Kasus Peredaran Gula Rafinasi, Pejabat PT PDSU Jadi Tersangka

CILEGON, (KB).- Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri bersama Dirjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga pada Kementerian Perdagangan tengah mengungkap peredaran gula rafinasi secara ilegal di pasar-pasar wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Polisi menangkap dua orang tersangka pelakunya yaitu, KPW diduga  sebagai calo penyalur gula rafinasi, dan TW, seorang pejabat PT Permata Dunia Sukses Usaha (PDSU). Keduanya sedang diperiksa sebagai tersangka beredarnya gula khusus industri makanan dan minuman.

Wakil Direktur (Wadir) Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Tipideksus) Bareskrim Polri Kombespol Daniel Tahimonang Silitonga mengatakan, KPW ditangkap Jumat (14/9/2018) lalu di Jawa Tengah. Sementara TW ditetapkan sebagai tersangka sebagai hasil pengembangan kasus KPW. “KPW sudah kami tahan, tapi TW tidak ikut ditahan meskipun telah kami tetapkan sebagai tersangka,” ujarnya saat konferensi pers tindak pidana penyalahgunaan distribusi gula rafinasi, di Kantor PT PDSU di Ciwandan, Kota Cilegon, Kamis (20/9/2018).

Selain ekspose, Bareskrim saat itu juga menyita 340 ton gula rafinasi. Gula-gula tersebut rencananya akan dikirim ke KPW. “Karena asal gula rafinasi dari PT PDSU, ada 340 ton gula rafinasi yang belum terkirim kami sita. Kami juga sudah menyita kurang lebih 100 ton gula rafinasi dari warung-warung dan kios di Jawa Tengah,” ujarnya.

Daniel menerangkan modus operandinya, dimulai dari KPW yang tidak memiliki perusahaan ini menggunakan bendera perusahaan milik S, seorang pengusaha Usaha Kecil Menengah (UKM) di Purworejo, Jawa Tengah, untuk memesan gula rafinasi. Awalnya, KPW menjalin kontrak 6000 ton per tahun untuk disalurkan ke sejumlah industri di Jawa Tengah. “KPW ini pakai bendera S untuk pesan ke PT PDSU. Dia punya link tapi tidak punya perusahaan,” katanya.

Namun diluar sepengetahuan S, KPW juga mendistribusikan gula rafinasi ke warung-warung dan kios di sejumlah pasar di Jawa Tengah mulai 2016. Mendapati usaha ilegal ini sukses, KPW bersama TW sepakat untuk menambah kuota. “Tanpa sepengetahuan S lagi, KPW menambah kuota dari 6000 ton per tahun menjadi 60 ribu ton per tahun. Disini muncul tindak pidana pemalsuan dokumen,” ujarnya.

Pada 2018, akal-akalan KPW dan TW tercium ketika S kaget karena mendapati kewajiban untuk membayar pajak pemesanan 60 ribu ton gula rafinasi hingga miliaran rupiah. Merasa ada indikasi penipuan, S pun melapor ke pihak kepolisian. “Disaat yang sama, asosiasi pedagang gula di Jawa Tengah resah akan beredarnya gula rafinasi di pasaran. Ini mengganggu stabilitas harga gula, mengingat gula rafinasi harganya jauh lebih murah,” terangnya.

Bareskrim Polri dan Dirjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga pun menangkap isu-isu keresahan ini. Bekerja sama dengan kepolisian setempat, KPW dipanggil untuk dimintai keterangan, pekan lalu. “KPW memenuhi panggilan polisi. Setelah melalui pemeriksaan, ia langsung ditetapkan sebagai tersangka,” ucap Daniel.

Ia menuturkan, kemungkinan besar jumlah tersangka akan bertambah. Perusahaan yang terlibat dalam operasi penyebaran gula rafinasi ilegal pun, diduga tidak hanya melibatkan PT PDSU. “Kami curiga TW merangkul sejumlah perusahaan gula rafinasi lain. Ini untuk memenuhi kuota 60 ribu ton gula rafinasi yang dipesan KPW,” ujarnya.

Atas kejahatan ini, KPW dan TW telah melanggar Pasal 106 Jo Pasal 24 ayat (1) UU Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan. Kemudian Pasal 62 Jo Pasal 8 Ayat (1) UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen dan atau Pasal 263 ayat (1) dan (2) KUHP dan atau Pasal 3 No 8 Tahun 2010 tentang TPPU Jo Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP. “Ancamannya antara 5 tahun hingga 10 tahun,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Keamanan PT PDSU Anwar enggan memberikan komentar. Ia hanya mengatakan jika pihak manajemen menyerahkan segala persoalan ke pihak Bareskrim Polri. “Ini kan masih dalam tahap penyidikan, kami tidak ingin komentar apa-apa. Intinya kami menyerahkan segala sesuatunya kepada pihak terkait,” ucap Anwar. (AH)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here