Kekeringan tak Pengaruhi Pasokan Pangan

LEBAK, (KB).- Pemkab Lebak memastikan kekeringan yang terjadi akibat musim kemarau tidak akan mengakibatkan terjadinya krisis pangan. Sebab, ketersediaan pangan bagi masyarakat saat ini dinilai sudah mencukupi.

Kepala bidang distribusi Dinas Ketahanan Pangan Lebak Dani Hendarman mengatakan, pasokan pangan di Kabupaten Lebak saat ini sudah sangat mencukupi. Sehingga, kekeringan yang sudah terjadi di beberapa daerah di Kabupaten Lebak dampak musim kemarau dipastikan tak akan mengakibatkan terjadinya krisis pangan.

“Stok pangan aman, jadi meskipun terjadi kekeringan itu tidak sampai mengakibatkan terjadinya krisis pangan,” kata Dani Hendarman, Rabu (3/7/2019).

Menurut dia, saat ini sejumlah areal persawahan petani memang mengalami kekeringan akibat musim kemarau. Namun, produksi pangan masih pascapanen tetap surplus. Sehingga, pasokan beras ke sejumlah pasar tradisional berjalan lancar.

“Beras Lebak surplus, jadi kita tidak perlu khawatir terjadi krisis meski terjadi kekeringan nanti,” katanya.

Ia menyebutkan, saat ini berdasarkan laporan dari Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun), kekeringan areal persawahan sudah terjadi di sejumlah kecamatan. Antara lain, Malingping, Wanasalam, Maja dan Cihara. Jika dikalkulasikan, jumlah areal persawahan yang kekeringan tercatat sekitar 25.000 hektare.

“Bahkan, kita menjamin produksi beras mencukupi kebutuhan pangan hingga tahun 2020,” ujarnya.

Pihaknya mengapresiasi produksi beras sepanjang tahun 2018 menembus 320.841 ton. Sehingga persediaan pangan melimpah dan mencukupi untuk warga Kabupaten Lebak yang berpenduduk 1,2 juta jiwa itu. Konsumsi beras warga Lebak sekitar 11.977 ton per bulan atau 143.724 ton per tahun dengan rata-rata konsumsi per kapita sebanyak 134 kilogram.

“Produksi beras di Lebak surplus di atas 100 ribu ton dan aman hingga 17 bulan ke depan,” ucapnya.

Terpisah, Kepala Seksi Perlindungan Tanaman Distanbun Lebak Itan Octarianto menyatakan, jumlah areal persawahan yang mengalami kekeringan tercatat 1.243 hektare tersebar dengan usia tanam antara mulai 30 sampai 50 hari setelah tanam (HST). Penyebab kekeringan, di antaranya akibat debit jaringan irigasi menurun dampak kemarau.

“Persawahan yang tidak memiliki infrastruktur irigasi, itu masuk kategori sawah tadah hujan. Kami memfokuskan penyelamatan tanaman padi agar tidak mengalami gagal panen melalui penyaluran pompanisasi,” katanya. (ND)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here