Kedewasaan Berdemokrasi

Masudi SR.*

Oleh : Masudi SR

Usai sudah perhelatan akbar pesta demokrasi, pemilu serentak yang digelar April lalu. Kegaduhan politik yang terjadi sepanjang tahapan pemilu kini mereda. Dibanyak daerah bahkan suasananya kembali berjalan normal, seperti tidak pernah terjadi kontestasi politik yang begitu sengit, nyaris membuat masyarakat terkotak-kotak. Adakah ini pertanda semakin matangnya sikap berdemokrasi masyarakat?

Belum lagi lekang dari ingatan, bagaimana mencemaskannya dinamika politik yang terjadi sepanjang proses pemilu berlangsung. Adu strategi antar calon dan tim pemenangan, sering kali menabrak rambu hukum dan moral. Perang opini lewat darat dan udara (media sosial) dengan menarik isu-isu sentitif seperti suku dan agama sebagai bahan kampanye terjadi begitu leluasa. Ketika agama ditarik ke dalam politik praktis sarat kepentingan yang muncul bukan lagi kita, tetapi “kami” atau “mereka”.

Di antara pemilu yang mencemaskan sekaligus menggemaskan adalah pemilihan pasangan calon presiden dan wakil presiden. Pemilihan orang nomor satu di republik ini menjadi contoh sempurna bagaimana kecemasan publik memuncah, pesimistis meningkat dan intoleransi menguat. Energi positif pubik seantero negeri, tersedot oleh perilaku negatif masing-masing pendukung pasangan calon. Polarisasi terjadi begitu tajam, seakan tidak menyisakan harapan untuk terwujudnya kesatuan dan keharmonisan.

Di luar isu sensitif SARA, yang juga sering digunakan adalah kekurangan pasangan calon (kampanye negatif). Kelemahannya dicari dan diumbar ke ruang publik, sekecil apapun itu. Tidak jarang pula kampanye hitam, berupa fitnah ditebar. Pada saat yang bersamaan, kelebihan calon sendiri ditonjolkan. Hal-hal yang selama ini tidak pernah dilakukan, demi meraih simpati harus dilakukan.

Suasana kondusif

Kini, ketika pemilu telah berlalu dan hasilnya sudah ditetapkan, kita seperti dikejutkan dengan suasana yang ada. Konflik pascapemilu tidak terjadi. Masyarakat kembali larut dalam kesehariannya. Tidak ada kesedihan dan kekecewaan yang berujung rusak tatanan sosial yang ada. Kekhawatiran akan terjadinya petaka sosial tidak terwujud. Masyarakat menerima hasil akhir dengan relatif damai.

Namun secara umum, suasana pascapemilu berjalan normal. Bahwa ada catatan yang diberikan terhadap penyelenggaraan pemilu, tentu harus diterima sebagai bagian dari upaya untuk menyempurnakan penyelenggaraan berikutnya. Ini seperti diungkap dalam jajak pendapat yang dilakukan Kompas pada 17 Juni 2019 lalu. Disebutkan bahwa pelaksanaan pemilihan umum lalu dinilai tidak lebih baik dari pemilu periode sebelumnya oleh sebab adanya sejumlah gejolak aksi massa yang terjadi. Sebanyak 60,1% dari jumlah respon menyebutkan pelaksanaan pemilu kali ini cenderung lebih buruk dari pemilu lima tahun lalu.

Namun begitu, jejak pendapat itu juga menyimpulkan mayoritas responden menyatakan menerima hasil pemilihan. Disebutkan sebanyak 96,4% pendukung pasangan Jokowi- Amin menerima apapun hasil pemilu. Begitupun separuh lebih kelompok responden Probowo-Sansi (53,5%) menerima hasil Pemilu 2019.

Kini, setelah beberapa bulan berlalu, suasana kehidupan berbangsa kita mulai berjalan seperti biasa. Perbedaan politik yang cukup tajam selama hampir dua tahun belakangan ini, sesungguhnya merupakan sebuah dinamika yang biasa, sepanjang bisa dikelola dengan baik. Dan sejauh ini, dinamika politik yang terjadi merupakan ujian sekaligus hal yang menggembirakan bagi kehidupan demokrasi kita. Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) masih berada pada tingkat sedang dan stabil, jika dilihat dari skala 0 sampai 100. Rata-rata masih berata diangka 70 dan di bawah 80.

Pelajaran untuk pilkada

Partai politik dan elite politiknya sudah sepatutnya berkaca pada sikap yang diperlihatkan masyarakat dalam merespon realitas politik yang tidak sejalan dengan sikap dan pilihan politik mereka. Bahwa masyarakat sesungguhnya tidak terlalu mempersoalkan kemenangan atau kekalahan jagoannya. Karena bagi mereka esensi pemilu bukan terletak pada kemenangan atau kekalahan jagoan politik. Melainkan seberapa besar manfaat yang bisa mereka rasakan dari kehadiran seorang yang terpilih.

Sesungguhnya masyarakat sudah mengerti bagaimana harus bersikap setiap kali masa pemilihan tiba. Perilaku elite politik yang sangat pragmatis dan sikap singkar janji calon terpilih mengajarkan mereka bahwa tiada guna berduka terlalu dalam ketika kalah atau euforia terlalu heboh tatkala mengalami kemenangan. Sebab usai pesta tidak ada perubahan signifikan terhadap perekonomian mereka sebagaimana janji ketika pesta sedang berlangsung.

Karena itu pada pelaksanaan pilkada yang akan digelar nanti, pasangan calon, seluruh tim pemenangannya, parpol dan elite politik harus segera menyadari, bahwa masyarakat sudah semakin dewasa dalam menyikapi peristiwa politik kandidasi dalam setiap pilkada. Tampillah dengan membawa gagasan perubahan yang bisa dibumikan. Raihlah simpati lewat cara yang lebih edukatif. Tunjukkanlah bawa perebutan kekuasaan betapapun sengit dan keras, bisa dilakukan dengan cara yang santun dan demokratis.

Semua strategi pemenangan yang nyaris menghalalkan segala cara pada pilkada-pilkada masa lampau, hendaknya tidak lagi dipraktikkan di gelombang keempat ini. Masih banyak cara, taktik dan strategi yang bisa ditempuh tanpa harus mengorbankan nilai dan etika untuk memenangkan pemilihan. Toh, masyarakat juga sudah semakin dewasa menghadapi demokrasi elektoral ini, bisa membedakan mana yang pantas untuk diberi amanah mana yang tidak. (Penulis, Anggota KPU Provinsi Banten 2018-2023)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here