Kamis, 15 November 2018
Breaking News

KEDUDUKAN ILMU DI MATA AL-GHAZALI

Al-Ghazali (450-505 H/1058-1111 M) adalah satu dari cendekiawan Muslim yang paling jenius di zamannya. Bukan hanya itu, ia juga memiliki bangunan berpikir yang baik dan benar. Ialah Hujjatu al-Islam, pengurai bukti kebenaran Islam. Seandainya ia hidup pada abad ini, sontak akan meruntuhkan teori para pofesor Barat seperti Richard Lynn, Helmuth Nyborg, dan John Harvey yang di dalam risetnya mengkaji sebuah hyphothesis adanya korelasi negatif antara kecerdasan dan keimanan.

Seperti halnya Verhage yang memberi kesimpulan pada penemuannya bahwa agnostik dan atheis rata-rata memiliki IQ empat point lebih tinggi dari orang beriman. Al-Ghazali adalah bukti nyata bahwa iman tidak berbanding lurus dengan kebodohan. Semakin religius seseorang bukan berarti semakin bodoh.
Al-Ghazali lahir di Thus, Iran, lalu menjadi masyhur di Baghdad. Kitab yang menjadi magnum-opusnya, Ihya’ Ulumuddin, ditulis di menara masjid Damaskus yang sangat sunyi dari hiruk pikuk manusia. Najib Mahfudz, seorang pemikir Mesir kenamaan pernah mengatakan bahwa ketika agama mati di hati para pemeluknya, Al-Ghazali menghidupkannya kembali dengan menghidupkan ‘rasa takut kepada Allah’.

Sedangkan Abdul Halim Mahmud, Syeikhul Azhar, Mesir juga sependapat bahwa Ghazali mampu mengembalikan keikhlasan ke dalam hati sanubari anak manusia. Keikhlasan yang ditanam mulai dari titik tolak, sarana, hingga pada setiap tujuan dan cita-cita. Ia mulai mentradisikan berpikir dengan hati sebagaimana anjuran al-Qur’an (baca QS 22: 46). Kata ilmu dalam berbagai bentuknya (termasuk kata lain yang semakna) sedikitnya diulang sebanyak 454 kali dalam al-Qur’an. Ini berarti betapa tinggi kedudukan ilmu serta pemiliknya di sisi Allah dan juga di sisi makhluk-Nya.

Ilmu didefinisikan sebagai pengetahuan yang berada dalam lingkup dan domain manusia tanpa harus melibatkan unsur-unsur asing dari luar (diri manusia). Akal cukup untuk memahami objek dari ilmu tersebut. Dengan kata lain, ilmu merupakan hasil dari olah nalar dan logika. Ini berbeda dengan Ma’rifah dalam konsepsi para Sufi.

Menurut al-Ghazali, Allah menyebut orang-orang yang berilmu bersamaan dengan diri-Nya dan malaikat. Mengutip dari Ibnu Abbas r.a. bahwa ulama (baca: ilmuan agama dan atau scientist) itu memiliki kedudukan lebih agung (700 kali lipat) dibanding seorang yang beriman. Dimana, jarak antara keduanya jika ditempuh dengan perjalanan niscaya membutuhkan waktu selama +500 tahun. Dengan demikian, betul ketika Allah bertanya, “apakah sama antara mereka yang mengetahui dengan yang tidak?” Tentunya tidak. Selain itu, orang yang berilmu cenderung takut kepada Allah (QS 35:28).

Semakin seseorang memahami realitas, semakin sadar akan keterbatasan yang dimilikinya. Kekuatan ilmu sangatlah dahsyat, dikisahkan bahwa singgasana Ratu Balqis ─dengan ilmu─ dapat dipindahkan ke tempat Nabi Sulaiman a.s. (dari Yaman ke Palestina) lebih cepat dari kedipan mata (QS 27: 40). Keagungan akhirat juga hanya diketahui melalui ilmu. Yang mampu melakukan olah pikir secara maksimal hanyalah ulama. Bahkan kata “libas” (pakaian) dalam redaksi ayat, “Wahai anak adam sesungguhnya kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan sebagai perhiasan bagimu…” (QS 7: 26), yang dimaksud adalah ilmu.

Siapa saja yang ditakdirkan menjadi orang baik, akan dikaruniai pemahaman yang baik tentang agama. Ulama adalah pewaris para nabi. Tidak ada kedudukan yang lebih agung dari kenabian, sehingga tiada kemuliaan di atas kemuliaan pewarisnya. Adakah kedudukan yang melebihi kedudukan seseorang yang karenanya, malaikat penghuni langit dan bumi memohonkan ampunan untuknya? Ilmu (wisdom) dapat menjadikan orang yang mulia bertambah mulia, bahkan seorang budak pun, dengan ilmu, dapat menjadi raja, sebagaimana yang pernah terjadi pada Dinasti Mamluk yang menguassi wilayah Mesir dan Syria selama tiga seperempat abad (1250-1517 M).

Demikianlah buah ilmu di dunia. Di akhirat, pastinya lebih banyak. Adapun level terendah seorang Faqih adalah ketika ia sadar betapa akhirat lebih utama. Jika pemahaman tentang ini benar, maka ia akan meningkatkan kualitas keilmuannya. Semakin jauh dari sifat pamer dan kemunafikan. Nabi bersabda, “sebaik-baiknya manusia adalah yang beriman dan berilmu. Ia bermanfaat ketika dibutuhkan…”.

Orang yang paling dekat derajatnya dengan kenabian adalah ulama dan ahlu al-Jihad. Yang pertama membimbing manusia menuju apa yang dicita-citakan Rasul. Sedangkan yang terakhir, menggunakan senjatanya untuk membela agama yang dibawa Rasul. Kematian suatu bangsa lebih ringan daripada kematian seorang ulama. Bahkan pada hari kiamat nanti, tinta yang dipakai ulama untuk menulis akan ditimbang (disamakan) dengan darah para Syahid. Dinukil Al-Ghazali dari Abu al-Aswad, “Tiada yang melebihi kemuliaan ilmu. Para raja menguasai manusia, sementara ulama mengendalikan para raja”.(Sukron Makmun/Anggota Komisi Pengkajian & Penelitian MUI Provinsi Banten serta peneliti pada University of Darussalam)*


Sekilas Info

Pendidikan Karakter di Pondok Pesantren Modern

Oleh Drs KH Sulaiman Effendi, M.Pd.I Pimpinan Ponpes Manahijussadat, Cibadak Lebak Banten Pondok pesantren adalah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *