Kedai Kopi Cak Alief, Tawarkan Kenyamanan dan Harga Terjangkau

Kedai Kopi Cak Alief terlihat tak pernah sepi pengunjung. Menjual aneka kopi dengan aroma khas Kawah Ijen yang disajikan dengan berbagai varian dan menu makanan berat denga harga yang cukup terjangkau, kedai ini menawarkan kenyamanan dan sejumlah fasilitas gratis.

Menempati gedung 2 lantai dan didesain dengan konsep ketenangan, desain ruangan di kedai ini pun nampak cantik dengan penggunaan meubelir dari potongan kayu jati besar yang didatangkan langsung dari daerah Jepara, Jawa Tengah. Beberapa pajangan bingkai besar bertuliskan penggalan kata tokoh-tokoh dunia juga terlihat di sekeliling ruangan seakan tempat ini identik sebagai lokasi untuk para pemikir. Selain itu, kedai ini juga memiliki fasilitas mulai dari Wifi, musala, perpustakaan dan lahan parkir yang lumayan luas.

Kedai yang berlokasi di Jalan by Pass Soekarno-Hatta Rangkasbitung dan hanya berjarak beberapa puluh meter dari Kampus Latansa Mashiro ini, menjadi daya tarik tersendiri bagi kalangan mahasiswa dan masyarakat karena harganya terjangkau. Dengan tidak merogoh kocek yang terlalu dalam, pelanggan pun bisa menikmati segelas kopi dan menggunakan fasilitas WiFi gratis.

Selain menawarkan aneka kopi dengan aroma khas Kawah Ijen, kedai ini juga menyediakan kopi lokal Kabupaten Lebak dan berbagai kopi nusantara serta minuman rempah. Sedangkan untuk menu makanan beratnya, kedai ini menjual bebek goreng.

Pemilik Kedai Kopi Cak Alief, Abdurosyid mengaku, dalam sehari tak kurang dari 200 pelanggan datang ke kedainya. Pelanggannya didominasi oleh mahasiwa dan dosen. Ditambah beberapa kalangan pengusaha dan masyarakat umum di sekitar Rangkasbitung. “Selain pelanggan yang datang langsung ke kedai, banyak juga konsumen yang melakukan transaksi melalui jasa antar makanan,” ujarnya kepada Kabar Banten, Senin (16/9/2019).

Pria berdarah Madura ini menjelaskan bahwa selain untuk menikmati kopi dan kuliner, tempat ini juga bisa digunakan untuk menggelar seminar atau pengajian. “Biasanya ada komunitas yang menggelar pengajian di lantai dua. Untuk membuat tempat ini nyaman untuk diskusi komunitas atau sekedar ngobrol dengan relasi, kami sengaja mendesain kedai tanpa hingar bingar suara musik,” ujarnya.

Dari usaha kuliner yang digelutinya, Rosyid mengaku bisa meraup omset sekitar Rp 20 – Rp 250 juta per bulan. “Harga terjangkau untuk kalangan mahasiswa, menjadi daya tarik tersendiri bagi kalangan yang memiliki uang pas-pasan.  Kebetulan, lokasi kedai hanya berjarak beberapa puluh meter dari Kampus Latansa Mashiro,” ujar pria yang akrab dipanggil Cak Rosyid ini. (Lugay/KO)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here