Kebutuhan Industri Belum Terpenuhi

SERANG, (KB).- Tingginya angka pengangguran di Provinsi Banten disebabkan berbagai faktor. Salah satunya, karena tenaga kerja belum dapat memenuhi kebutuhan industri. Demikian disampaikan Gubernur Banten Wahidin Halim (WH), saat menanggapi hasil reses yang disampaikan DPRD Banten dalam paripurna, di Gedung DPRD Banten, KP3B, Curug, Kota Serang, Kamis (29/3/2018).

Oleh karena itu, pemprov menggagas kebijakan berupa link and match antara sekolah dengan industri. Hal tersebut dilakukan, agar permintaan industri terhadap tenaga kerja dengan keterampilan tertentu bisa disalurkan sesuai kebutuhannya.
“Kami ingin melahirkan tenaga-tenaga terampil yang sesuai dengan permintaan. Jadi, kami lihat, industri itu butuhnya apa saja. Kami harus bisa menjawab kebutuhan itu,” katanya.

Persoalan tingginya angka pengangguran terbuka di Provinsi Banten, menurut dia, juga diakibatkan pola pikir masyarakat yang menginginkan pekerjaan di sektor industri dengan meninggalkan sejumlah sektor tertentu, seperti pertanian dan peternakan. “Orientasinya pada industri, namun industri belum membutuhkan. Ini juga kan jadi persoalan. Makanya, sekarang kami harus punya strategi-strategi baru,” ujarnya.

Selain itu, pemprov juga akan memperkuat jurusan-jurusan baru di sekolah kejuruan, agar mampu melahirkan lulusan yang memiliki keterampilan sesuai dengan kebutuhan industri saat ini. WH menyebut salah satu jurusan baru yang mampu menjawab kebutuhan tersebut, yaitu Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STIP) di wilayah Tangerang.

“Kemarin saja laporan dari kepala sekolah, katanya sudah laku keras. Bahkan, dia dapat lisensi dari Inggris dan Amerika. Lulusan itu juga langsung bisa dipekerjakan. Nah, sekarang kami pengen geser paradigmanya, misalnya jurusan-jurusan tertentu kan sudah jenuh, sudah banyak hasilnya. Nanti, jurusan di SMK itu diproyeksikan bukan untuk hari ini saja, tapi juga untuk masa depan,” ucapnya.

Selain itu, tutur dia, faktor pengangguran lainnya bisa jadi, karena masyarakatnya yang malas. “Pengangguran terbuka juga bisa terjadi, karena masyarakatnya malas bekerja. Sehingga, kesempatan bekerja semakin berkurang. Kemarin saat job fair saja, ada 17.000 orang yang melamar pekerjaan di pabrik-pabrik, tapi yang diterima cuma 2.000-an,” katanya.

Berdasarkan data BPS Provinsi Banten, angka tingkat pengangguran terbuka di Provinsi Banten pada Agustus 2017 mencapai 9,28 persen dari jumlah angkatan kerja sebanyak 5,08 juta jiwa. Salah satu upaya pemprov dalam menekan angka pengangguran, yaitu melaksanakan kegiatan Pelatihan Berbasis Kompetensi Angkatan ke-3 2018 Balai Latihan Kerja Indonesia (BLKI) Provinsi Banten di Gedung BLKI Banten, Tangerang Selatan, beberapa waktu lalu.

“Melalui kegiatan ini diharapkan pula, agar para peserta pelatihan kerja tidak hanya terfokus kepada mindset sebagai menjadi pencari kerja, melainkan diarahkan juga sebagai wirausaha baru yang menciptakan lapangan kerja,” ujar Wakil Gubernur Banten, Andika Hazrumy.

Ia menuturkan, kemitraan dunia usaha (sektor swasta), pemerintah daerah bersama-sama dengan pekerja dapat terbentuk untuk mengoptimalkan kerja sama link and match antara BLKI dengan industri. “Sehingga, dapat meningkatkan lulusan BLKI memiliki keterampilan dan kompetensi bidang tertentu sesuai yang dibutuhkan oleh industri,” ucapnya. (RI)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here