Kejutan Pilkada Kota Serang

Pilkada Kota Serang 2018 hampir usai. Sejumlah kejutan mewarnai hasil penghitungan cepat (quick qount) maupun situng KPU. Paling tidak, ada tiga hal kejutan yang meninggalkan banyak pertanyaan di kalangan masyarakat, karena hasil Pilkada Kota Serang 2018 yang dianggap di luar dugaan.

Pertama, adalah kekalahan pasangan nomor urut 1, Vera Nurlaela-Nurhasan yang ramai menjadi perbincangan ramai publik. Pasangan yang diidentikan sebagai petahana dan didukung delapan partai politik (parpol), perolehan suaranya ternyata tersalip jauh dari pasangan calon nomor 3, Syafruddin-Subadri Usuludin yang hanya didukung empat partai politik.

Disiapkan Partai Golkar sebagai suksesor suaminya, yakni Wali Kota Serang, Tubagus Haerul Jaman, Vera yang sejak awal masif sosialisasi dan paling unggulkan hasil survei dengan elektabilitas tertinggi, justru berakhir antiklimaks. Menggandeng politisi Partai Gerindra, Vera justru hingga real count KPU kalah dari pasangan Syafrudin-Subadri. Meskipun masih menunggu penetapan dari KPU Kota Serang, namun biasanya hasil real count tidak berbeda jauh.

Kejutan kedua, kemenangan Syafrudin-Subadri juga diikuti dengan kejutan lainnya, yaitu perolehan suara pasangan calon dari jalur independen, Samsul Hidayat-Rohman. Meski berada di posisi buncit, namun pasangan yang mengusung tagline “Buya” tersebut, mampu meraih dukungan signifikan hingga mencapai 82.030 suara atau sebesar 29,16 persen. Angka tersebut, hanya terpaut sekitar 3 persen dari pasangan Vera-Nurhasan yang meraih 90.468 suara atau sebesar 33,15 persen, sedangkan Syafrudin-Subadri meraih 108.856 suara atau sebesar 38,69 persen.

Kejutan ketiga, adalah partisipasi pemilih yang di luar dugaan mencapai 69, 62 persen dari daftar pemilih tetap (DPT) yang sebanyak 422.072 jiwa. Pencapaian tersebut, menjadi yang tertinggi dalam sejarah Pilkada Kota Serang. Padahal, banyak pihak menganggap gaung dan dinamika pilkada kali ini terasa sepi atau adem ayem.

Analisa logis

Sejumlah analisa juga bermunculan atas sejumlah kejutan yang terjadi. Jika membuka Pilkada Kota Serang 2018 dari halaman pertama hingga keluarnya hasil quick qount hingga situng KPU, terdapat data kualitatif yang bisa digunakan sebagai analisa logis untuk mengungkap tiga jawaban dari tiga kejutan yang terjadi di Pilkada Kota Serang tersebut.

Pertama, Vera yang hampir memborong partai, menjadi common enemy atau musuh bersama bagi pemilih dan pendukung bakal calon wali kota yang tidak mendapatkan kendaraan politik. Pilkada Kota Serang yang panas di awal menjadi tiba-tiba senyap ketika medan kampanye dibuka untuk umum, seolah menjadi ruang terjadinya semacam oksidasi antara pemilih rasional dengan pendukung kandidat yang tersisihkan.

Para pemilih rasional, terutama pendukung para kandidat yang tersisihkan, seolah tumbuh menjadi unsur radikal bebas yang mampu menggerakkan sikap politik para undecided voters, yang sebelumnya dalam beberapa survei terekam cukup tinggi. Ini menjadi kekuatan besar yang kemudian mampu membalikkan angka kemenangan bagi Syafrudin-Subadri dan tingginya suara calin independen yang berdampak langsung pada tingkat partisipasi pemilih.

Mereka menjadi kekuatan besar yang bersepaham untuk mengeliminasi lawan yang sama atau dalam istilah politik disebut dengan protest voting. Tujuannya, menggunakan pemilu sebagai wahana protesnya, dengan mengalihkan pilihannya untuk melawan kandidat yang tidak disukainya.

Hal tersebut ditunjukkan dengan perolehan suara pasangan Syafrudin-Subadri dan Samsul-Rohman (calon perseorangan) yang mampu meredam Vera-Nurhasan di wilayah perkotaan, yakni Kecamatan Serang dan Cipocokjaya, dua basis pemilih rasional terbesar di Kota Serang.

Berdasarkan hasil hitung cepat KPU yang menggunakan form C1, Syafrudin-Subadri di Kecamatan Serang yang dengan DPT tertinggi dan basis pemilih rasional terbesar, mampu meraih 42,8 persen atau unggul jauh dari perolehan suara Vera-Nurhasan yang meraih 30,1 persen, sedangkan pasangan calon perseorang, Samsul-Rohman, meraih suara signifikan hingga 16,9 persen.

Begitu juga di Kecamatan Cipocokjaya yang menjadi DPT tertinggi kedua dengan basis pemilih rasional, perolehan saura Syafrudin-Subadri meraih 49,3 persen atau jauh meninggalkan perolehan suara Vera-Nurhasan yang meraih 18,2 persen. Sementara, Samsul-Rohman meraih 22,5 persen.

Analisa komparatif dan historis

Namun, dalam analisa komparatif dan historis, memang ada hal yang tidak lazim dan terlupakan Partai Golkar pada Pilkada Kota Serang 2018. Salah satunya, adalah formula politik yang tidak biasa dilakukan Partai Golkar, jika melihat sejarah pilkada di Banten.

Sebut saja Tubagus Iman Ariyadi di Kota Cilegon. Di awal menancapkan kekuasaanya, dia menggandeng Edi Ariadi yang berlatar belakang birokrat dalam mengarungi panggung pilkada pertamanya di 2010. Formula politisi dan birokrat tersebut, bahkan membuat Iman dan Edi tak terkalahkan dalam dua pilkada secara berturut-turut.

Berikutnya di Tangerang Selatan, Airin Rachmi Diany menggandeng sosok berlatar belakang birokrat, Benyamin Davnie. Pasangan tersebut, bertahan hingga saat ini atau dua periode juga. Bahkan, formula tersebut juga diterapkan Ratu Tatu Chasanah di Pilkada Kabupaten Serang 2015.

Setelah merasakan pilkada sebelumnya sebagai wakil bupati yang mendampingi Taufik Nuriman, dia menggandeng sosok berlatar belakang birokrat Pandji Tirtayasa mampu melanjutkan estafet kepemimpinan di Kabupaten Serang. Begitu juga Zaki Iskandar di Kabupaten Tangerang. Meski di Pilkada 2018 menggandeng sesama politisi, namun dia pertama kali menancapkan kekuasaannya dengan memenangi Pilkada 2012 bersama sosok birokrat, yaitu Hermansyah.

Sejarah kepemimpinan di Kota Serang pun mencatat. Formula yang memadukan kader dan sosok berlatar belakang birokrat lah yang mengantarkan Wali Kota Serang, Tubagus Haerul Jaman dua periode. Setelah terpilih dan mendampingi Bunyamin (alm), Jaman yang di pertengahan periode pertama naik takhta menjadi wali kota.

Ia mampu mempertahankan kejayaannya pada pilkada berikutnya, dengan menggandeng sosok birokrat, Sulhi Choir, yang sebelumnya menjabat Sekda Kota Serang. Komposisi politisi dan birokrat tersebut, seolah menjadi marketable securities yang sangat bernilai dan menjual dalam politik lokal sebagai investasi jangka pendek untuk sesuatu yang jangka panjang. (Supriyadi Jayasantika/Redaktur PelaksanaHU Kabar Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here