inilah yang ingin saya sampaikan, kearifan lokal yang merupakan bagian budaya suatu masyarakat, yang tidak dapat dipisahkan dari keberadaan masyarakat, atau pengetahuan yang ditemukan oleh masyarakat lokal dan diwariskan secara turun temurun, dari satu generasi ke generasi melalui sastra lisan, adalah kekuatan melawan hoax. Dari apa yang saya baca, kearifan lokal memiliki ciri khas, mampu bertahan dan mengakomodasi budaya luar serta mempunyai kemampuan mengendalikan dan memberi arah pada perkembangan budaya.

Konteks kultural seperti inilah yang seharusnya menjadi pegangan masyarakat dalam bertutur dan bersikap. Masyarakat Banten mengenal ungkapan, Adat Ka Kurung Ke Iga (adat sudah terkurung tulang iga), atau “Pindah Cai Pindah Tampian, ketika berpindah ke suatu tempat, kita harus mengikuti kebiasaan adat setempat. Buruk-Buruk Papan Jati (seburuk-buruknya sikap saudara, ia tetap keluarga kita) dan masih banyak lagi. Kalau masyarakat memegang kebiasaan itu dan menjadikannya sebagai mindset ysng diajarkan orang-orang tua kita, saya percaya secara substansi mampu mengatasi pertengkaran, apalagi fitnah yang disebar luaskan oleh pelaku-pelaku hoax.

Sayangnya kearifan lokal yang disebutkan kian terkikis dan dilupakan banyak orang, terutama generasi muda yang mengenal teknologi. Arus globalisasi yang mengharuskan kita bersaing ke ranah dunia menawarkan kemudahan mengakses informasi, gaya hidup yang semakin pragmatis dan konsumtif, kearifan lokal akhirnya meredup khususnya dalam hal implementasi.

Ini adalah tantangan bagi kita sebagai masyarakat dan pemerintah daerah terkait untuk menghidupkannya kembali. Kita telah menyadari revitalisasi kearifan lokal memiliki relevansi yang berkaitan dengan pencegahan konflik di antara anak bangsa, juga penyebaran berita-berita hoax.

Pada akhirnya penulis hanya berharap pemerintah bisa membuat program khusus dalam menghidupkan kearifan lokal. Boleh jadi dengan menerapkannya dalam muatan lokal di sekolah-sekolah atau membuat seminar khusus akan pentingnya kearifan lokal sebagai pegangan masyarakat agar tidak kehilangan identitasnya sebagai warga negara Indonesia. (Penulis adalah alumnus Unbaja dan Staf Wasbang PDAM Tirta Albantani. Menulis esai, cerpen dan puisi yang dimuat di media lokal dan nasional)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here