KEK Tanjung Lesung Belum Dilengkapi RDTR

Maket KEK Tanjung Lesung.*

Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Tanjung Lesung, Kabupaten Pandeglang belum ditindaklanjuti dengan pembuatan rencana detail tata ruang (RDTR). Padahal, RTDR ini penting sebagai acuan tata ruang yang terkonsentrasi pada wilayah yang sedang dikembangkan.

Direktur Pengendalian Pemanfaatan Ruang pada Dirjen Pemanfaatan Ruang dan Penguasaan Tanah Kementerian Agraria dan Tata Ruang Wisnubroto Sarosa menuturkan, RDTR merupakan turunan dari RTRW. Jika RTRW merencanakan tata ruang pada skala 1 banding 25.000 atau banding 50.000, RDTR merencanakan tata ruang secara terkonstranasi pada wilayah yang dikembangkan saja.

“Misalnya ada di sebuah Kabupaten Pandeglang nih, ada kecamatan-kecamatan, ada 1 kecamatan di sekitar Tanjung Lesung kita zoom, aturannya lebih detail,” katanya usai Workshop Pengawasan Teknis Penyelenggaraan Tata Ruang yang diselenggarakan Direktorat Pengendalian Pemanfaatan Ruang pada Direktorat Jenderal Pengendalian Pemanfaatan Ruang dan Penguasaan Tanah Kementerian Agraria dan Tata Ruang, di Kanwil BPN Provinsi Banten, Kota Serang, Selasa (9/4/2019).

Menurutnya, setiap ada pembangunan baru yang dilakukan, kawasan di sekitarnya tidak jarang terlupakan. Untuk itu perlu dilakukan pengendalian agar kawasan terdampak pembangunan bisa dioptimalkan.

“Misalnya ada Waduk Karian, itu juga kita lihat karena kedepan Waduk Karian ini menjadi sumber air baku untuk DKI (Jakarta), karena untuk Jati Luhur saya kira kebutuhan pembangunan di Jabodetabek besar sekali dan itu dibutuhkan,” katanya.

Penataan ruang sendiri diawali proses perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian. Melalui kegiatan workshop itu pihaknya ingin memastikan sejauh penataan ruang di Provinsi Banten dijalankan secara baik.

“Jadi kabupaten/kota kita lihat di bagian mana yang yang sudah siap, kalau turunan dari peraturan-peraturan daerah RTRW sudah ada, turunannya seperti apa, apakah ada petunjuk teknis yang dikeluarkan oleh bupati atau wali kota untuk mendukung dari pelaksanaan (RTRW),” ucapnya.

Untuk KEK Tanjung Lesung sendiri, pihaknya sedang mempersiapkan pembuatan RDTR. RDTR bisa digunakan untuk tata ruang KEK dan kawasan yang ada di sekitarnya.

Ia melanjutkan, tidak hanya perlu didukung oleh RTDR, pengembangan wilayah juga dapat perlu dengan perumusan peraturan zonasi, peraturan zonasi sendiri bagian tidak terpisahkan dari RDTR. “Jadi RDTR dengan peraturan zonasi itu dua muka dari mata uang yang sama,” katanya.

Peraturan zonasi memuat apa apa yang boleh dan tidak boleh diberikan izin. Jika boleh maka seberapa besar pembangunan bisa dilakukan. “Misalnya Hotel, boleh seberapa besar, luasannya berapa dari kavling yang ada. Namanya konstruksi dasar bangunan, itu semua ukuran-ukuran itu dimunculkan di dalam peraturan zonasi, atau harus ada syarat tertentu. Syaratnya harus membuat syarat tertentu, misalnya harus membuat IPAL sendiri. Jadi setiap hotel itu harus diatur semua, itu namanya peraturan zonasi,” katanya.

Peraturan zonasi nantinya bisa menjadi acuan bagi dinas pelayanan terpadu satu pintu (PTSP) untuk memberikan izin pembangunan di sekitar kawasan. “Nanti temen-temen di dinas PTSP yang akan memberikan izin nanti tinggal lihat aja, oh anda memasuki kawasan ini, atau zona ini, izin apa yang diperlukan apakah izin lingkungan, izin lokasi untuk usaha atau izin IMB. Biasanya enggak semua ada izin lingkungan, tergantung besaran dari kegiatan itu,” katanya.

Tidak hanya di Tanjung Lesung, pembuatan RDTR juga bisa dilakukan untuk tata ruang di kawasan di sekitar gardu tol (GT). “Kalau misalnya jalan tol kita melakukan identifikasi persoalan pintu-pintu tol nya (GT). Jadi Tol Merak misalnya sampai Jakarta dan kita lihat ada GT-GT,” katanya.

Sementara itu, Pj Sekda Banten Ino S Rawita menuturkan, pihaknya akan berkoorindasi dengan Knawil BPN Banten untuk menindaklanjuti perumusan RDTR.

“Yang terpenting bahwa dengan adanya workshop ini sebuah terobosan baru, bagai gayung bersambut, jadi kita (pemprov) menginginkan ada penataan tata ruang, kebetulan Pak dirjen mengadakan workshop. Ini merupakan hal yang sangat positif untuk Banten, karena sekarang ini penduduk Banten semakin bertambah,” ujarnya. (Sutisna)*

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here