Minggu, 23 September 2018

Kasus Kekerasan Seksual terhadap Anak Tinggi

SERANG, (KB).- Kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak di Kabupaten Serang tinggi, hingga 8 Februari 2018 sudah ada 12 kasus yang dilaporkan. Terakhir kasus di Kecamatan Kopo dugaan pencabulan belasan santri di bawah umur oleh gurunya.

Untuk mencegah terjadi kasus serupa, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang melalui Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKBP3A) Kabupaten Serang melakukan upaya pencegahan dengan memberikan sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat. Untuk korban, DKBP3A juga memberikan pendampingan dalam penanganan kasusnya serta memberikan pendampingan psikologis. Termasuk untuk korban pencabulan di Kecamatan Kopo.

Kepala Bidang Perlindungan Anak dan Perlindungan Perempuan DPKBP3A Kabupaten Serang Iin Adillah mengatakan, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak semakin memprihatikan. Bahkan dapat disebut sudah darurat kekerasan khususnya bagi anak-anak. ”Di 2018 ini saja sudah ada 12 kasus yang dilaporkan, dan itu baru jumlah kasusnya kalau korbannya lebih banyak karena satu kasus ada yang lebih dari satu korban, seperti terakhir di Kecamatan Kopo 17 korban,” katanya, Kamis (8/2/2018).

Selain kekerasan seksual, kata Iin, kasus yang terungkap di antaranya pembuangan bayi di Cinangka, pemerkosaan anak di bawah umur di Cikeusal. Kemudian, ada juga kekerasan terhadap perempuan di Ciomas, Ciruas, Bandung . ”Di 2017 itu, total kasus sebanyak 81 kasus, 59 kasus kekerasan terhadap anak, rata-rata kekerasan seksual terhadap anak, dan 22 kasus kekerasan terhadap perempuan,” ujarnya.

Sementara terkait kasus dugaan pencabulan di Kecamatan Kopo, Iin mengatakan, pihaknya juga melakukan pendampingan terhadap para korban. ”Kita pendampingannya baik saat di kepolisian, kejaksaan serta saat sidang di pengadilan. Kemudian kalau korban perlu psikolog, maka nanti ada psikolog dari P2TP2A,” tuturnya.

Iin mengatakan, DKBP3A juga melakukan upaya preventif, kuratif dan rehabilitatif di masyarakat lewat sosialisasi, penyuluhan, pemasangan baliho, bahkan ada yang langsung ke sasaran seperti di sekolah, di kecamatan. ”Kami beri pemahaman ke masyarakat agar jangan ada kasus kekerasan, dan masyarakat juga jangan takut melaporkan kalau ada kejadian, jangan takut diancam pelaku,” ujarnya.

Kepala DKBP3A Kabupaten Serang Oyon Suryono mengatakan, dirinya telah menugaskan P2TP2A untuk mengecek korban dan mendampingi dalam proses hukumnya. Kemudian agar anak tidak mengalami trauma parah, pihaknya juga memberikan pendampingan psikologi. (YY)***


Sekilas Info

47 Desa di Kabupaten Serang Terdampak Kekeringan

SERANG, (KB).- Sebanyak 47 desa di 11 kecamatan di Kabupaten Serang kesulitan mendapatkan air bersih, karena …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *