KBIH Banten di Mekah Masa Kolonial

Mufti Ali, Ph.D

Arsip haji di Belanda sangat kaya dan jika kita membacanya dengan teliti banyak narasi sejarah bisa direkonstruksi salah satunya adalah bahwa ternyata orang Banten pada masa Syeikh Nawawi al-Bantani (1813-1897) banyak yang mendirikan kelompok bimbingan ibadah haji (KBIH) yang dalam istilah saat itu di arsip haji kolonial disebut dengan mutawwifin.

Mutawwif biasanya membimbing jemaah dalam pelaksanaan ritual ibadah haji selama musim haji. Dalam kasus tertentu, mutawwif juga menyambi sebagai badal haji, pengganti haji bagi orang yang sudah meninggal. Sebagian ulama dan guru ngaji dari Banten yang tinggal di Mekah bekerja sebagai mutawwif atau pembimbing jemaah haji terutama pada musim haji. Dalam arsip haji juga disebutkan bahwa Syekh Nawawi pada masa mudanya pernah beberapa tahun menjalani pekerjaan ini.

Mutawwif dari Banten umumnya menjadi pembimbing haji bagi rombongan haji yang berasal dari Banten dan Jawa Barat. Namun karena kemampuan berbahasa Melayu dan bahasa daerah lainnya di Nusantara, terkadang sebagian mutawwif juga ‘diizinkan’ oleh Konsulat Belanda menjadi pembimbing bagi rombongan haji dari Malaka, Ambon, dan Madura.

Pembimbing Haji (Mutawwifin) dari Banten masa Kolonial (1870-1942)

Tiga generasi keluarga Mutawwif (1884-1950)

Dari nama-nama mutawwifin tersebut terdapat nama dari keluarga besar yang sebagian besar anggota keluarganya bekerja menjadi mutawwif ketika musim haji tiba. Beberapa keluarga melestarikan tradisi pekerjaan sebagai mutawwif paling tidak selama tiga generasi.

Dalam laporan kolonial tahun 1884-1885 disebutkan bahwa pada masa mudanya, Syekh Nawawi juga pernah menjadi sebagai mutawwif. Hanya saja tidak ada informasi mengenai fakta berapa musim haji beliau bekerja sebagai mutawwif.

Menurut pegawai Konsulat Belanda tahun 1940, semua anak-anak Syekh Abdul Karim, ketika musim haji tiba, bekerja menjadi mutawwif atau petugas pembimbing haji. Jika sebagian besar mutawwifin yang menyandang nama Nawawi kita anggap sebagai anak keturunan Syekh Nawawi (no. 1, 11, 28, 29, 30), nampaknya bahwa clan Nawawi, paling tidak sampai tahun 1950, bekerja sebagai mutawwif atau pembimbing haji.

Anak-anak Syekh Abdul Karim adalah Ahmad dan Abdullah. Menurut sumber kolonial, semua putera dari Ahmad bekerja sebagai mutawwifin dan kemungkinan sebagian besar tinggal di Mekah.

Sementara itu anak-anak dari Abdullah tidak ada yang dilaporkan menjadi mutawwif. Dalam salah satu arsip kolonial, disebutkan seorang perempuan bernama Nyi Aminah, berumur 25 tahun dan tinggal di Tanara, puteri dari Abdullah bin Abdul Karim Tanara. Namun dalam dokumen tersebut tidak disebut-sebut pekerjaannya sebagai mutawwif.

Dalam dokumen yang sama juga disebutkan istri dari Abdullah bin Abdul Karim, Nyi Suriah, usia 50 tahun dan tinggal di Tanara. Jika melihat tempat tinggal dua individu, anak dan istri Abdullah, kita dapat mengambil kesimpulan tentatif bahwa generasi ketiga Abdul Karim dari garis Abdullah, umumnya tinggal di Tanara dan tidak bekerja sebagai mutawwif.

Dengan membaca ribuan lembar arsip haji di Belanda dapat disimpulkan bahwa setidaknya terdapat empat famili yang konsisten melestarikan pekerjaan menguntungkan ini. Ketiga famili tersebut masing-masing adalah Bani Tamim (Tanara), Bani Alwan (Tanara), Bani Jaha dari Anyer, dan Bani Ali Trengganu dari Serang.

Bani Tamim

Bani Tamim merujuk kepada Tamim bin Omar Tanara. Saudara Syekh Nawawi ini lahir di Tanara dan ketika kecil mengaji di bawah bimbingan ayahnya, Omar bin Arabi. Sama seperti saudara-saudaranya yang lain, ia kemungkinan juga belajar di KH. Sahal Tanara dan KH. Yusuf Purwakarta. Di Mekah, ia memperdalam dirasah islamiah di bawah bimbingan ulama-ulama besar ketika itu.

Meskipun penguasaan ilmu pengetahuannya tidak sekomprehensif kakaknya, ia menguasai bahasa Arab dengan baik. Selain kepada pengajaran, beliau juga memiliki kecenderungan untuk berdagang. Konon katanya ia pernah menjalankan usaha travel haji yang ber-basecamp di Singapura. Pada musim haji, ia bekerja sebagai mutawwif.

Ia pernah berprofesi sebagai pembimbing haji yang memiliki kantor agen yang ber-base camp di Singapura. Nama besar kakaknya membantunya dalam pengembangan usahanya sebagai travel agent dan sekaligus mutawwif yang populer di kalangan peziarah haji dari Nusantara.

Ketika kapal uap men-dominasi rute Batavia-Jeddah, ia kehilangan pekerjaannya, kemungkinan karena sepinya pelanggan. Setelah itu kemudian ia kembali ke Mekah dan mengikuti jejak kakaknya dengan mengajar ngaji di rumahnya di Mekah. Arshad bin Alwan adalah salah seorang santri yang kemudian menjadi ulama kesohor di Mekah yang pernah dibimbingnya.

Konon karena kondisi keuangannya yang semakin memburuk, pada tahun 1885 ia memilih pindah ke Penang. Tidak ada penjelasan pekerjaan apa yang ia tekuni di sana dan tinggal sampai berapa lama. Dalam sumber kolonial disebutkan bahwa Tamim dilarang oleh Pemerintah Kolonial untuk tinggal di Banten.

Dalam ratusan lembar arsip haji dapat dikumpulkan informasi bahwa beberapa anggota keluarga Tamim bekerja sebagai mutawwif. Syamsiah Tamim, Murad Tamim, Salman Tamim adalah tiga nama dari famili Tamim yang tercatat di Konsulat Belanda sebagai mutawwif.

Menjadi mutawwif adalah pekerjaan yang diregistrasi oleh Konsulat Belanda di Jeddah. Selain mendapatkan upah resmi dari Konsulat Belanda, para mutawwif juga terkadang menjalankan pekerjaan sebagai badal haji, pengganti bagi mereka yang sudah meninggal.

Dalam catatan kolonial antara tahun 1884-1940 terdapat setidaknya lima mutawwif dari Banten yang memakai nama Tamim. (1) Tamim bin Omar sendiri, (2) Hilmi Tamim, (3) Murad bin Hilmi Tamim, (4) Sulaeman Tamim, (5) Samsiah Tamim. Tamim no. 2 kemungkinan adalah putera dari Tamim no. 1. Sementara Tamim no. 3, 4, dan 5 adalah putera-puteri dari Tamim no. 2. Asal rombongan haji yang mereka bimbing juga konsisten, yaitu dari Banten. Namun demikian, dalam satu arsip catatan Konsulat Belanda, disebutkan bahwa selain dari Banten, Samsiah Tamim (no. 5) juga menjadi mutawwif rombongan haji dari Ambon.

Bani Alwan

Di antara keluarga ulama Banten yang anak keturunannya menjadi pembimbing haji atau mutawwif adalah Arshad bin Alwan yang tinggal di Mekah sampai akhir hayatnya. Ulama besar dari Tanara ini memiliki keturunan yang hampir semuanya tinggal di Mekah.

Dalam arsip haji kolonial antara tahun 1930-1945, muncul beberapa nama mutawwif yang menyandang nama Alwan, dan semuanya diidentifikasi oleh staf Konsulat sebagai mutawwifin yang berasal dari Banten: Ahmad Alwan, Abdus Syukur Alwan dan Haji Sidiq Alwan.

Haji Sidiq Alwan meninggal bersama istrinya, Hj. Asnati, ketika melaksanakan ibadah haji tahun 1933. Keduanya meninggalkan 3 puteri dan 1 putera yang masing-masing bernama: Maymunah (l. 1930), Hafsah (l. 1927), Fatimah (l. 925), dan Muhammad (1922). Pada tanggal 2 April 1934, keempat anak almarhum kemudian dipulangkan ke Banten dan akan diurus oleh saudara laki-laki Hj. Asnati.

Bani Jaha

Klan lain yang anggotanya, paling tidak selama tiga generasi menjadi mutawwif adalah Bani Jaha, yang kemungkinan besar berasal dari Anyar. Bani Jaha adalah anak keturunan Ki Jaha, yang kemudian namanya diabadikan menjadi nama Kampung Jaha di daerah Anyer Serang.

Penulis tidak berhasil memperoleh informasi apakah Ki Jaha pernah tinggal di Mekah. Sumber sezaman (tahun 1884) hanya menginformasikan keberadaan Syekh Ahmad Jaha yang lahir tahun 1855 dan tiba di Mekah tahun 1879. Ia tinggal dan menikah di Mekah. Penulis tidak tahu persis berapakah putera dan puteri Ahmad Jaha.

Dalam arsip-arsip registrasi yang dilakukan oleh Staf Konsulat Belanda di Jedah antara tahun 1905-1942, selain Ahmad Jaha, terdapat beberapa nama yang menyandang nama keluarga Jaha: Syukur Jaha, Umar Jaha, Jasir bin Umar Jaha, ismail Jaha, Halimi Jaha, Mumin Jaha. Nama-nama tersebut dirujuk dalam sumber-sumber kolonial antara tahun 1884-940 sebagai mutawwifin. Sampai tahun 1949 anggota clan ini nampaknya masih exist di Mekah. Dalam arsip kolonial (tahun 1949) disebutkan bahwa Mustafa Jaha tinggal di Mekah dan bekerja sebagai mutawwif.

Bani Ali Trengganu

Klan lain yang dapat kita golongkan konsisten selama tiga generasi bekerja sebagai ‘tenaga musiman’ adalah clan Trengganu. Dalam arsip kolonial disebutkan bahwa ayah M. Trengganu adalah Ali yang informasi geneologisnya belum berhasil penulis temukan.

Dalam arsip kolonial M. Trengganu selalu disebut sebagai mutawwif dari Banten. Meskipun namanya sangat ‘malaysia’ ternyata anggota clan ini berdarah Banten dan bekerja sebagai mutawwifin yang membimbing jamaah haji dari Banten. Jamilah Trengganu membimbing rombongan haji yang berasal dari Banten dan Malaka. Maryam binti M. Trengganu juga muncul dalam sumber kolonial tahun 1928 dan dirujuk sebagai mutawwif yang terdaftar di Konsulat Belanda di Jeddah.

Tentu saja masih banyak clan-clan yang lain yang mampu melestarikan tradisi menjadi mutawwif paling tidak selama tiga generasi. Tradisi menjadi mutawwif juga berjalan di keluarga Muhammad Nur dari Labuan. Hal ini terbukti bahwa putera dan puterinya: Ahmad dan Aminah pada tahun 1930-1949 tercatat dalam arsip haji kolonial sebagai mutawwifin. Begitu pula dengan Misbah, mutawwif dari Tanara. Catatan Konsulat Belanda menyebut Ahmad Misbah dalam daftar mutawwifin antara tahun 1930-1940.

Penulis meyakini bahwa anak keturunan sebagian besar mutawwifin generasi Syekh Nawawi juga mendapatkan lisensi untuk menjadi mutawwifin. Penelitian terhadap sumber dan arsip kolonial tahun 1884-1950 membuktikan bahwa tradisi menjadi mutawwif pada generasi tahun 1880-an dilanjutkan oleh anak keturunannya kemudian.

Selain pekerjaan menjadi mutawwif mendatangkan uang yang cukup membiayai hidup sendiri selama setahun, terkadang pilihan terhadap mutawwif tertentu dilakukan bukan oleh Konsulat Belanda di Jedah melainkan atas permintaan jamaah haji sendiri.

Nama mutawwif sudah dikenal oleh para jemaah calon haji sejak menjelang keberangkatan dari tanah air. Calon haji biasanya sudah menentukan siapa yang akan menjadi mutawwif-nya selama di Tanah Hijaz. Tiga generasi suatu clan jemaah calon haji, biasanya, mengangkat mutawwif dari klan mutawwifin yang sama selama puluhan tahun. (Penulis, Peneliti Sejarah dan Kebudayaan Banten, Sultan Abul Mafakhir Institut)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here